My Edelweiss

My Edelweiss
Karam



"Apa maksudnya? Kamu dengan mudahnya bertanya tanpa rasa bersalah, hah? Apa ini dirimu yang sebenarnya, Nino?" Aluna melangkahkan kakinya dan menghampiri sang kekasih.


Wanita itu mendekat, mendongakkan wajah agar tatapannya sejajar dengan Nino. Tampak jelas netranya yang merah itu membendung air nestapa. Tubuh sintal itu bergetar, menahan api amarah yang kian bergelora.


"Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu?" tanya Nino lagi, kali ini dengan menyentuh wajah Aluna.


Gadis itu menghempaskan tangan Nino dengan kasar. "Aku merasa jijik denganmu! Lihat ini!" Aluna menunjukkan deretan foto syur di galeri ponselnya.


Nino terbelalak, mulutnya terbuka lebar. Pria itu heran mengapa adegan saat ia berada di rumah Rere bisa sampai ke tangan Aluna. Ia menelan saliva dengan susah payah, bagaimana caranya menjelaskan ini?


"Puas! Kamu tega menghancurkan impianku, hah! Puas kamu--" Aluna memukul-mukul dada bidang kekasihnya, ia sudah tak sanggup menahan kekecewaan.


"Mengapa kamu tak melepaskanku, jika memang ada wanita lain di hatimu? Mengapa?" sambung Aluna lagi dengan suara sengau.


Namun, Nino bergeming. Ia tak tahu harus bagaimana? Serangan itu tiba-tiba merusak akal sehatnya. Tak ada yang mampu ia lakukan, nasi telah menjadi bubur. "Maaf."


"Hanya itu? Aku tak menyangka kamu sepicik ini! Kamu ...."


Nino mendekap tubuh Aluna erat, gadis itu memberontak. Namun, sia-sia saja, cengkeraman tangan kekar Nino lebih kuat dari dirinya. "Biarkan aku memelukmu untuk yang terakhir." Pria itu berbisik lirih, nyaris tak terdengar.


Aluna mengernyitkan alis, air mata yang sedari tadi ditahannya kembali mengalir. Jantungnya berdenyut sangat cepat, menyisakan sakit yang teramat sangat. Sesaat kemudian Nino melonggarkan pelukannya. Ia menarik napas dalam.


"Aku ingin kita putus."


"Apa? Kamu membuangku begitu saja?" tanya Aluna dengan bibir bergetar.


Pria itu membalikkan tubuhnya, menyembunyikan wajahnya yang sangat tersiksa. "Ya, aku mencintai gadis lain. Aku ingin kita putus."


Nino beranjak pergi, menjauh dari kekasihnya. Ia menaiki tangga yang menuju kamarnya, tanpa menoleh ke belakang lagi. Tangannya mengepal kuat, menahan gejolak. Kali ini ia harus mempertaruhkan cintanya. Pria itu tak ingin menyakiti Aluna lebih dalam. Mungkin


dengan begini, gadis itu bisa mencari pria lain yang lebih baik darinya.


"Nino! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Apa kamu lupa semua kenangan kita? Apa aku tak menarik lagi bagimu? Beri aku penjelasan! Jawab, Nino!" pekik Aluna sembari menangis sesenggukan.


Lelaki berperawakan tegap itu menghentikan langkahnya. Ia melongokkan kepala ke bawah. "Kamu tak sepadan denganku. Selama ini kita pacaran karena aku merasa iba bukan cinta!"


"Terimakasih, Nino. Terimakasih atas tahun-tahun penuh kebahagiaan yang kamu berikan. Mungkin kamu sudah menemukan cinta sejatimu, anggap saja kebersamaan kita hanya suatu permainan."


Aluna memegang dadanya yang terasa sangat nyeri, perlahan ia menyeka air nestapa yang tak kunjung berhenti. Gadis itu berlari, menerobos rintik-rintik hujan. Air matanya berbaur dengan tangisan langit, gelegar petir yang biasanya ia takuti kini tak berarti apapun. Bahkan jika dirinya mati saat itu juga ia tak akan menyesal. Separuh nyawanya telah pergi bersama dengan cinta Nino.


