
Sepertiga malam, Mert kembali tidak ada jawaban atas keluhanya. Ia juga tidak tau bernaung kemana. Mert pria dewasa tapi selama dua tahun ini hidupnya hanya di habiskan di kapal. Jadi tidak ada tempat untuknya untuk bercerita.
Kenan menghela napas panjang, begitu melihat Mert kembali ia lega. Pria itu tidak tidur, menunggu dengan rasa cemas.
"Kau sudah kembali, Boy?"
"Mmm," Mert melewati Kenan, ia bergegas menaiki anak tangga.
"Dengar Mert, besok sore kita akan berlayar." Mert berhenti di tengah tangga. Ia berbalik melihat Kenan yang ada di bawah tangga.
"Kenapa mendadak? Bagaimana dengan pernikahan itu? tanya Mert, ada sedikit binar di matanya. Mert berharap pernikahan itu tidak pernah terjadi.
"Kita adakan di kapal saja, Abizard sudah menyiapkan segalanya. Pernikahanmu juga akan di percepat."
"Uhhh ...," Mert kembali menaiki anak tangga, napasnya berat. Ia kecewa.
"Siapkan dirimu, Boy." Mert masih mendengar Kenan berteriak sebelum ia menutup pintu kamarnya.
Mert menghempaskan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar berlukiskan langit gelap dipenuhi bintang.
Mert tersenyum, kemudian ia bangun dan melangkah ke meja kerjanya. Mencari kartu nama itu, Dahi pria tampan penuh pesona itu berkerut. Ia ingat kartu itu ia letakkan di atas Keyboard laptopnya. Lalu kemana benda kecil bewarna hitam itu?
Mert mengangkat laptop itu ke atas kasur, ia bersandar santai sambil mencari-cari tahu tentang Adara. Mert penasaran kemudian turun dari tempat tidur hendak mengambil sketsa wanita dalam mimpinya.
Tidak ada di atas meja, Mert menggaruk rahangnya. Ia kesal sembari kembali ke ranjang. Menghidupkan ponsel dan mencari sketsa yang tersimpan di dalam benda itu.
Lama ia mengamati kedua gambar itu, membandingkan. Sketsa itu memang tidak memastikan kalau itu Adara tapi jika dilihat dengan teliti 85 persen kesamaanya.
Mert menghentikan tangannya, ia kepikiran kenapa mereka mendadak berlayar dan bukankah persiapan pernihakannya dengan Ipek sudah 70 persen. Ipek bahkan menginginkan berbulan madu ke erofa kalau saja ia tidak menolak.
Ada yang aneh ... Mert bingung di buatnya. Ia menghempaskan tubuhnya dan mengabaikan Laptop itu terjatuh ke sampingnya.
______________________________________________
Setelah kembali dari kota pesisir, Adara langsung ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan Illy dan beruntung Illy baik-baik saja.
"Kau tahu aku nyaris berhenti bernapas." kata Adara pada Emre saat ia menemui Emre di ruang kerjanya. Adara menceritakan apa yang terjadi pada Illy.
Illy bermain dengan bonekanya diruangan itu. Emre suka sama Illy, gadis kecil itu rama dan menggemaskan.
"Harusnya kau membawaku," Emre terkekeh, ia bahkan tidak tahu kalau Adara pergi berlibur.
"Sebagai apa? "
"Entahlah, mungkin sebagai ayah Illy." Adara berdecak.
"Tersenyum Dara, kau bahkan kelihatan tua sekarang." Goda Emre, mengusap kepala Adara lembut.
"Empat puluh?" Spontan Emre terbahak, Adara bahkan serius menanggapi candaanya.
"Sudah kuduga, akhir -akhir ini aku banyak pikiran."
"Kau sangat lelah, itulah kenapa wajahmu berkerut." ucap Emre, "jadi kapan kau akan mencintaiku?"
"Nanti di kehidupan berikutnya, itupun kalau ada." Adara bangun dari duduknya tapi tertahan oleh tangan Emre.
