MY HANDSOME TARZAN

MY HANDSOME TARZAN
#86 (CECILE-VINCE)



Cecile tak menyangka Vince juga akan menertawakan hal ini. Tawa Vince bahkan lebih parah dari sang adik -- Joan.


Vince kemudian keluar dari mobil dan tetap tertawa sambil memegang perutnya. Dia membayangkan bagaimana malam pengantin Cecile yang diwarnai dengan adegan menggelikan itu.


Cecile mencebik dan menatap Vince dengan tajam dari dalam mobil.


"Sampai kapan kau akan tertawa?" teriak Cecile.


"Oh my God. Sudah bertahun-tahun aku tak tertawa seperti ini. Kisahmu benar-benar menggelikan, Cecile. Pantas saja Joan tak berhenti tertawa kemarin," ucap Vince yang kembali tertawa lagi.


"Sepertinya aku menceritakan ke orang yang salah," gumam Cecile.


"VIN!!!" teriak Cecile karena Vince masih saja tertawa.


Lalu Vince berhenti tertawa dan membuka pintu bagasi belakang mobilnya. Vince masih tertawa sedikit-sedikit setiap mengingat kisah Cecile.


Vince mengambil kursi lipat kecil dan menaruhnya di atas tanah. Dia malah duduk di sana dan mengambil rokok dan menyalakannya.


"Vin!!! Mengapa kau malah bersantai?" tanya Cecile.


"Pemandangannya sangat indah dan suasana hatiku sangat baik. Jadi aku akan menikmati pemandangan ini sambil merokok," jawab Vince tertawa pelan.


"Oooohh ... Kau menyebalkan sekali, Vin." Cecile turun dari mobil dan menghampiri Vince yang sedang duduk santai dan menghisap rokoknya.


"Moodmu baik karena kisah sedihku?" tanya Cecile tak terima.


Vince mengangguk dengan santai sembari tersenyum miring.


"Kau tak prihatin dengan keadaanku?" tanya Cecile.


Dan tentu saja hal itu membuat Vince kembali tertawa.


"VIN!!!" teriak Cecile kesal.


"Sorry ... Sorry ..." ucap Vince.


"Ini tak lucu, Vin. Aku menceritakan hal ini agar kau bisa memberikan solusi padaku. Tapi kau malah menertawakanku," ucap Cecile dengan wajah sebal.


"Solusi? Kau ingin solusi dariku?" tanya Vince dengan masih menikmati rokoknya.


Cecile mengangguk.


"Solusi seperti apa? Kau ingin melihat milikku? Begitu?" tanya Vince tertawa lagi.


"Aku serius," jawab Vince sambil menahan tawanya.


"Kau menyebalkan!" Cecile berdecak kesal dan berbalik lalu masuk lagi ke dalam mobil.


Vince menghabiskan sebatang rokoknya lalu kembali masuk ke mobil lagi. Dia melihat ke arah Cecile yang membuang mukanya dan tak berbicara sama sekali.


"Maaf," ucap Vince.


Cecile tampak mengusap air matanya karena dia sedikit menangis. Dia tak mau penyakit mentalnya ini dianggap sebagai candaan karena dia saja sangat tersiksa dengan hal ini.


Dia juga ingin merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang sudah menikah pada umumnya.


"Ini memang lucu untuk kalian, tapi aku sama sekali tak menganggap ini sebagai candaan," ucap Cecile berbicara serius kali ini.


"Maaf, oke?" ucap Vince tulus.


"Aku sama sekali tak bisa memberikan solusi untukmu karena ini jauh di luar bidangku. Apa yang disarankan Thea padamu?" tanya Vince.


"Dia menyuruhku mencobanya. Tapi aku tetap tak bisa meskipun ..." ucap Cecile menggantung.


"Meskipun apa?" tanya Vince.


Cecile melihat ke arah Vince. "Kau pasti akan tertawa lagi jika aku mengatakannya," kata Cecile.


"Tidak, aku tak akan tertawa," jawab Vince.


Cecile memicingkan matanya melihat ke arah Vince.


"Kau pasti akan tertawa," ucap Cecile lagi.


"Tidak, katakanlah," sahut Vince.


Cecile terdiam sebentar.


"Aku tetap tak bisa melakukannya meskipun aku sudah berulang kali menonton film pornno," ucap Cecile akhirnya dan Vince sangat berusaha kuat tak tertawa lagi.


Vince sampai keluar mobil dan melihat ke arah langit agar dia bisa menahan tawanya.


"VINN!!! Jika sampai kau tertawa, aku benar-benar akan menghajarmu," teriak Cecile dari dalam mobil.