Tuhan, sesakit inikah mencintai? Mengapa Engkau mempertemukan kami, jika akhirnya seperti ini? Mengapa, Tuhan?


Langkah Aluna terhenti, ia meraung-raung di bawah guyuran hujan. Merutuki diri dan nasibnya. Tangan halusnya meremas rerumputan yang berada di halaman tempatnya meringkuk. Kulit arinya mulai terkoyak, tersayat oleh permukaan rumput liar yang kasar. Cairan merah segar mulai mengalir, mengiringi tangisan dan gelegar suara langit. Pedih yang didapat dari luka di tangan tak sepedih luka batinnya.


"Tuhan, mengapa ini begitu tak adil untukku? Mengapa?" pekik Aluna di antara tangisan langit.


Mencintai dan menaruh harapan penuh pada satu lelaki. Cinta pertama yang awalnya menerbangkan raganya di langit ke tujuh, kemudian menghempaskan dengan kuat di atas tanah. Jika ia bisa memilih, ia 'kan pergi jauh, menghilang dari permukaan bumi.


Dengan langkah gontai Aluna berusaha berdiri, terseok-seok menerjang genangan air. Parasnya yang ayu kini tampak sangat lusuh, kotor dan penuh luka! Gadis itu meraih kendaraannya dengan tenaga yang tersisa dan kembali pulang.


Tanpa ada yang menyadari, Nino masih memandang kekasihnya itu dari jendela atas kamarnya. Sosoknya berdiri tegap, tetapi tidak hatinya. Sudut matanya meneteskan bulir bening, tangan kekar itu mengepal. Memukul-mukul dadanya sekuat tenaga. Seakan-akan itu adalah sebuah hukuman atas apa yang ia lakukan.


"Maaf ... aku memang lelaki yang tak becus! Mungkin suatu saat nanti, kamu akan menemukan kebahagiaan dengan pria lain. Aluna, mengapa dirimu bagaikan Edelweiss, ketika aku semakin mendekat, maka beribu orang 'kan menghalau agar aku tak memetikmu."


"Maafkan pria bodoh yang telah menyakitimu ini, maaf Aluna," bisik Nino sembari terus memukuli dirinya sendiri.


Tak akan ada lagi kisah manis di kantor. Segalanya kini telah berubah, ikatan itu harus pupus di tengah jalan. Terkadang hidup. memaksa kita harus memilih. Mengorbankan apa yang kita inginkan demi tujuan yang lain.


Kecuali jika Tuhan membalikkan takdir, segalanya yang tak mungkin akan menjadi kenyataan. Aluna Tavisha, harus menerima kesakitan ini, dewi aprodhite tak memihak pada cinta mereka Ataukah ini ujian? Biar waktu yang 'kan menjawab.


Nino membalikkan tubuh, netranya tak lagi mampu menangkap bayangan sang kekasih. Bukan! Kali ini julukannya berbeda, mantan kekasih tepatnya. Karena mulai hari itu ia sendiri yang memutuskan sulaman cinta yang mereka rajut bersama.


Dadanya terasa amat sesak dan berat. Bahkan untuk bernapas saja terasa sangat sulit, sesungguhnya ia tak bisa hidup tanpa ada Aluna. Seandainya pria itu bisa memutar kembali waktu, mungkin dirinya akan memilih terlahir dari keluarga sederhana saja. Agar mereka tetap bersama dan tak menyia-nyiakan cinta suci itu.


Pria berwajah tampan itu memasuki kembali ruang tidurnya. Ia meraih sebuah bingkai foto kenangan bersama Aluna. Mengusap lembut wajah mantan kekasihnya itu.


"Aluna, biarlah cinta kita menjadi cinta platonis. Cinta yang tak harus memiliki, beruntungnya aku pernah merasakan kasihmu," gumam Nino sembari menurunkan foto itu dari tempatnya.


Lelaki itu menyimpan foto kenangan mereka di dalam almari, diselipkannya benda itu di bawah tumpukan pakaian. Mungkin Nino benar-benar ingin melupakan Aluna, ia merasa semakin terluka dengan kehadiran foto itu. Namun, pria itu lupa masih ada foto lain di ponselnya. Foto selfi terakhir yang diabadikan kekasihnya.