
"Thea mengajakmu ke Dubai. Kau mau ikut ke sana?" kata Vince sembari mengusap punggung polos Cecile.
Cecile menengadahkan kepalanya dan menopang dagunya di dada Vince.
"Ya, aku mau. Di sana banyak destinasi wisata yang bagus jadi kita ikut ke sana saja. Mungkin Thea akan berburu barang branded incarannya," jawab Cecile.
"Kau tak mengaktifkan ponselmu?" tanya Vince.
"Tidak, aku tak mau malam pertama kita terganggu," jawab Cecile yang kemudian mengecup dagu dan bibir Vince.
"Mommy sudah pulang dan dia mengirim pesan padaku," ucap Vince dengan tangan melingkar di pinggang Cecile.
Cecile mengangguk dan kemudian tangannya mulai menjalar ke bawah selimut menelusuri perut Vince.
"Kurasa kau sudah addict pada milikku, Baby," ucap Vince.
Cecile tertawa pelan dan kemudian mengusap perlahan anggota tubuh Vince yang kini menjadi favoritnya.
"Tapi aku masih belum berani melihatnya," lirih Cecile sambil menciumi leher Vince dengan cukup mahir.
Tangannya masih mengusap milik Vince dan membangkitkan gaiirah suami tampannya itu.
Vince membiarkan Cecile melakukan apapun pada tubuhnya karena sejak kemarin Vince-lah yang selalu memimpin permainan ranjang mereka.
Cecile naik ke atas tubuh Vince dan mulai menggesek miliknya di atas Vince hingga akhirnya mereka memasuki adegan inti itu dengan cepat.
Cecile bergerak maju mundur dan Vince memegang pinggulnya untuk membantunya bergerak.
Ritme permainan kali ini sangat slow karena Cecile baru belajar untuk memimpin permainan.
Tangan Cecile bertumpu pada dada bidang Vince dan mereka saling bertatapan.
"Ah ah ah ah ..." Desahaan Cecile dan Vince saling bersautan.
"Karena aku mencintaimu. Aku akan memberikan apapun padamu termasuk menjadi pelacuur di ranjangmu," jawab Cecile tersenyum tengil.
Vince tertawa pelan dan menangkup wajah imut Cecile lalu melumaat bibirnya dengan lahap.
Cecile masih bergerak stabil di atas tubuh Vince dan kini tangan Vince menangkup dua dadanya serta memijatnya pelan.
Semakin lama, gerakan Cecile semakin cepat hingga akhirnya dia mencapai puncak kepuasannya untuk yang kedua kalinya.
Vince membali posisinya dan juga posisi Cecile hingga Vince menciumi punggung mulus Cecile dengan leluasa.
Vince kembali bergerak dengan kulit dada dan punggung Cecile yang saling bersentuhan.
Tangan kanan Vince memegang pinggul Cecile dan memukul pelan bokong padanya.
"Posisi ini akan menjadi favoritku, Honey," lirih Cecile.
Selang beberapa menit, Vince pun menyelesaikan permainan ranjang mereka sore ini.
"I love you." Vince berbisik di belakang telinga Cecile dan mencium tengkuk lehernya.
Cecile tersenyum mendengar hal itu. Dirinya benar-benar tak menyangka bisa menikah dan mencintai Vince dengan waktu yang tergolong sangat singkat pun begitu juga yang dirasakan oleh Vince.
Cecile membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Vince.
"Takdir tak ada yang tahu, right? Proses kita terlalu mudah dan sangat cepat. Dan itu pun setelah aku melewati berbagai drama pernikahan sebelum bertemu denganmu. Tetapi aku tak menyangka Tuhan akan memberi hadiah se-sempurna dirimu di akhir perjalanan cintaku dalam waktu yang sangat singkat," ucap Cecile mengecupi bibir Vince yang tak pernah bosan dilakukannya.
"Kali ini aku cukup terkesan dengan ucapan manismu, Ma Cherie," sahut Vince dan memeluk tubuh hangat Cecile.
Setelah itu mereka pun mandi dan kemudian keluar dari kamar setelah dua hari mendekam di sana. Makanan mereka selalu diantar ke kamar oleh pelayan selama Vince memberikan kursus pelajaran bercinta pada sang istri.