MY HANDSOME TARZAN

MY HANDSOME TARZAN
#74 (Sepenggal kisah CECILE-VINCE)



"Apa isi koper ini, Cecile?" tanya Joan sambil mengangkat koper itu.


"Tentu saja bajuku. Aku membawa sangat banyak baju," jawab Cecile.


"Tidak, aku tak kuat. Ini terlalu berat, Cecile. Dan kopermu ini ukurannya sangat besar," ucap Joan.


Lalu Vince keluar dari mobil dan wajahnya terlihat sangat menakutkan. "Minggirlah, wanita memang benar-benar merepotkan," ucapnya pedas seperti boncabe level 20.


Lalu Vince pun mengangkat koper besar itu dengan cukup mudah kemudian menutup pintu belakang mobilnya.


"Cepat naik!!" bentaknya.


Cecile dan Joan langsung masuk ke dalam mobil. Lalu Vince pun melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi.


Cecile memajukan tubuhnya ke depan dan berbisik di kuping Joan.


"Kakakmu mengerikan sekali," bisik Cecile.


"Kau ingin kuturunkan di sini?" ucap Vince yang pendengarannya sangat tajam.


"Huuufftt ... Benar-benar mimpi buruk bertemu denganmu," ucap Cecile dan menyandarkan tubuhnya dengan pasrah di kursi mobil.


"Sama, aku juga merasakan hal itu ketika bertemu denganmu," balas Vince.


"What??? Pria menyebalkan," kesal Cecile.


"Sssssttt ... Diamlah. Jangan bertengkar. Perjalanan ini sangat lama dan aku ingin ketenangan di dalam mobil ini," kata Joan sedikit berteriak.


Cecile dan Vince pun akhirnya diam tak berbicara lagi. Hingga dua jam perjalanan dilalui oleh mereka. Cecile tampak nyenyak tertidur dan Joan juga.


"Mereka benar-benar tak bisa diandalkan," gumam Vince dan menghentikan mobilnya di sebuah cafe karena ingin membeli kopi.


Cecile terbangun karena mobil terasa berhenti. "Kita sudah sampai?" tanya Cecile.


"Ini masih dua jam perjalanan. Kau kira kita naik pesawat?" sahut Vince dengan nada bicaranya yang sangat menyebalkan itu.


Lalu Cecile melihat cafe di depan mobil. Vince turun dan meninggalkan kedua wanita itu di mobil.


Joan langsung terbangun dan mereka berdua pun keluar dari mobil menyusul Vince.


Begitu masuk cafe, Cecile langsung masuk ke dalam toilet. Joan dan Vince memesan minuman.


"Di mana wanita itu?" tanya Vince.


"Namanya Cecile, Kak," jawab Joan.


"Kau hanya perlu menjawabnya," kata Vince.


"Dia ke toilet," jawab Joan dengan sabar menghadapi kakaknya yang angkuh ini.


Tak lama kemudian, Cecile keluar dari toilet dan bergabung dengan Joan memesan minuman.


Sedangkan Vince sudah duduk di kursi yang ada di depan cafe sambil menyalakan rokoknya.


"Kau memesan apa, Cecile?" tanya Joan.


"Aku coklat saja, karena aku tak bisa minum kopi," jawab Cecile.


"Oke," sahut Joan dan memesankan segelas coklat dingin karena cuaca sedikit panas.


Setelah mendapatkan minumannya mereka pun duduk. Mereka duduk di dalam cafe dan tak semeja dengan Vince di luar.


"Apakah dia selalu seperti itu, Joan?" tanya Cecile sambil melihat ke arah Vince yang asyik merokok sambil menyeruput kopinya.


"Ya, abaikan saja. Dia pernah kecewa dengan seorang wanita, dan menganggap wanita itu sama saja. Tapi dia sebenarnya sangat baik dan perhatian. Jangan melihat dari luarnya saja," jawab Joan.


Cecile mengangguk dan mencoba mengerti meskipun tak tahu kekecewaan seperti apa yang pernah dirasakan oleh Vince.


Setengah jam kemudian, mereka bertiga pun kembali melanjutkan perjalanannya lagi.


Joan menyetel lagu keras-keras dan menyanyi bersama Cecile yang ternyata punya selera lagu yang sama.


Vince sampai memakai headsetnya agar tak mendengar suara sumbang dari kedua wanita cantik itu.