
"Apakah masih lama, Kak?" tanya Joan yang sudah kebosanan di dalam mobil.
"Dua jam lagi," jawab Vince.
Lalu Joan menengok ke belakang dan melihat Cecile tidur dengan nyenyaknya.
"Enak sekali dia tidur," gumam Joan dan memegang bahu Cecile.
"Cecile, bangunlah," kata Joan.
Cecile masih tak menjawab. "Cecile!!" panggil Joan agak keras dengan mengguncangkan bahunya.
Cecile langsung terbangun dan sedikit kaget. "Ada apa?" ucap Cecile yang langsung terduduk.
"Aku ingin tidur dengan kaki tegak. Duduklah di sini dan aku di sana," kata Joan.
Lalu Cecile menguap dan mengangguk. Joan langsung pindah ke belakang dan Cecile kemudian duduk di depan.
Joan langsung tidur dengan nyenyak, sedangkan Cecile melihat ke arah Vince yang tampak fokus menyetir.
"Kau tampan, Vin," ucap Cecile sambil tersenyum manis.
"Kau berniat mencari suami keempat?" tanya Vince dengan wajah datarnya.
Cecile bukannya marah atas ucapan Vince itu. Tetapi dia malah tertawa terbahak.
"Aku sangat suka mengoleksi pria tampan. Kau mau menjadi daftar selanjutnya?" tanya Cecile.
Vince tak mengubah ekspresi wajahnya. "Aku tak suka berurusan dengan wanita, apalagi yang rumit sepertimu," jawab Vince.
Bagi Cecile tak masalah Vince selalu berbicara dengan nada dingin dan menyebalkan, setidaknya dia mempunyai teman mengobrol sepanjang perjalanan ini.
"Jadi kau lebih suka berurusan dengan seorang pria?" tanya Cecile yang menatap ke arah wajah Vince yang membuatnya betah karena Vince memiliki garis rahang yang kokoh dan sangat tampan.
Vince tak menjawab dan tak menggubris pertanyaan Cecile yang tak penting menurutnya.
"Kau sangat tampan dan benar-benar tipeku. Aku tak bosan memandangimu. Kau memiliki mata biru lembut yang membuatku jatuh di dalamnya," ucap Cecile menggombal.
"Berapa pria yang sudah menjadi korban rayuanmu itu?" tanya Vince yang tak terpengaruh sama sekali dengan gombalan dari Cecile itu.
"Banyak, mungkin ratusan," jawab Cecile dengan santainya.
"Vince tersenyum miring mendengar kata-kata playgirl cap kapak ini.
"Senyummu melelehkan hatiku, Vin," ucap Cecile lagi dengan kata kiasan yang membuat Vince jijik..
"AKu benar-benar jijik mendengarnya," sahut Vince yang membuat Cecile tertawa.
"Berapa usiamu?" tanya Cecile.
Vince tak menjawab. "Baiklah, biar kutebak. Umurmu sekitar 30 tahunan?" tanya Cecile.
Vince masih tak menjawab karena memang menurutnya dia tak perlu menjawab.
Cecile berdecak karena Vince mengabaikannya.
"Kau tak ingin mengenalku lebih jauh, Vin? Siapa tahu kita bisa berteman baik," kata Cecile yang tak patah arang mengajak Vince mengobrol.
"Tidak," jawab Vince singkat.
"Baiklah, aku tahu sebenarnya kau ingin tahu tentang aku jadi aku akan menceritakan tentang diriku secara garis besar saja," kata Cecile dengan percaya dirinya.
"Aku anak dari seorang pengusaha kaya raya di Amerika. Aku sangat kaya, Vin. Dan aku sangat menikmati hal itu. Aku manja, suka berkelahi, suka mempermainkan pria dan suka menghamburkan uang," ucap Cecile menyebutkan semua sifat jeleknya dan dia seakan bangga dengan hal itu.
Vince tertawa pelan mendengar hal itu. Di saat para wanita memperkenalkan dirinya dengan sangat manis, berbeda dengan Cecile yang membuka sendiri sifat buruknya.
"Kau tertawa? Aku senang melihatnya," ucap Cecile tersenyum lebar.
"Aku selalu memperkenalkan diriku seperti itu karena aku tak suka kepura-puraan dalam berteman. Banyak yang ingin berteman denganku karena aku kaya, jadi mereka tak terlalu peduli jika aku memiliki sifat jelek seperti itu," lanjut Cecile.