"Aku berharap kehidupan kedua itu ada, dan kau harus jatuh cinta padaku." ucap Emre dengan tatapan serius. Adara merasa canggung.
"Aku pergi," ucap Adara, Emre melepaskan tangannya dan menipiskan bibir pada Adara.
"Illy beri salam pada paman," ucap Adara.
Illy langsung menghambur kepelukan Emre. Pria itu melemparnya ke atas hingga terdengar cekikikan Illy.
"Baiklah, tuan putri sampai bertemu lain waktu." kata Emre, mengusap kepala Illy.
"Paman, aku mencintaimu."
"Oh ...manisnya, andai Mommymu yang mengatakan itu." Emre melirik dimana Adara berdiri menunggu. Wanita itu datar saja tanpa ekspresi. Hati paman pasti serasa di taman bunga.
Pagi hari Adara langsung ke kantor, ia melihat Anatha sudah duduk di meja kerjanya. Anatha menyapa dan bergegas membukakan pintu untuk Adara.
"Panggilkan Mete untukku." katanya, meletakkan tas mahal yang ia jinjing di meja kerjanya.
"Baik bu," Anatha segera melakukan perintah Adara.
Tidak lama kemudian, Mete mengetuk pintu dan masuk setelah mendengar sahutan Adara.
"Duduklah!" tanpa melihat Adara sudah tahu kalau pria itu yang datang. Pria itu menurut, ia sedikit takut apalagi semenjak Adara tahu kalau Mete pernah menguntitnya atas perintah Rion.
"Pergilah ke kota ini, dan cari tahu tentang pria yang bernama Mert. Sedetail mungkin dan jangan sampai ada yang tahu tentang ini." perintah Adara "Termasuk Mert dan sekelilingnya." perintahnya sembari memberikan kertas kecil berisi alamat pada Mete.
"Apa ada photonya, bu?"
"Tidak ada, kau kesana saja dan tanyakan pada pelayan resort siapa Mert. Jangan terkejut saat melihatnya. Lakukan seperti kau menguntitku dulu." ucap Adara dengan nada datar dan tatapan menusuk. Mete mengangguk.
"Tunangannya bernama Ipek, kau boleh mulai dari perempuan itu."
"Apa aku akan merayunya, Bu."
"Bukanya kau sudah menikah?" Mete kembali gugup sambil menunduk. Ia salah berucap.
"Kabari aku apapun yang kau dengar mengenai pria itu, pergilah naik pesawat. Segala keperluanmu sudah di atur Anatha."
"Baiklah, bu." ucap Mete lalu keluar dari ruangan itu.
______________________________________________
Pesawat yang ditumpangin Mete akhirnya tiba, pria itu mengenakan kaca mata hitam membingkai mata coklat jernih miliknya.
"Kadang-kadang hidup memang menyenangkan meski pahit lebih mendominasi." Ucap Mete, ia berdecak perannya dalam kisah ini hanya jadi penguntit padahal seharusnya dia bisa jadi pemeran utama melihat wajahnya yang tampan melebihi Rion, atasannya itu.
Sesampainya dia di kamarnya ia menyibak tirai kamarnya untuk mendapatkan cahaya matahari.
"Tuan, Mete." panggil seorang perempuan dari pintu, Mete menolehkan kepala.
"Ya," jawab Mete, ia menghampiri perempuan itu.
"Selain fasilitas kamar kami juga menyediakan pijat, apa tuan Mete ingin mencobanya?" suara gugup dari perempuan itu terdengar seperti menggoda Mete.
"Oh, Baiklah, nanti aku hubungi." jawab Mete dan diangguki perempuan berambut coklat dengan wajah kecil membingkai wajahnya.
"Tunggu." Mete menghentikan langkah kaki perempuan itu. Mete menghampiri dan menarik perempuan itu masuk dan mengunci pintu kamar. Perempuan bertubuh mungil itu terkesiap dan gugup.
"Kalau kau yang memijit aku mau." Mete mencondongkan tubuh tingginya pada perempuan itu, tampak menggoda dengan senyum maut kesukaan para wanita.
