
Karena keributan itu, akhirnya membuat Vince dan Jasper menjadi pusat perhatian di acara itu.
"Seharusnya kau tak membuat keributan, Jasper," ucap Owen dengan menatapnya tajam..
Vince tak bisa menahan emosinya yang kini memenuh hatinya. Cecile langsung berlari menghampiri Vince dan memeluknya ketika Vince ingin menyerang Jasper lagi.
"Vin, tenanglah," bisik Cecile di telinga Vince sembari mengusap punggung serta tengkuk leher Vince.
Vince tak bisa menerima perkataan Jasper tadi yang sudah menyangkut nama Cecile di dalamnya.
Lalu Vince merengkuh pinggang Cecile dan memeluknya. Cecile masih memeluk Vince dan perlahan membuat Vince menjauh dari sosok pria tua itu.
"Semoga pernikahanmu lancar, Son," kata Jasper dengan suara sedikit keras.
Seketika Cecile tahu siapa yang sudah membuat Vince emosi. Lalu Cecile melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Vince sembari menatap mata birunya.
"Tenanglah, anggap saja dia tak ada meskipun dia berbicara di depanmu. Abaikan dia," bisik Cecile kemudian mengecup bibir Vince.
"Aku ingin pergi dari sini," ucap Vince.
"Hmm, kita pergi dari sini. Tetapi kau akan dipandang lemah oleh pria tua itu," kata Cecile.
Lalu Cecile menggandeng tangan Vince dan melewati Jasper tanpa melihat ke arahnya sama sekali.
Dan para tamu undangan tampak melihat ke arah Jasper yang kini menjadi pusat perhatian karena bertengkar dengan sang putra di depan umum.
"Kalian duduk di sini saja," ucap Mona yang menyediakan kursi VVIP untuk Cecile dan Vince.
Cecile mengangguk dan tangannya masih menggenggam tangan Vince.
Vince mengumpat pelan dan Cecile mengusap punggung tangannya.
Jasper tampak duduk di kursi yang sedikit jauh dari tempat duduk Vince.
"Aku tak suka dengan sikapmu yang kekanakan itu," ucap Mia kesal dengan berbisik pada Jasper.
"Kau bisa pergi jika merasa malu," jawab Jasper.
Cecile terlihat menciumi punggung tangan Vince yang bertujuan untuk meredam emosinya pada Jasper.
Tak hanya Mia yang melihat hal romantis itu. Beberapa tamu undangan juga melihat ke arah mereka dan menyimpulkan bahwa Vince begitu beruntung memiliki kekasih seperti Cecile yang bisa meredam emosi pasangannya.
Berbeda dengan Mia yang sama sekali tak bisa menjadi penengah antara Vince dan ayahnya.
"Aku benar-benar tak bisa berada di sini." Vince tak menyentuh sama sekali makanan yang sudah dihidangkan di mejanya.
"Apa perlu kusuapi?" tanya Cecile yang tampak lahap memakan makanan lezat di depannya.
"Kau benar-benar lapar ya?" ucap Vince berdecak.
"Hmm, aku sangat lapar, Vin. Ayo, kau harus makan juga agar bisa menghadapi pria tua itu," jawab Cecile.
Vince tertawa pelan. "Tanpa makan pun aku bisa menghadapinya dengan mudah," ucap Vince.
"Good, nanti aku juga akan membantumu," kata Cecile dengan senyum lebarnya.
Cecile kemudian menyuapkan sesendok puding pada Vince.
"Buka mulutmu, Baby," kata Cecile pelan.
"Kau pikir aku bayi?"
"Kau akan menjadi bayi besarku beberapa hari lagi. Ayo buka mulutmu," ucap Cecile tersenyum cantik dan genit.
"Aku benar-benar ingin meremas wajah centilmu itu," kata Vince yang akhirnya membuka mulutnya dengan terpaksa.
Cecile tertawa pelan. "Oh ya, itu istri ayahmu?" tanya Cecile.
"Dia bukan ayahku. Dia hanya laki-laki yang kebetulan menyumbangkan sperrmanya ke dalam rahim ibuku," jawab Vince yang justru membuat Cecile tertawa.
"Jangan membahasnya atau pun istri laknaatnya itu," ucap Vince pedas.
"Oke, Baby. Ayo kusuapi lagi." Cecile menyendokkan lagi pudingnya pada calon suaminya dan Vince dengan santainya menerima suapan itu.