MY HANDSOME TARZAN

MY HANDSOME TARZAN
#79 (Sepenggal kisah Cecile dan Vince)



Lalu Vince dan Cecile pun masuk ke dalam minimarket itu bersama. Vince hanya mengambil minuman soda dan juga tiga bungkus rokok.


Sedangkan Cecile mengambil banyak cemilan dan minuman manis. "Aku yang akan membayar semuanya, Vin," ucap Cecile sembari mengeluarkan dompet dari tasnya.


Vince tak bereaksi apapun dan mengambil rokok serta minumannya setelah kasir menghitung belanjaannya. Lalu dia keluar dari minimarket dan duduk di beranda depan.


Cecile pun membayar semua belanjaan mereka lalu duduk bersama Vince juga di depan.


"Kau tak membangunkan Joan?" tanya Cecile.


Vince menggeleng dan menyalakan rokoknya. Cecile memandanginya karena tak dapat dipungkiri bahwa Vince memang benar-benar tampan.


Cecile bahkan heran mengapa ada seorang wanita yang membuat luka di hati pria setampan dan sesempurna Vince.


Meskipun terlihat slengean, Cecile tahu bahwa Vince adalah pria kaya dari barang apa yang dipakainya. Cecile hampir sama dengan Thea yang suka dengan barang branded jadi dia bisa membedakan mana barang mahal dan tidak.


Celana jeans belel yang digunakan Vince adalah merk GUCCI yang harganya tak main-main. Begitu juga kemejanya dengan merk yang sama.


Belum lagi sepatu bootnya yang bermerk Louis Vuitton serta jam merk Richard Mille yang dipakainya.


Karena suka mode, Cecile selalu berpenampilan modis dan membuatnya hafal dengan ciri-ciri khas barang-barang branded dunia.


"Kau punya pacar, Vin?" tanya Cecile.


Vince melihat ke arah Cecile dengan mata biru mudanya dan menghembuskan asap rokoknya.


Dia tak menjawab apapun dan hanya melihat Cecile saja hingga mereka saling bertatapan. Tatapan mata Vince yang dingin sedikit membuat darah Cecile berdesir.


Cecile kemudian mengalihkan pandangannya dan mengambil coklat batangan yang dibelinya tadi.


Tak lama kemudian, datang segerombolan geng motor yang kira-kira berjumlah lima orang. Mereka memasuki minimarket dan melihat ke arah Cecile yang masih memakan coklatnya.


Kelima orang itu terlihat saling bercanda dan tertawa. Hingga ketika melewati bangku Cecile, mereka sengaja menabrak kursinya hingga satu pria hampir terjatuh di atas tubuh Cecile.


Cecile yang sigap, langsung menendang alat vitaal pria itu dan membuatnya berteriak kesakitan.


"Hei, apa yang kau lakukan?" bentak teman pria itu.


"Kau buta? Dia yang menabrakku," bentak Cecile tak mau kalah.


"Berani juga kau!!" ucap pria itu dengan suara kerasnya.


Vince yang tak terlalu suka keributan mengeluarkan sesuatu dari balik kemejanya.


"Tak usah mengganggu kami, masuklah sana jika ingin membeli sesuatu," ucap Vince datar dan menaruh pistolnya di meja.


Lalu ketua geng itu memberi tanda ke teman-temannya untuk tak mencari gara-gara dengan Vince.


Cecile membelalakkan matanya ke arah orang-orang itu seakan menantang. Tetapi geng motor itu lebih memilih tak membuat keributan lagi dan masuk ke dalam minimarket.


"Menjijikkan, seharusnya aku menendangnya lebih keras karena aku tak suka dengan hal itu," gumam Cecile pada dirinya sendiri dan itu di dengar oleh Vince hingg membuat pria tampan itu menoleh ke arahnya.


"Apa yang tak kau suka? Pria itu atau benda yang kau tendang?" tanya Vince dengan senyum miringnya yang tetap datar.


"Dua-duanya," jawab Cecile santai lalu kembali memakan coklatnya.