
Entah sudah berapa puluh kali Awan menjepret kamera ponselnya. Puas mengabadikan beberapa moment indah di Mahameru, mereka berniat untuk turun. Tak lupa mereka berselfi dengan bendera merah putih yang telah mereka kibarkan di puncak tertinggi itu. Nino beserta kedua anggota timnya bergabung dengan kelompok lain.
Titik terberat pendakian Semeru bukan hanya ketika mencapai puncak, melainkan juga saat kembali turun. Dibutuhkan konsentrasi tingkat tinggi agar tidak terjembab di Zona Kosong 75 atau yang biasa disebut zona kematian.
"Turun dengan perlahan, jangan terlalu cepat dan saling mendorong! Di bawah sana ada jurang dalam yang menanti kita." Seseorang berjaket gunung biru laut memberi peringatan. Tampaknya ia seorang porter.
Zona Kosong 75 adalah zona tengkorak yang terletak di tepi jalur Arcopodo menuju puncak Mahameru. Zona ini adalah jurang yang sangat dalam. Dinamakan "75" karena kedalamannya mencapai 75 meter yang banyak sekali memakan korban.
"Ingat, jangan pernah berpikir untuk berlari! karena turunan ini curam, jika kita tidak sengaja berbelok arah ke kanan bisa-bisa masuk ke dalam Zona Blank 75," tutur Nino memperjelas perintah sang porter tadi.
"Baik, Pak! Ada baiknya kita berdoa dahulu sebelum turun," usul Raka sembari membenahi saeung tangannya.
"Boleh, silakan berdoa menurut kepercayaan masing-masing."
Kini mereka bertujuh karena empat anggota tambahan adalah anggota dari regu lain, apa alasannya mereka bergabung? Agar lebih terkendali dan memiliki persediaan amunisi lebih tentunya. Sehebat apapun seorang pendaki, jika tidak ada anggota tim terasa hampa.
"Ayo, kita kembali turun!" teriak seseorang dari tim lain yang berada di belakang Raka.
Mereka berjalan sengan sangat hati-hati. Berusaha menyeimbangkan tubuh agar tidak terjatuh dan terguling. Jika itu terjadi, tentu saja akan membuat anggota yang berada di barisan depan tertimpa dan itu akan berakibat fatal.
Belaian sang bayu tidak lagi sedingin ketika berada di puncak. Namun, pasir-pasir masih beterbangan dengan lincah. Nino yang sedari awal selalu berada di depan berusaha membasahi bibirnya yang kering. Badai pasir ringan mulai menerjang, mereka semua melindungi panca indera dengan lengan.
Sudah berapa banyak bulir pasir yang masuk ke dalam rongga mulut Nino. Namun, lelaki itu masih terus berada di garda depan, memberikan perlindungan untuk timnya. Setelah menempuh medan yang membuat darah berdesir.
Rombongan Nino beserta tim lain tiba di Ranu kumbolo. Penglihatan lelaki itu sedikit berkurang, mungkin karena efek dari badai pasir yang sempat menerjang perjalanan mereka tadi.
Dia memicingkan mata, mengerjap-ngerjapkan kelopak netra beberapa kali. Masih dapat dilihatnya dengan jelas Aluna menghampiri mereka. Jaket tebal itu sangat cocok dikenakan Aluna. Ah! Memakai pakaian apapun ia terlihat cantik di mata Nino.
Wanita itu melewati Raka dan Awan. Ia perlahan menghampiri mantan kekasihnya. Bulir bening menetes dari sudut netranya, ya Aluna menangis sesenggukan di hadapan sang mantan.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Nino sembari mengusap wajah gadis bermata sipit itu.
Aluna menyeka sisa air matanya. "Bodohh!"
Bahana Aluna menggelegar, membuat Raka dan Awan yang berada tak jauh dari mereka sontak menoleh kebingungan. "Ada apa, Wan?"
Awan hanya menghendikan bahu, pertanda ia juga tidak mengerti apa maksud dari umpatan Aluna. Kemudian mereka berdua berselonjor di samping tenda, tak peduli apa yang dilakukan dua sejoli itu lagi. Saat itu yang terpenting mereka bisa sedikit melenturkan otot-otot kaki yang terasa kaku.