"A-aku hanya pelayan, Tuan. Akan aku panggilkan—" suara gugup perempuan itu membuat Mete terenyuh. Ya tidak seharunya begini tapi si Adara Bos besar sialan itu menyuruhnya harus mendapatkan informasi mengenai Mert. Mungkin ia akan memulai dari perempuan pemalu ini.
"Kemarilah." kata Mete, menarik tangan perempuan itu duduk ditepi ranjang. "Apa kau mengenal Mert?" tanya Mete dengan suara pelan. Perempuan itu mengangguk.
"Apa dia orang penting?" Tanya Mete lagi.
"Putra yang punya tempat ini, Tuan Mete."
Apa Ibu Adara menyuruhku menguntit pria yang ia sukai? Astaga, sangat susah cari duit di dunia ini hingga kerja beginipun harus aku lakonin.
"Apa dia tampan?" Perempuan itu mengangguk.
"Boleh aku tahu seperti apa orangnya?"
"Kenapa tuan ingin tahu tentang tuan Mert? Hari ini dia akan pergi berlayar dan mengadakan pesta pernikahannya disana."
Mete tersenyum, jadi Ibu Adara di abaikan, cinta sepihak.
"Bawakan aku photo pria itu aku akan memberimu ciuman."
"Eh?" gugup, penuh harap.
Mete terkekeh, " Aku akan memberimu uang." katanya dengan senyum jenaka.
"Untuk apa foto itu, Tuan Mete?"
"Aku akan mencetakkanya dan memajangnya di kamarku." Sedetik kemudian perempuan itu muak berpikir kalau Mete pria kelainan sek.
"Baiklah tuan, aku akan mengambil fotonya tapi jangan lupakan janji Tuan masalah uangnya." kata perempuan itu, bangun dari duduknya dan melangkah keluar.
Mete tersenyum, sangat muda membuat wanita itu pergi darinya. Astaga padahal aku sangat tampan. gumamnya.
_____________________________________________
Mert masih tertidur saat Ipek masuk kedalam kamarnya. Ipek melihat laptop milik Mert yang tergeletak begitu saja. Ia merapikan dan meletakkan di atas meja. Kemudian kembali menatap lekat Mert. Ia menikmati setiap inci wajah Mert dengan tatapannya.
Mert tetaplah jadi Mert, aku ingin kau hidup sebagai Mert bukan sebagai Rion. Aku mencintaimu.
Tanpa sadar Ipek menyentuh wajah Mert dan membelai rahang pria itu.
Mert membuka matanya, dan bersitatap dengan Ipek. "Apa yang kau lakukan disini?" gumam Mert, menggulingkan tubuhnya menjauh dari Ipek.
"Kita akan berangkat, aku sudah menyiapkan semua perlengkapanmu." Gumam Ipek.
"Keluarlah Ipek, aku ingin berlari sebentar." ucap Mert mengusir Ipek.
"Ini sudah tidak pagi, Mert. Ini sudah jam sebelas siang."
"Aku tahu itu, enam bulan lagi baru balik ke daratan. Jadi sebelum berangkat aku harus menikmati suasana pantai dulu."
"Mert, kita kan di laut." Ipek menautkan alisnya.
"Seharusnya kau menurut. Dasar calon istri pembangkang." sungut Mert, meninggalkan Ipek sendirian disana.
Mert berlari di bibir pantai, dengan tubuh setengah telanjang, punggungnya dibiarkan dibakar matahari dan disaat bersamaan Mete berjalan santai di pantai.
Mete melepaskan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya. Mete merasa tak asing pada sosok yang sedang jongging di hadapannya. Langkah itu semakin dekat dan mereka berpapasan. Mete menangkap sosok Rion dengan matanya dan refleks mulutnya bergerak tanpa bisa di kendalikan.
"Pak Rion."
Bersambung ...
Terima kasih masih di Obsessive Loves. Alurnya santai ya, agak panjang tapi aku harap jangan bosan. Nggak lama lagi kok mereka ketemu.
Makasih vote, like dan ulasan kalian. salam hangat dariku.
Kirei