
Sudah empat hari Thea berada di apartemen Jared. Dia menikmati kebersamaannya dengan Jared dan semakin mengenalnya.
Menurut Thea Jared pribadi yang santai dan hampir tak pernah marah. Penampilannya yang garang sangat bertolak belakang dengan sifat dan sikapnya yang menyenangkan.
Kini Jared sedang berada di perusahaannya bersama River untuk menyelesaikan urusannya sebelum dirinya kembali ke Inggris.
Sedangkan Thea tetap berada di apartemen Jared dan akan pergi siang nanti bersama Irena, sepupunya yang sudah tiba di Amerika kemarin.
Irena yang akan menemaninya fitting baju pengantin di butik langganan Irena dulu ketika dirinya masih menjadi seorang model.
"Kak, aku sudah di depan lobby," ucap Thea melalui ponselnya.
"Ya, mungkin lima belas menit lagi aku akan sampai," jawab Irena.
"Oke, aku akan menunggu di lobby, bye. Hati-hati, Kak," kata Thea dan langsung menutup ponselnya.
Thea duduk di sofa lobby sembari melihat-lihat ponselnya. Lalu tak lama kemudian, ada seorang pria yang duduk di sofa sebelahnya.
"Kau tinggal di apartemen ini, Nona?" tanya pria itu yang tak lain adalah Julius.
Thea melihat ke arah pria yang bertanya padanya. Thea tersenyum ramah. "Ya," jawab Thea.
Julius tampak seakan terhipnotis melihat wajah cantik Thea dan keramahannya.
"Kau tinggal di sini juga? Aku tak pernah melihatmu," ucap Thea.
"Tidak, aku hanya mengunjungi temanku saja. Aku menunggunya di sini karena dia masih dalam perjalanan dari tempat kerjanya," jawab Julius.
"Oh ya, aku Lius," ucap Julius mengulurkan tangannya.
"Aku Thea," jawab Thea menjabat tangan Julius dan tersenyum.
'Dia memang sangat cantik dan menyenangkan. Pantas saja Jared tergila-gila padanya,' batin Julius.
"Kau orang yang menyenangkan, bolehkah aku berteman denganmu?" tanya Julius.
"Tentu saja. Aku berteman dengan siapapun," jawab Thea.
"Jika ada waktu, aku ingin mengajakmu makan, bisakah?" tanya Julius.
"Ya, tapi aku harus mengajak tunanganku juga. Tak masalah, kan? Temanku adalah teman dia juga," jawab Thea.
"Oh begitu? Jadi kau sudah bertunangan?" tanya Julius.
"Ya, kami akan menikah minggu depan," jawab Thea sambil mengamati gerak-gerik dan mimik wajah Julius yang baru saja dikenalnya itu.
Thea memang terbiasa melakukan hal itu setiap bertemu dengan orang yang baru dikenalnya.
"Terima kasih," kata Thea tersenyum.
"Boleh aku meminta nomer ponselmu?" tanya Julius.
"Boleh saja." Lalu Thea mengambil bolpoin dan note kecil yang ada di meja lobi lalu menuliskan 10 digit nomer ponsel.
"Ini," ucap Thea.
"Terima kasih," jawab Julius tersenyum.
Lalu ponsel Thea berbunyi dan itu dari Irena. "Aku pergi dulu, bye. Nanti kirim pesan saja padaku karena aku jarang bisa mengangkat telepon," ucap Thea tersenyum dan mengangkat sambungan telepon dari Irena yang sudah menunggu di depan lobby.
"Bye ..." sahut Julius tersenyum.
Dia melihat nomer ponsel yang diberikan Thea tadi dan tersenyum lebar. "Cukup mudah mendekatinya," gumam Julius.
*
*
Thea langsung naik ke mobil dan mencium kedua pipi Irena. "Halo, Kak. Bagaimana kabarmu?" tanya Thea.
"I'm great," jawab Irena.
"Wait ... Aku ingin menelepon Jared dulu," ucap Thea.
Irena mengangguk dan mobil mereka sudah melaju menuju butik.
"Halo, Honey. Aku sudah menemukannya," ucap Thea.
"Kau menemukan apa, Sayang? Aku tak mengerti," jawab Jared.
"Pria yang mengikutimu. Dia mendekatiku di lobby dan aku memberikan nomer ponselmu padanya." Thea menjelaskan.
"Whatt??? Dia berani datang ke apartemen dan menemuimu?" tanya Jaraed.
"Kau sudah tahu siapa dia?" tanya Thea.
"Ya, River sudah memberitahuku beberapa hari yang lalu dan aku tak menganggapnya sebagai ancaman," jawab Jared.
"Dia menghampiriku di lobby tadi dan berkenalan denganku. Baiklah nanti kita bicarakan lagi hal ini. Aku sedang perjalanan ke butik bersama kak Irena, Bye," ucap Thea.
"Aku akan menyusulmu ke sana setelah ini. I love you," kata Jared.
"I love you too," jawab Thea.