
Vince tertawa pelan mendengar keinginan Cecile yang tak disangkanya itu.
Lalu Vince mengambil tangan Cecile dan mengarahkannya pada organ terpenting miliknya yang pas ada di belakang pinggang Cecile.
"Vin ..." lirih Cecile.
"Kau tak perlu melihatnya. Kau hanya perlu meraba dan merasakannya agar kau tak terlalu takut nantinya," bisik Vince di telinga Cecile.
Cecile meraba dan memegang milik Vince dengan arahan dan bantuan dari tangan Vince.
"I-ini ... A-aku merasa sedikit janggal," ucap Cecile terbata.
Vince tertawa kembali dan menggerakkan tangan Cecile agar lebih mahir lagi memainkan milik Vince.
"Kau akan sangat menginginkannya nanti. Percayalah, Ma Chèrie." Vince kembali menciumi tengkuk leher dan bahu Cecile.
"Benda sebesar ini akan masuk ke dalam punyaku? Oh my ..." ucap Cecile yang justru membuat Vince kembali tertawa.
"Kurasa ukuranmu hampir sama dengan milik bintang porno yang pernah kulihat," kata Cecile lagi.
"Kau sudah tak trauma lagi sepertinya," ucap Vince yang kini kembali memijat dada Cecile yang membuat Cecile mendadak mengeluarkan suara desahaannya lagi.
"Aku masih belum berani melihatnya," jawab Cecile.
"Don't stop," ucap Vince ketika Cecile menghentikan gerakan tangannya pada pangkal paha Vince.
Vince mengambil lagi tangan Cecile dan mengarahkannya ke pangkal pahanya.
Dia kembali menuntun dan mengajari Cecile cara yang benar dalam proses ini.
Vince memasukkan kembali jarinya ke pangkal paha Cecile dan membuat wanita cantik itu mendesah keras.
"Aaahhhh ..." desahnya keras.
Vince tak memberi ampun Cecile dan semakin intens memasukkan jarinya ke bagian inti tubuh istri sexynya itu.
"Coba bayangkan bagaimana nikmatnya jika milikku masuk dan bergerak di dalam sini," bisik Vince yang membuat hasraat Cecile semakin menggelora.
"Vin...." ucap Cecile yang sudah tak tahan dan ingin meminta yang lebih lagi.
"Aku menginginkannya tapi aku masih terlalu takut mencobanya," kata Cecile lagi.
Lalu Vince melepaskan tangan Cecile yang ada di areaa intiimnya dan mendorong tubuh Cecile hingga tertelungkup di atas ranjang.
Vince bergerak di atas punggung Cecile tanpa memasukkan miliknya dan hanya menggeseknya saja.
Vince menciumi seluruh punggung Cecile yang putih mulus itu.
Dan setelah bergerak beberapa saat di atas tubuh Cecile dengan hanya menggeseknya saja, sudah membuat dirinya mencapai puncak kepuasannya.
Vince tak akan menuntut apapun dulu pada Cecile dan dia cukup mengerti keadaan istrinya itu.
"Kau menikmatinya, Vin?" tanya Cecile yang masih dalam posisi telungkup di atas ranjang.
"Hmm," jawab Vince mencium bahu Cecile.
"Tidak, kau pasti tak menikmatinya. Maafkan aku," ucap Cecile yang merasa sedih sekaligus bersalah karena melakukan hal ini pada Vince.
Vince memeluk bahu Cecile dan dagunya menopang di sana.
"Sudah kubilang, aku cukup mengerti keadaanmu dan aku tak mau melakukannya terburu-buru yang bisa saja membuatmu lari dariku," kata Vince.
"Tapi aku merasa tidak berguna dan merasa bersalah padamu," ucap Cecile sedih.
Hal ini mengingatkannya pada siksaan mendiang ayahnya pada sang ibu.
Cecile yang jarang menangis pun akhirnya meneteskan air matanya.
"Hei, mengapa kau menangis?" tanya Vince yang menutupi tubuhnya dan tubuh Cecile dengan selimut tebal.
"Sorry, Vin. Aku menempatkanmu pada situasi konyol ini. Aku terlalu egois hingga tak memikirkan dirimu," isak Cecile.
"Aku yakin kau bisa melakukan hal itu kelak bersamaku," sahut Vince dan memegang bahu Cecile dan membalik tubuhnya hingga mereka saling menatap.
Vince mengusap air mata Cecile dan mengecup bibirnya.
"Ayo kita lakukan sekali lagi," lirih Cecile.
Cecile bertekad untuk benar-benar melakukan malam pertamanya ini tanpa kegagalan lagi.
Dia hanya ingin merasakan malam pertama di hari pertama malam pernikahannya yang sesuai dengan judulnya yakni 'The Real Malam Pertama'.