
Thea mencium dan mengecupi wajah Jared agar terbangun dari tidurnya.
"Bangulah, kau melewatkan olah ragamu, Honey," ucap Thea.
Jared membuka matanya perlahan dan tersenyum melihat wanita dengan spek bidadari di depan matanya.
"Aku masih belum ingin bangun," ucap Jared malas dan semakin memeluk tubuh Thea dengan erat.
"Kau belum kuberi pelayanan ranjang saja sudah menempel seperti ini apalagi aku sudah memberikan seluruh jiwa dan ragaku untukmu seutuhnya padamu?" tanya Thea.
"Hmm, kau membuatku tergila-gila padamu, Baby. Mungkin kau menggunakan tongkat sihir Harry Potter untuk menyihirku," ucap Jared.
Thea tertawa lalu memukul bahu Jared. "Aku lapar, bangunlah," ucap Thea.
Lalu Thea melepas kaitan tangan Jared di pinggangnya. Kemudian Thea duduk dan beranjak dari ranjang menuju dapur.
Tak ada sekat di mansion bagian lantai bawah ini. Hanya ruang atas saja yang terdapat ruangan kamar tertutup.
Jared akhirnya bangun dan memakai bajunya lalu menyusul Thea ke dapur.
"Aaahh ... Pemandangannya benar-benar luar biasa," ucap Thea ketika melihat ke arah luar kaca yang langsung terlihat area hutan sekaligus pegunungan yang indah.
"Hmm, tak akan ada yang mengganggu kita di sini," sahut Jared yang kini memeluk tubuh Thea dari belakang dan mencium lehernya.
"Kurasa pria ini akan selalu menempel padaku," gumam Thea.
"Ya, itu sangat benar. Aku akan selalu menempel padamu. Kapan aku bisa menyentuhmu?" tanya Jared.
"Mungkin sekitar dua atau tiga hari lagi," jawab Thea yang kembali melepas tangan Jared yang melingkar di perutnya.
Kemudian Thea membuka kulkas yang sudah terisi banyak bahan makanan.
"Pegawaimu benar-benar cekatan," ucap Thea.
"River yang mengatur semuanya," jawab Jared yang menuju meja bar dan membuat kopi panas.
"Kau mau kopi, Baby?" tanya Jared.
"Ya, aku mau. Gulanya sedikit saja," ucap Thea.
Thea memulai kegiatan memasaknya dengan cepat dan Jared juga membantunya. Jared cukup bisa diandalkan dalam pekerjaan apapun karena Jared terbiasa hidup sendiri dan mandiri.
"Sudah enak?" tanya Thea ketika menyendokkan sedikit masakan yang di masak oleh Thea.
"Hmm, sudah cukup enak," jawab Jared.
Thea mengangguk dan menyiapkan piringnya. Kemudian mereka pun makan di ruang sofa ruang TV yang lebar itu.
"Aku sedang merenovasi rumah kita di Inggris menjadi seperti ini. Kau suka?" tanya Jared.
"Really? Sejak kapan kau merenovasinya?" tanya Thea sambil menikmati makan siang sekaligus paginya.
"Sejak aku berada di New York. Pegawaiku yang mengawasinya," ucap Jared.
"Apakah kau ingin menambahkan sesuatu?" tanya Jared menanyakan pendapat Thea tentang rumah impiannya.
"Tidak, aku suka seleramu," jawab Thea.
Jared tersenyum dan mereka melanjutkan makannya sampai habis. Setelah itu, Jared dan Thea pergi keluar sekitar mansion mereka untuk melihat pemandangan alam yang sayang jika dilewatkan.
Thea membawa kamera yang dikalungkan di lehernya. Dia selalu memotret segala sesuatu yang menarik baginya, termasuk sang suami.
"Apakah pegawaimu kembali ke rumahnya, Honey?" tanya Thea.
"Ya, mereka kemari jika kubutuhkan saja," jawab Jared.
"Aku capek," kata Thea ketika mereka sudah berjalan selama setengah jam di jalan yang menanjak.
Jared tertawa pelan dan mengambil kamera Thea kemudian mengalungkannya ke lehernya.
"Naiklah ke punggungku," ucap Jared sembari berjongkok agar Thea bisa naik ke punggung lebarnya.
Thea tersenyum dan langsung naik ke atas punggung Jared. "Kau memiliki tubuh yang sangat nyaman untuk dipeluk, Honey. Dan ingat, hanya aku yang boleh menaiki punggung dan tubuhmu," kata Thea.
Jared tertawa kembali dan memegang kedua kaki Thea yang berada di pinggangnya lalu berjalan kembali.