MY HANDSOME TARZAN

MY HANDSOME TARZAN
#78 (Sepenggal kisan Cecile dan Vince)



Meskipun terlihat cuek, Vince tetap mendengarkan cerita Cecile yang menurutnya lain daripada yang lain.


"Aku sangat mencintai ibuku karena dia begitu banyak berkorban bagi aku dan adikku. Dia seorang CEO di perusahaan kakekku. Perusahaan milik mendiang ayahku dan ibu menggantikan posisi ayahku di perusahaan ketika ayahku meninggal."


"Ayahku adalah sosok yang sangat keras dan otoriter. Terkadang aku merasa bahagia karena dia sudah tiada. Terdengar jahat tapi begitulah yang kurasakan. Aku tak bisa berpura-pura sedih ketika ayahku meninggal karena memang aku senang dia telah tiada. Apakah menurutmu aku normal?" tanya Cecile pada Vince.


"Sangat normal," jawab Vince yang jawabannya sungguh tak diduga oleh Cecile.


"Hei, kau adalah satu-satunya orang yang bilang bahwa aku normal ketika aku menceritakan hal ini," ucap Cecile.


"Karena kau memiliki alasan yang kuat mengapa bersikap seperti itu," ucap Vince dengan jawaban yang agak panjang.


"Oh my God. Kau benar-benar mengerti aku, Vin. Aku terharu," ucap Cecile dengan wajah penuh drama.


"Wajahmu benar-benar menyebalkan," sahut Vince yang membuat Cecile justru tertawa.


"Tapi aku cantik, Vin." Cecile membuka cermin yang ada di dekat kaca mobil. Dia bercermin sembari menata rambut pendek pirangnya.


Vince menggelengkan kepalanya melihat tingkah Cecile yang cukup narsis itu.


"Lihatlah, aku memiliki mata biru yang indah, kelopak mata yang besar dan senyum yang menawan. Oooh, kurasa aku mencintai diriku sendiri," gumam Cecile yang membuat Vince semakin ingin pingsan mendengarnya.


Lalu Cecile mengambil tas kecilnya di bangku belakang dan kemudian mengambil lipstiknya. Cecile memakai lipstik ke bibir manisnya sambil bercermin.


"Look! Aku cantik, kan?" kata Cecile melihat ke arah Vince tetapi Vince tak melihatnya.


"Oke, kau tak perlu menoleh karena kecantikanku akan membuatmu tak konsentrasi menyetir nanti," ucap Cecile.


"Aku akan mencari toko dulu," kata Vince tiba-tiba.


"Toko? Kau mau membeli sesuatu?" tanya Cecile.


Cecile tertawa dan sama sekali tak marah. Lalu ponsel Cecile berbunyi dan itu dari Tim -- adiknya.


"Halo bocah tengik ... Ke mana saja kau?" marah Cecile.


"Maaf, Kak. Aku sedang bersenang-senang saat ini. Jadi tunggulah di hotel itu sampai aku kembali. Aku akan kembali sebulan lagi," jawab Tim.


"Whatt??? Kau gila??!!" teriak Cecile.


"Bukankah kakak juga butuh hiburan? Kau bisa mencari pacar di London, kan? Pria di sana banyak yang tampan sesuai seleramu," jawab Tim dan langsung mematikan ponselnya karena tak mau mendengar Cecile mengomel.


"Berani-beraninya kau mematikan teleponnya," gumam Cecile kesal.


Lalu Cecile menelepon kembali ponsel sang adik dan Tim ternyata mematikan ponselnya.


"Lihatlah nanti jika kita bertemu, akan kuhajar kau sampai babak belur," gumam Cecile.


"Kau mau ke mana, Vin?" tanya Cecile ketika Vince menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket.


"Aku ingin membeli rokok," jawab Vince.


Lalu Vince turun dan Cecile ikut turun juga. Cecile berlari di belakang tubuh tinggi Vince dan tertabrak punggung Vince ketika pria tampan itu tiba-tiba berhenti.


"Ouucchh ..." teriak Cecile karena hidung mancungnya mengenai punggung kokok Vince.


Vinve berbalik dan melihat Cecile. "Jangan berjalan di belakangku. Itu bukan salahku kau tertabrak," ucap Vince dan berjalan menuju mobil kembali.


Cecile tak beranjak dari tempatnya dan Vince mengambil dompetnya yang masih ada di dalam mobil. Lalu dia kembali menuju arah minimarket.