My Edelweiss

My Edelweiss
Gelegar petir



Suasana sore itu tampak tak bersahabat, awan pekat kelabu menghalangi sinar sang mentari. Sentuhan sang bayu pun mulai menggores permukaan kulit, menyisakan hawa dingin. Perlahan tangisan langit meluruh ke bumi. Memberikan sumber kehidupan bagi setiap makhluk. Menyimpan 99% kenangan yang pernah terukir di hati.


"Hmm, ngapain kamu bengong?" Nino menepuk bahu Aluna yang melamun, memandang hujan di depan parkiran motor.


"Itu hujannya deras banget, gimana aku bisa pulang? Apalagi lokasi rumahku jauh dan enggak bawa mantel hujan," keluh Aluna tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.


"Kalau begitu kita ke rumahku aja, yuk!  Deket kok dari sini," ajak Nino sembari menggandeng pergelangan tangan Aluna.


"Eh--eh, tapi masih hujan loh."


"Udah enggak apa-apa aku bawa mobil kok!" jawab Nino antusias.


"Loh, kalau gitu kenapa enggak antar aku pulang aja?"


Nino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehehe, BBMnya sisa dikit yang ada nanti malah mogok di jalan, kamu mau dorong?"


Alasan klasik, mana mungkin mobil Nino kehabisan bahan bakar?


"Ogah banget!" Aluna memutar bola matanya malas.


"Nah, makanya berteduh di rumahku aja dulu. Nanti setelah reda kamu bisa balik ke sini, ambil motormu dan pulang deh," celoteh Nino.


Aluna tersenyum tipis, mendengarkan ocehan Nino. Semenjak mereka kenal baru kali ini lelaki itu berbicara banyak. Andaikan saja bisa setiap hari seperti itu.


Lebih baik aku ikuti sarannya deh, daripada aku masuk angin di sini. Toh, selama ini aku hanya tahu alamat rumahnya saja.


"Oke, aku ikut ke rumahmu."


"Yes!" Nino refleks mengepalkan kedua tangannya di dada.


Akhirnya mereka memutuskan menuju rumah Nino terlebih dahulu sambari mununggu hujan reda. Baru kali ini Aluna berkunjung ke kediaman kekasihnya. Manik mata almond itu menatap lekat bangunan tua bergaya klasik kuno. Era belanda masih terasa, saat memasuki halaman rumah yang dipenuhi hamparan bunga dan sebuah patung cupid yang menarik perhatian. Nino mempersilakan tuan putrinya menunggu di ruang tamu. Di sudut ruangan yang didominasi warna kuning gading itu, berjajar rapi bingkai-bingkai foto dari berbagai ukuran.


"Wah, rumahnya besar sekali!" Aluna bergumam takjub.


Mata Aluna menatap figura foto di depannya dengan kening berkerut. "Hmm, foto siapa saja ya di sana? Mungkin foto keluarga besar Nino."


"Silakan duduk! Aku ganti baju dulu ya, sebentar lagi akan ada yang membawakan minuman jadi tetap di sini, okay?"


"Heem," ucap Aluna patuh, ia masih kagum dengan interior dalam rumah itu.


Aluna menjerit ketakutan. "Akkkhhh! Nino, kamu di mana? Aku takut!"


Nino berlari menuju sumber suara itu dengan membawa senter, dilihatnya gadis pujaannya itu terduduk lemas dengan tangan gemetar. Wajahnya terlihat pucat pasi menahan rasa takut yang mencekam


Dipeluknya pemilik jemari lentik itu. "Sudah, jangan takut! Aku disini!" bisik Nino lembut.


Aluna masih dalam mode bengong. Terdiam dan berusaha beradaptasi dengan kegelapan yang menyelimutinya. "Jangan kemana-mana! Aku beneran takut."


"Iyaaaa, ini aku temenin kamu." Nino melepas dekapanya. Kemudian meletakkan senter di atas meja.


Di bawah sinar redup, Aluna masih bisa melihat jelas wajah pria rupawan blesteran belanda itu tampak bercahaya, semakin memikat hatinya. Namun, raut wajahnya berubah sendu.


"Nino, aku bingung sebenarnya bagaimana status hubungan kita ini?" tanya Aluna setengah berbisik. Nino memalingkan wajah, menatap Aluna dan bergerak menghampiri.


"Kamu meragukanku? Apa kamu tahu artinya jika seorang lelaki mengajak wanita ke rumah?" Nino berbalik melontarkan pertanyaan.


"Tidak, hanya saja aku merasa aneh jika ak--" Belum sempat Aluna mengucapkan kalimat yang ingin disampaikannya, Nino mendekatkan wajahnya.


Seketika tubuh Aluna memanas, perasaannya pada Nino masih sama seperti dahulu. Namun, terkadang ia bingung apakah Nino benar mencintainya? Sedangkan hingga saat ini pria itu belum pernah menyatakan perasaan pada Aluna.


"Itu artinya kamu dipercaya untuk menjadi Nyonya dalam rumah itu," ucap Nino lirih dengan tatapan teduh.


"Hah? Bisa kamu ulangi lagi?"


"Maaf, enggak ada siara ulang," Nino terkekeh melihat mimik wajah Aluna yang bengong.


"Haduh, di mana sih emergency lamp biasa di taruh?" gerutu Nino sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Lun, aku cari lampu di lantai atas dulu ya." Nino meminta izin Aluna, agar wanita itu tidak merasa ketakutan lagi jika melihat Nino tak ada di sisinya.


Aluna mengangguk setuju. Bosan menunggu, Ia asik memainkan ponsel hitamnya. Ponsel itu didapatkan dari Nino saat Aluna berulang tahun yang ke-20. Mungkin karena terlalu lelah, wanita itu perlahan mengatupkan kedua matanya.


Nino yang sibuk dengan emergency lamp, tidak memperhatikan bahwa sang kekasih telah tertidur, di atas sofa putih kesayangan almarhumah kakeknya dulu. Pria itu akhirnya menemukan apa yang dicari, ia segera menyalakan lampu darurat itu.


"Aluna ...." Nino menoleh ke arah dimana Aluna berada.


Ia melihat wanita itu sedang tertidur dengan tangan mendekap ponsel pemberiannya. Senyum tipis mengembang di sudut bibir sensual Nino. Lelaki itu melangkahkan kakinya hati-hati agar tidak mengusik tidur Aluna. Perlahan-lahan dibopongnya gadis pujaan itu ke dalam kamar tidurnya yang berada di lantai dua.