
"Mengapa mereka tak berangkat sendiri saja? Merepotkan," kesal Vince Albern -- kakak Joan -- teman gila Thea.
Vince dan Joan menunggu di depan lobby hotel di mana Cecile dan adiknya menginap.
"Tunggu, aku akan meneleponnya lagi. Thea memberiku nomer teleponnya tadi," jawab Joan.
Joan mengambil ponselnya dan menelepon Cecile. Lima kali panggilan dari Joan sama sekali tak di jawab oleh Cecile.
Tak lama kemudian, ponsel Joan berbunyi dan itu panggilan dari Cecile.
"Cecile? Kau di mana?" tanya Joan.
"Tunggu sebentar. Adikku kabur," jawab Cecile.
"What??? Lalu bagaimana?" tanya Joan.
"Tunggu, aku akan ke bawah sebentar lagi," jawab Cecile.
Lalu Cecile menutup ponselnya. Joan duduk kembali di sebelah Vince.
"Bagaimana?" tanya Vince dengan wajah dinginnya.
"Dia akan turun sebentar lagi. Adiknya kabur," jawab Joan.
"Oh my, lalu apakah kita disuruh mencarinya,?" tanya Vince.
"Aku tidak tahu," jawab Joan.
"Benar-benar menyebalkan. Aku akan merokok dulu di luar," kata Vince,
"Hei, bukankah mommy sudah melarangmu merokok, Kak?" tanya Joan.
"Kau juga, tapi kau tetap merokok," jawab Vince yang beranjak dari sofa dan keluar lobby.
Tak lama kemudian, Cecile pun keluar dari lift dan melambaikan tangannya ketika melihat Joan.
"Haaiiii ..." teriak Cecile dengan wajah sumringah.
Joan tersenyum melihat keceriaan Cecile yang bahkan lebih ceria dari Thea. Gadis cantik berambut pendek yang umurnya di atasnya setahun itu tampak mengulurkan tangannya.
"Kau lebih cantik dari fotomu," ucap Cecile.
Joan menjabat tangan Cecile dan Cecile mencium pipinya.
"Bagaimana dengan adikmu?" tanya Joan.
"Lalu? Apakah tak masalah kita meninggalkannya?" tanya Joan.
"Tidak apa-apa. Umurnya sudah 22 tahun dan dia cukup dewasa untuk bersenang-senang, bukan?" ucap Cecile.
"Oke, ayo kita berangkat sekarang. Karena perjalanan kita lumayan panjang," ujar Joan.
"Baiklah, ayo," kata Cecile sambil menarik koper besarnya.
"Kau membawa pakaian sebanyak ini?" tanya Joan.
"Ya, tentu saja. Tak mungkin aku meninggalkannya di sini, kan?" tanya Cecile.
Mereka berjalan keluar lobby hotel. "Bukankah kau dengan kakakmu? Di mana dia?" tanya Cecile.
"Dia di luar sedang merokok. Siapkan mentalmu, dia sedikit menyebalkan," jawab Joan.
Cecile mengangguk.
Lalu mereka pun keluar dan melihat ke arah pria tampan yang sedang merokok itu. Rambut panjangnya diikat dengan wajah sedikit bengal.
"Dia sealiran dengan suami Thea," gumam Cecile.
Joan tertawa. "Mereka memang berteman," jawab Joan.
"Tapi wajahnya sangat tak ramah, berbeda dengan Jared yang ramah," ucap Cecile.
"Ya, tebakanmu benar. Dia sedikit mengerikan dan mulutnya tak berfilter," bisik Joan ketika mereka sudah berada di dekat Vince.
"Haiiii ... Maaf menunggu lama," kata Cecile dengan senyum cerianya.
"Kau masih bisa tersenyum? Kami sudah menunggumu terlalu lama," ucap Vince pedas dan mematikan rokoknya.
"Maaf," kata Cecile sekali lagi.
Lalu Vince pun berjalan menuju mobil range rovernya yang terparkir di depan Lobby tanpa melihat ke arah Cecile dan Joan.
Cecile dan Joan mengikuti Vince dari belakang. Cecile bahkan sedikit berlari untuk mengimbangi langkah Vince.
Sesampainya di mobil, Vince langsung masuk ke dalam mobil tanpa menunggu Cecile dan Joan.
"Aku akan membantumu menaikkan kopermu. Dia sedang dalam mode bad mood," ucap Joan.
Cecile mengangguk dan mereka mengangkat koper Cecile bersama-sama.