
Di perusahaan Vince, Cecile hanya menghabiskan waktunya di kamar pribadi Vince saja. Dia berbelanja online beberapa barang dan makanan.
TOK TOK ...
Pintu ruangan Vince terbuka. Asisten tampak membuka pintu dan membawa sebuah paket di tangannya.
"Apa itu?" tanya Vince.
"Ini untuk nona Cecile, Tuan," jawab asisten Vince.
"Taruh di sana," perintah Vince menunjuk ke arah sofa.
Lalu pria itu menaruhnya di meja sofa dan keluar kembali dari ruangan Vince.
CEKLEK ... Pintu kamar pribadi Vince terbuka dan Cecile keluar dari kamar itu tanpa menggunakan sepatu high heelsnya.
"Apakah pesananku datang, Vin?" tanya Cecile.
"Di sofa," jawab Vince tanpa melihat ke arah Cecile.
Cecile berjinjit dan langsung berlari mengambil pesanannya itu.
"Thank you, Baby" ucap Cecile tersenyum centil ketika Vince melihat ke arahnya.
Cecile kembali lagi masuk ke dalam kamar.
Lima belas menit kemudian, terdengar bunyi ketukan lagi di pintu ruangan Vince. Asisten Vince kembali membawa bungkusan berwarna coklat di tangannya.
"Apa lagi itu?" tanya Vince.
"Ini paket untuk nona Cecile lagi, Tuan," jawab sang asisten.
"Taruh di situ lagi," ucap Vince lagi.
Sang asisten pun kembali menaruh paket itu di meja sofa.
Tak lama kemudian, Cecile kembali keluar dari kamarnya.
"Vin sayang, apakah ada paket lagi untukku?" tanya Cecile.
"Di meja sofa," jawab Vince singkat.
Cecile berlari kecil lalu mengambil paketnya yang ada di meja sofa itu.
"Oh my, apa lagi?" tanya Vince.
"Paket nona Cecile lagi, Tuan," jawab pria itu dengan senyum terpaksa.
"Jika ada paket lagi, langsung taruh di meja sofa itu dan tak perlu mengetuk pintu lagi. Itu menggangguku," ucap Vince.
"Baik, Tuan," jawab sang asisten.
Dan hampir ada sekitar 20 paket yang datang setelah itu. Vince hanya menggelengkan kepalanya melihat hal itu.
"Apa saja yang kau beli?" tanya Vince
"Hanya barang-barang lucu dan makanan enak," jawab Cecile tersenyum lebar dan masuk kembali dengan membawa tas paketnya lagi.
Vince berdiri dari kursinya dan mengikuti Cecile masuk ke dalam kamarnya. Vince melihat banyak barang belanjaan Cecile bertebaran di lantai.
Ada tas, baju, sepatu dan beberapa barang lainnya serta berbagai makanan di sana.
"Oh my God. Kurasa kau bisa membuat sebuah toko dengan semua barang ini," ucap Vince.
"Ini hanya sedikit, Vin. Biasanya aku beli lebih dari ini," jawab Cecile dengan senyum lebarnya.
"Lalu bagaimana kau akan membawa barang-barang ini?" tanya Vince.
"Vin, kau memiliki mobil besar, kan? Jadi kau bisa menyuruh supirmu untuk membawanya," jawab Cecile dengan entengnya.
Vince memegang kepalanya yang tak pusing itu.
"Baiklah, terserah dirimu saja," ucap Vince yang kemudian keluar dari kamar itu.
Lalu Cecile membungkus beberapa makanan yang tak di makannya itu ke dalam bungkusan tas yang cukup besar.
Kemudian Cecile keluar dari kamar dan langsung menuju pintu ruangan Vince.
"Kau mau ke mana?" tanya Vince yang melihat Cecile keluar dari ruangannya.
"Aku akan membagikan makanan ini pada beberapa stafmu di luar," jawab Cecile.
"Tak perlu, aku akan memaggil asistenku untuk mengambilnya kemari. Kau akan mengobrol panjang kali lebar jika berada di ruangan stafku. Dan di sana lebih banyak staf laki-laki dibanding wanita," ucap Vince yang kemudian menelepon asistennya.