
Vince tak menjawab apapun pertanyaan Cecile dan dia hanya fokus menyetir saja.
"Vin, jawablah. Aku benar-benar menyukaimu. Tapi aku bukan perempuan murahan," ucap Cecile.
"Kau sudah menikah tiga kali itu artinya kau murahan, Cecile," jawab Vince akhirnya.
"Mommy yang menjodohkanku. Dan itu bukan keinginanku. Ya, aku memang playgirl, tapi sebenarnya aku tipe setia, hanya saja aku sedikit tak normal," ucap Cecile.
"Ya, kau memang sedikit gila. Itu terlihat dari sikapmu," jawab Vince.
"Terserah apa katamu. Kau adalah satu-satunya pria yang tak tergoda dengan rayuanku. Itulah mengapa aku berani melamarmu," ucap Cecile.
"Kau belum mengenalku," sahut Vince.
"Kau sudah cukup berumur untuk menikah, Vince. Seharusnya kau lebih mudah menerima lamaranku," ucap Cecile.
"Alasanmu menikah benar-benar tak masuk akal," kata Vince.
"Begini, aku memang takut tinggal sendirian. Adikku tinggal bersama teman kuliahnya di apartemen dan aku tinggal bersama mommy di mansion milik kakek. Jika mommy menikah, aku tak ingin tinggal bersama mommy lagi. Aku benar-benar tak suka sendirian, Vin."
"Kau bisa tinggal bersama temanmu," ucap Vince.
"Tak bisa. Kebanyakan dari mereka sudah tinggal bersama kekasih atau suaminya." Cecile melihat ke arah wajah Vince.
"Pernikahan bukan permainan, Cecile. Kau terlalu sering mempermainkan pernikahan. Orang tuaku tak akan setuju jika aku menikah dengan janda yang sudah bercerai tiga kali," jawab Vince menyunggingkan senyum smirknya.
"Apa salahnya menikahi janda? Apa kau akan menderita dan mati jika menikahi janda?" tanya Cecile.
Dan tentu saja itu membuat Vince tertawa.
"Kau tak akan bangkrut jika menikahiku karena warisanku lumayan banyak," jawab Cecile.
Vince kembali tertawa.
"Aku tak butuh warisanmu, Janda Kaya," ucap Vince.
"Huuufftt ... Sepertinya memang susah merayumu." Cecile menghembuskan nafasnya pasrah.
"Kau tak akan bahagia denganku. Aku sangat menyebalkan dan tak perhatian," kata Vince.
Cecile kembali melihat ke arah Vince. "Hmm ... Apakah kau membutuhkan sekks, Vin?" tanya Cecile ragu.
"Ya, tentu saja. Semua pria pasti membutuhkannya," jawab Vince.
"Huuufftt ... Sangat berat," ucap Cecile lagi dengan nada pasrah dan mencebik.
"Kau sudah menikah tiga kali, itu artinya kau sudah sangat expert dengan hal itu," ucap Vince.
"Aku tak mengerti," jawab Vince.
"Aku tak pernah melakukan hal itu dengan para mantan suamiku. Dan karena hal itu juga aku bercerai," sahut Cecile.
"Apa kau sakit? Maksudku biasanya ada keadaan di mana jika kau memiliki riwayat penyakit tertentu, kau tak bisa melakukan hal itu," ucap Vince yang cukup tertarik dengan pembahasan unik itu.
"Ya, aku sakit," jawab Cecile.
Vince berpikir mungkin Cecile memiliki sakit yang cukup berbahaya hingga tak bisa melakukan hubungan sekks.
Vince menghentikan mobilnya di pinggir jalan sebentar untuk mendengar cerita Cecile karena dia pikir Cecile mungkin membutuhkan sebuah dukungan.
"Apakah sakitmu parah?" tanya Vince berempati dan melihat ke arah Cecile.
Cecile mengerutkan keningnya ketika Vince menanyakan hal itu.
"Parah? Tidak, tidak terlalu parah," jawab Cecile.
"Apa kata dokter?" tanya Vince.
"Aku belum ke dokter, aku hanya berkonsultasi pada Thea saja," jawab Cecile.
"Thea? Bukankah Thea bukan dokter? Mengapa kau berkonsultasi padanya?" tanya Vince.
"Dia psikolog, Vin. Tentu saja aku bisa berkonsultasi padanya karena yang kuderita adalah sakit mental," ucap Cecile.
"Mental? Kau gila maksudmu?" tanya Vince dengan polosnya.
"What??? Aku tidak gila, Vin." Cecile mencebik.
"Lalu??" tanya Vince.
"A-aku ... Aku ..." Cecile tampak terbata-bata.
"Ya, kau apa ..." ucap Vince yang ingin tahu kelanjutannya.
"A-aku takut melihat itu," sahut Cecile.
"Itu apa?" tanya Vince yang tak mengerti.
"Aku takut melihat barang berharga milik pria," ucap Cecile akhirnya.
Vince mengerutkan keningnya dan berpikir sebentar hingga akhirnya dia tertawa terbahak-bahak seperti reaksi Joan dan Thea sebelumnya.