
"Mengapa kau mau menerima lamaranku, Vin?" tanya Cecile.
"Hidupku cukup flat. Aku butuh tantangan dan kini aku menemukannya," jawab Vince.
"Hanya itu? Kau tak menyukaiku?" tanya Vince.
Vince tak menjawab dan hanya mengedikkan bahunya.
"Kau cukup cantik untuk kujadikan istriku. Dan aku bisa memamerkanmu di acara-acara pentingku," kata Vince akhirnya.
BUG ...
Cecile meninju lengan Vince. "Kau pikir aku istri pajangan?" tanya Cecile.
"Tentu saja tidak, bukankah kita nanti akan bertemu di ranjang juga? Itu artinya kita suami istri sungguhan," jawab Vince.
"Kau cukup banyak bicara ternyata," kata Cecile.
"Ini karena pengaruh buruk darimu," jawab Vince.
Cecile berdecak dan mencebik sambil melihat ke arah Vince.
"Untung saja kau tampan, jika tidak aku tak akan sudi melamarmu," ucap Cecile.
"Kau hanya menyukaiku karena penampilanku saja?" tanya Vince.
"Ya, tentu saja. Kau sangat tampan, Vin. Dan kau pasti bosan mendengar hal ini," jawab Cecile jujur.
"Kau menyebalkan sekali, Cecile," ucap Vince.
"Aku hanya realistis saja. Kau tampan dan kaya. Wanita mana yang tak menyukaimu? Termasuk aku, karena aku tipe wanita pada umumnya yang menyukai hal seperti itu."
"Kau terlalu jujur dan aku suka dengan kejujuranmu," jawab Vince.
"Kau ingin konsep pernikahan seperti apa, Vin?" tanya Cecile.
"Tak ada konsep apapun. Terserah padamu saja," jawab Vince.
"Aku sudah menikah tiga kali, jadi tentu saja kita menikah di catatan sipil saja. Kau tak masalah?" tanya Cecile.
"Kau malu karena menikah untuk keempat kalinya?" tanya Vince.
"Sedikit," sahut Cecile.
"Kau tak malu menikahiku, Vin?" tanya Cecile.
"Tidak, aku tak terlalu peduli dengan hal-hal semacam itu," jawab Vince.
"Kau benar-benar pria idaman," ucap Cecile memandang kagum pada Vince.
"Hanya kau pria yang tak suka dengan pujianku," ujar Cecile.
"Aku terlalu sering mendengar hal itu. Jadi jangan pernah mengatakan hal menjijikkan seperti itu lagi jika kita sudah menikah nanti," ucap Vince.
"Jadi kita deal menikah?" tanya Cecile.
"Hmm," sahut Vince.
Cecile mengulurkan tangannya untuk tanda jadi pernikahan mereka.
"Kau tak lihat aku sedang apa?" tanya Vince.
"Aku mencium pipimu saja. Apa boleh?" tanya Cecile dengan genitnya.
"Tak masalah," jawab Vince dan Cecile langsung mengarahkan bibirnya ke wajah Vince.
Ketika bibirnya mulai dekat dengan pipi Vince, Vince memutar wajahnya dan mengecup bibir Cecile.
Cecile membelalakkan matanya. "Vin??!!"
"Apa yang kau rasakan ketika aku mengecup bibirmu?" tanya Vince penasaran.
"Dadaku berdebar," jawab Cecile jujur.
Vince tertawa. "Kau benar-benar wanita terjujur yang pernah kukenal. Joan saja tak sejujur ini padaku," kata Vince.
"Apakah itu tadi tanda jadi pernikahan kita?" tanya Cecile.
Vince mengangguk.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan mulai memikirkan persyaratan apa saja yang akan kutulis dalam perjanjian pernikahan kita nanti," ucap Cecile dengan serius.
Vince justru tertawa melihat wajah serius Cecile.
"Kau tak cocok berwajah serius seperti itu," kata Vince.
"Aku baru tahu kau juga suka tertawa, Vin. Kau tak berbeda jauh dari Joan," jawab Cecile.
"Itulah yang membuatku mau menikahimu juga. Kau lumayan cukup menghiburku." ucap Vince.
"Kujamin hidupmu tak akan kesepian jika menikah denganku, Vin," kata Cecile tersenyum lebar.
"Apa kau bisa akrobat juga? Mungkin kau bisa menghiburku dengan aksi akrobatmu juga," ujar Vince.
Cecile berdecak dan mencubit lengan Vince dengan gemas.