
"Vin, aku lapar dan ini sudah lewat waktu makan siang," ucap Cecile.
"Hmm," jawab Vince singkat seperti biasanya.
Sampai setengah jam kemudian, Vince tetap tak berhenti di restoran yang mereka lewati.
"Vin," panggil Cecile lagi.
"Tunggu, kita pasti makan nanti," jawab Vince.
"Tapi aku sudah sangat lapar, Vin," ucap Cecile.
"Ya, setelah ini," jawab Vince.
Sepuluh menit kemudian, Vince pun menemukan restoran yang diinginkannya.
Restoran dengan biew pemandangan indah sebuah bukit hijau yang memanjakan mata.
"Sepertinya aku akan makan banyak kali ini," ucap Cecile yang langsung keluar dari mobil.
Mereka kemudian masuk ke dalam restoran yang tak terlalu luas itu.
Cecile dan Vince duduk di kursi area outdoor. Setelah makanan pesanan mereka datang, Cecile pun langsung memakan makanannya.
"Tak ada sinyal di sini," ucap Cecile sambil melihat ponselnya.
Vince tetap menikmati makanannya dengan cepat lalu langsung merokon seperti biasanya.
"Apa kau aktif merokok, Vin?" tanya Cecile.
Vince mengangguk.
"Jika kita punya anak nanti, berhentilah karena aku tak ingin anakku terpapar asap rokok yang beracun itu," ucap Cecile.
Vince tertawa pelan. "Kau mau menertawakan aku lagi?" tanya Cecile.
"Tidak," jawab Vince.
"Meskipun aku tak normal, tapi aku tetap ingin memiliki anak, Vin," kata Cecile sambil mengunyah makanannya.
"Hmm, nanti aku akan membuatkannya untukmu," ucap Vince sambil menghisap rokoknya.
"Semoga aku bisa melakukannya," jawab Cecile yang tentu saja membuat Vince tertawa lagi.
"Bersamamu membuatku selalu tertawa," jawab Vince.
Ucapan Vince membuat Cecile berhenti mengunyah makanannya dan melihat ke arah Vince.
"Oh my God ... Ternyata aku istimewa di matamu. Terima kasih calon suamiku," ucap Cecile dengan manis dan genit.
"Ada air di sebelahku. Kau ingin kusiram?" tanya Vince dengan masih menghisap rokoknya.
"Ck, kau sama sekali tak romantis. Mantan-mantan suamiku dulu sangat romantis padaku. Mereka bahkan bertekuk lutut padaku," ucap Cecile.
"Tapi mereka semua gagal bercinta denganmu," ejek Vince.
"Iiissshh, kau benar-benar bermulut pedas, Vin," jawab Cecile.
"Mulutku memang pedas. Nanti kau akan ketagihan juga akhirnya. Mau mencobanya?" tanya Vince menggoda Cecile yang langsung berwajah merah itu.
"Aku tak menyangka kau ternyata tak berbeda jauh dengan Jared," jawab Cecile yang meneruskan kembali makan siangnya yang tak kunjung selesai itu.
"Kami spesies yang sama," sahut Vince cuek.
"Oh my God. Itu artinya kau benar-benar mahir dalam bercinta. Karena Thea mengatakan Jared sangat ahli dalam hal itu," kata Cecile menghentikan kunyahannya lagi.
Vince melihat ke arah Cecile dan memegang kening Cecile.
"Nanti aku akan mengajarimu sampai kau akan selalu mengingatnya di otak cantikmu ini," ucap Vince.
"Bagaimana caranya? Apakah kau sudah memikirkan caranya?" tanya Cecile.
"Kau ingin mempraktekkan sekarang, agar kau lebih yakin dengan pernikahan kita? Aku tak masalah dengan hal itu. Kau mau melakukannya di mobil?" tanya Vince.
Cecile menutup mulut Vince karena takut terdengar pengunjung restoran yang tak terlalu banyak itu.
"Kau benar-benar ya ..." Cecile membelalakkan matanya pada Vince.
Vince memegang tangan Cecile yang menutup mulutnya.
Lalu Vince menjilat jari Cecile hingga membuat darah Cecile nerdesir seluruh tubuh.
Cecile kembali menarik tangannya dan menyembunyikan di balik punggungnya.
Wajahnya kembali memerah. Baru kali ini dia merasakan hal seperti ini. Apalagi tatapan mata Vince yang sangat bisa membuatnya meleleh.