
"Vin, aku serius," ucap Cecile.
"Aku juga serius. Aku tak pernah bercanda," jawab Vince.
"Ooohhh ... Kau menyebalkan. Aku akan cari sendiri saja kamarnya," kata Cecile.
Lalu Cecile masuk ke sebuah kamar yang ada di dekat ruang tengah. Cecile kemudian keluar lagi dan melihat Vince di depan pintu kamar.
"Ah ya, kebetulan kau di sini. Bisakah kau mengambilkan koperku, Vin?" tanya Cecile.
Lalu Vince mengambil koper milik Cecile yang pas berada di sebelah pintu.
Kemudian Vince menarik koper itu dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Setelah meletakkan koper, ponsel Vince berbunyi dan dia langsung mengangkatnya lalu keluar dari kamar.
Begitu Vince keluar, Cecile membuka kopernya dan mengambil baju gantinya. Lalu Cecile masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya serta mengganti bajunya.
Tak berapa lama, Cecile kemudian keluar dari kamar mandi dan melihat Vince sedang membuka bajunya.
"Vin ... Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Cecile.
"Ini kamarku," jawab Vince berjalan ke lemari dan membukanya.
Vince membuka lebar lemarinya dan menunjukkan semua bajunya yang ada di dalam lemari itu pada Cecile.
"Lihatlah," ujar Vince.
"Mengapa kau tak bilang dari tadi?" tanya Cecile.
"Kau tak bertanya," jawab Vince santai dan mengambil kaos hitam lalu memakainya.
Cecile meneguk ludahnya ketika melihat tubuh sexy Vince yang sedang memakai bajunya.
"Kita akan menikah dalam minggu ini," ucap Vince.
"Kukira besok," jawab Cecile.
"Kita bisa melakukan adegan ranjang terlebih dulu jika kau terburu-buru," sahut Vince.
Dia kemudian menghampiri Cecile dan berdiri di depannya. Vince dengan perlahan memegang pinggang Cecile dan menarik tubuhnya agar mendekat.
Cecile menahan tangannya di depan dada Vince.
"Apa yang kau rasakan saat ini?" tanya Vince.
"Aku gugup dan darahku berdesir," jawab Cecile jujur karena dia ingin terbuka kali ini dengan apa yang dirasakannya.
Lalu Vince mendekatkan wajahnya ke wajah Cecile hingga nafas mereka saling terasa satu sama lain.
Cecile melihat mata biru Vince, begitu juga sebaliknya.
"Ki-kita akan berciuman, Vin?" tanya Cecile.
"Ini pembukaan hubungan kita," jawab Vince dengan suara lirih.
"Kau tak mau?" tanya Vince.
"Apa kau bernafsuu padaku, Vin?" tanya Cecile.
"Semua pria selalu bernafssu jika bersamamu. Jangan naif," jawab Vince tersenyum miring.
"Itu artinya kau menyukaiku?" tanya Cecile.
"Jika aku ingin menerima lamaranmu, itu artinya aku menyukaimu, Gadis bodoh," jawab VInce.
"Mulutmu memang pedas," sahut Cecile mencebik.
"Kau pernah berciuman?" tanya Vince.
"Tentu saja. Kalau hal itu aku tak terlalu takut melakukannya," jawab Cecile.
"Coba lakukan di bibirku," perintah Vince.
"Baiklah, itu hal yang mudah," jawab Cecile dan kemudian mengecup bibir Vince dengan singkat.
"Itu ciuman?" tanya Vince mengerutkan keningnya.
"Tentu saja. Aku mencium bibirmu, bukan?" ucap Cecile.
Vince tertawa. "Itu hanya kecupan, Cecile. Itu bukan ciuman," jawab Vince.
"Aku tahu, aku tak bisa melakukan yang lebih dari itu karena aku tahu bahwa pria akan melakukan hal yang lebih jika melumaat bibir mereka," ucap Cecile.
"Lalu, apakah kau juga tak mau melakukannya denganku juga?" tanya Vince.
Cecile diam tak menjawab karena dia masih merasa ragu dengan hal ini.
Lalu Vince pun melepaskan pegangan tangannya di pinggang Cecile.
"Aku akan menciummu ketika pernikahan kita. Benar-benar sebuah ciuman, bukan kecupan," ucap Vince, kemudian dia masuk ke kamar mandi.