"Apa maksudmu?" Kening Nino berkerut, tersirat keheranan.
"Kamu bodohh! Kenapa kamu tidak memberiku kabar, hah? Bukankah kamu hanya bilang kalau akan mendaki sampai tanjakan cinta. Lantas ke mana kamu pergi dua hari ini? A-aku ...." Bulir bening kembali menetes, membasahi pipi Aluna yang baru saja kering.
Nino menarik kedua sudut bibirnya, mengedipkan netranya perlahan. "Kamu merindukanku?"
"Tidak! Wanita mana yang akan merindukan pria plin-plan sepertimu, hah!" rutuk Aluna dengan kesal, tetapi juga bercampur bahagia.
Anggota tim berbadan besar itu cepat tanggap dan segera mengeluarkan ponsel. Kemudian menyodorkan benda itu kepada Aluna. "Nih, rekamannya."
Wanita bermanik mata almond itu menyimak dengan serius, setiap pergerakan yang terekam dalam video berdurasi panjang itu. Beberapa kali Aluna terbelalak ketika melihat Nino yang hampir terjatuh.
"Ya Tuhan," gumam Aluna sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Usai menyaksikan keseluruhan pembuktian cinta Nino. Aluna mengalihkan pandangan, menatap pria di hadapanya dengan sinis. "Kamu gila, Nino. Cacian macam apa lagi yang harus kulontarkan? Mempertaruhkan nyawamu demi aku?"
"Sebegitu pentingnya kah diriku untukmu?" sambung Aluna dengan mata sembab.
Nino mengangguk pelan. "Sangat berarti, tanpamu hidupku hampa."
"Lihatlah dirimu! Tampak lusuh dan dekil!" Derai air mata mengalir deras, Aluna tak mampu membendungnya lagi.
Hatinya terkoyah bukan karena patah hati. Melainkan melihat keadaan fisik Nino yang penuh luka. Bibir yang selalu berucap nakal itu tampak mengelupas, kulitnya kusam dan penuh pasir. Bahkan surai hitam legam milik Nino terlihat memerah dan kaku.
"Aku merindukanmu, Aluna. Setiap kali aku ingin menyerah, bayanganmu selalu melintas. Memberiku semangat untuk kembali ke sini, tidakkah tersisa cinta di hatimu untukku?"
Putra Bu Hilma terus memandang wajah ayu Aluna. Bukan tanpa alasan, tetapi memang rindu di hatinya telah terpendam terlalu lama. "Jawab, Aluna. Jangan menggantung harapanku!"
"A-aku, mu-mungkin aku--" Nino menutup bibir Aluna dengan telapak tangannya.
"Katakan dengan benar."
Gadis berambut sepinggang itu mendongakan sedikit wajah agar tinggi mereka sejajar. "Aku tidak bisa--"
"Cukup! Aku sudah tahu kelanjutannya." Nino berlalu pergi, begitu saja melewati Aluna tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Mendengar kata "tidak" seakan meruntuhkan segala asa Nino. Lebih baik ia tidak mendengar jawaban Aluna dari pada harus menelan pil kecewa. Sesakit inikah ditolak? Seharusnya ia sudah tahu, mantan kekasihnya itu tidak mungkin bisa memaafkan kesalahan terbesar yang telah ia perbuat.
"Tunggu, aku belum selesai!" teriak Aluna.
Lelaki itu menghentikan langkahnya, tetapi tidak membalikan badan. Ia hanya terpaku dan bergeming, aura dingin Nino kembali beradu dengan dinginnya sentuhan angin Semeru.
"Aku ...." Aluna bergerak menghampiri Nino. "Tidak bisa berhenti memikirkanmu sejak pertama kali kita bertemu." Wanita berlesung pipi itu memeluk tubuh kekar itu dengan erat dari belakang.
Nino memejamkan mata, merasakan kehangatan yang diberikan oleh Aluna. Menikmati setiap sentuhan yang lama tidak ia rasakan. Aroma tubuh gadis itu tetap sama, seperti beberapa bulan yang lalu. Ketika praha belum terjadi.
"Apa kamu masih mencintaiku?" tanya Nino sembari menengadahkan sedikit wajahnya.
"Ya, aku masih sangat mencintaimu, Nino."