
Thea mengumpat keras dan Jared mendengarnya. Thea tampak berlari mengejar seseorang dan hal itu membuat Jared juga berlari mengejar Thea.
Thea tak menyangka di sini masih ada pencuri yang berkeliaran. Thea mengejar pencuri itu dengan sekuat tenaga.
"HEIII BERHENTI BANGSAATTT!!!" umpat Thea dengan berteriak yang menjadi perhatian orang-orang di sana.
Pencuri itu tampak keluar dari area stasiun dan menyeberang jalan lalu masuk ke sebuah lorong.
Thea masih mengejarnya dengan secepat kilat. Jared memotong jalan dan menyeberang dari sisi kanan lalu masuk ke lorong yang berbeda.
Hingga di ujung lorong, pencuri itu melemparkan tas itu pada kedua temannya yang menunggu di sana.
Pencuri itu berhenti dan mencegat Thea. Thea tak berhenti dan tetap berlari.
Pencuri itu tampak bingung melihat Thea yang berlari ke arahnya semakin kencang hingga akhirnya Thea melompat sambil mengangkat kakinya dan menendang telak wajah pencuri itu hingga pencuri itu terkapar dengan hidung bersimbah darah.
"Hanya seperti ini? Tak menarik," gumam Thea yang kemudian kembali berlari mengejar dua teman pencuri itu.
Di persimpangan jalan yang kosong dua pria itu berbelok ke kiri dan ternyata Jared sudah menghadangnya.
Salah satu pria mengeluarkan pisaunya dan mengarahkan pada Jared. Jared menahan tangan pria itu dengan cukup mudah dan memelintir tangannya hingga pisau itu terjatuh.
Thea yang baru saja berbelok ke arah lorong itu langsung memukul dan menendang pria yang membawa tasnya itu.
"Kau memilih lawan yang salah, Brengseeekk!!" bentak Thea.
"A-ampuni kami, Tuan. Kami hanya ingin makan." ucap pria itu.
"Makan? Kalian bisa bekerja di kota yang besar ini dan banyak lapangan pekerjaan di sini," ucap Jared.
Jared memeriksa kantong celana salah satu pria dan menemukan kantong plastik kecil yang terdapat sisa serbuk putih di sana.
"Kalian pemakai," gumam Jared.
"Hentikan sekarang atau kalian akan mati perlahan karena ini," ucap Jared.
"Tentu saja tidak," jawab Jared tersenyum dan mengambil ponselnya lalu menelepon polisi.
Mereka pun menunggu polisi datang untuk menyerahkan ketiga pencuri tadi.
Akibat insiden itu, mereka harus menunda keberangkatan mereka dua jam lagi untuk menunggu kereta selanjutnya datang.
"Menyebalkan sekali," kesal Thea yang membuat waktunya terbuang percuma karena pencuri tadi.
Jared hanya tertawa dan menggandeng tangan Thea menuju sebuah cafe untuk menunggu waktu kereta datang.
Mereka sama-sama memesan kopi dan croissant lalu duduk di cafe itu. Jared mengambil kotak obat di ranselnya dan membuka tangan telapak tangan Thea yang sedikit tergores.
Jared meniup obat yang sudah di berikan di atas lukanya lalu setelah kering, menutupnya dengan plester.
"Kau manis sekali. Membuatku ingin bercinta denganmu di meja ini," ucap Thea berbisik.
Jared hanya tertawa kecil saja mendengar ucapan vulgaar dari istrinya itu.
"Kita bisa melakukannya di kereta nanti," jawab Jared.
Thea tersenyum usil dan kemudian mencium bibir Jared.
"Bajuku penuh keringat. Aku butuh baju baru," kata Thea.
"Bukankah kita membawa dua potong baju? Pakai itu saja," jawab Jared.
"Tapi kita butuh satu lagi, Honey. Karena kita akan berkeringat lagi di dalam kereta, bukan?" ucap Thea.
Jared menangkup pipi Thea hanya dengan satu tangannya dan menyesap bibir Thea karena selalu gemas dengan bibir yang selalu mengeluarkan kata-kata mesuum itu.
"Bersabarlah, tinggal satu jam lagi kita masuk ke dalam kereta," Thea mengerlingkan matanya pada pria tampan itu.