
"Baik, Ma. Aluna akan meyimpannya."
"Masih ada satu hal lagi, Aluna."
Manik mata Aluna membulat sempurna. "Apa, Ma?
"Pakailah cincin itu sebagai cincin pernikahan kalian. Apa kamu bersedia?"
Jantung Aluna serasa berhenti berdetak. Memakai cincin mewah ini sebagai cincin pernikahannya? Ia tak mungkin menolak, tetapi dirinya juga tidak bisa memutuskan hal itu tanpa persetujuan Nino.
"Aluna akan merundingkan ini dengan Nino, Ma. Karena bagaimanapun dia calon suamiku," ucap Aluna tersipu.
Bu Hilma merentangkan kedua tangan, bersiap untuk memeluk calon menantunya itu. "Mama merestui cinta kalian, perjuangkan yang menjadi hakmu."
Setelah selesai dengan segala urusannya, Aluna berpamitan untuk pulang. Tak lupa sang mertua membawakan sedikit oleh-oleh untuk calon besannya. Wanita itu pun mengendarai sepeda motornya dengan santai.
Ketika di jalanan pandangan Aluna tertuju pada penjual es kelapa muda di sisi kanan zebracross. Ia ingat ibunya sangat menyukai minuman pengganti isotonik tubuh itu. Aluna pun segera memarkirkan si putih, tepat di depan gerobak dorong milik penjual es tersebut.
"Bang, es kelapanya dua ya dibungkus," ucap Aluna sembari merogoh ke dalam tasnya.
Babang tampan penjual es pun dengan cekatan memasukkan serutan kelapa muda dan airnya yang menyegarkan. "Dikasih perasan air jeruk nipis enggak, Neng?"
"Boleh, Bang. Sedikit saja ya, nanti kecut," jawab kekasih Nino itu santai.
"Iya, tapi kecutnya perasan jeruk enggak sekecut waktu kita ketemu mantan bawa pacar barunya, Neng," kelakar lelaki bertopi itu.
Aluna tersenyum mendengar candaan penjual itu. "Kecut enggak, tapi perih Bang."
"Ah, bisa aja Neng. Pengalaman ya," telisik penjual itu lagi.
Aluna hanya tersenyum simpul. Apa mungkin si babang ini cenayang? Astaga, sekarang para cenanyang punya profesi tambahan. Hiburan kecil seperti ini lah yang selalu membuat Aluna betah membeli jajanan di kaki lima. Mereka bisa berkomunikasi luwes tanpa canggung.
"Sayang." Seseorang tiba-tiba datang mencium tengkuk Aluna.
Aluna tersentak dan refleks mengibaskan tangan, mengenai wajah orang yang telah menciumnya sembarangan.
"Al, kamu gila!" Manik mata almond itu membulat sempurna.
Plaak!
Tamparan keras membekas di pipi putra bungsu Pak dewangga itu. Pria yang tadi mencuri ciuman tengkuk, menatap Aluna lekat. "Kenapa? Aku kan sudah menyatakan perasaanku."
"Benar, tetapi bukan berarti kamu bisa seenaknya menciumku!"
Alfaro mengernyitkan alis. "Hmm, begitu?"
"Tentu! Ingat baik-baik jangan ulangi lagi! Bahkan kita bukan sepasang kekasih."
"Tapi, Lun-"
Aluna mengibaskan surai panjangnya. "Aku bahkan belum menerimamu, tetapi kamu bersikap seolah-olah kita jadian. Tak kusangka sikap baikmu hanyalah sebuah topeng! Kamu tidak beretika!"
"Berapa, Bang?" tanya Aluna dengan nada ketus ke penjual es.
"Sepuluh ribu, Neng."
Wanita itu segera memberikan selembar uang kertas berwarna ungu, kemudian berlalu pergi tanpa menyapa Alfaro lagi.
"Hah, bukankah itu biasa? Aku sering melakukannya ketika kuliah di Melbourne. Aneh sekali," gumam Alfaro sembari mengusap-usap pipinya yang terasa panas.
"Es kelapa dulu biar adem pipinya?" tawar penjual itu sembari menyodorkan segelas es.
Alfaro menerima meinuman itu dengan muka masam. "Ah! Wanita sungguh sulit dimengerti."
"Kalau mau menaklukkan wanita itu jangan terburu-buru, sentuh tepat di hatinya. Wanita itu sensitif, Bang," tutur penjual es sembari mengelap meja yang berada di hadapan Alfaro.
Alfaro manggut-manggut sesekali ia mengerucutkan bibir. "Bang, sepertinya Anda pengalaman. Boleh ajari saya?"
"Hehe, pastilah lawong saya punya tiga istri. Maunya sih nambah satu lagi, kan eman slotnya kosong satu," ucap lelaki itu dengan aksen jawa.
Waw! Abang ini benar-benar pecinta wanita. Saking mengayominya sampai punya tiga istri. Bagus, Alfaro sudah menemukan guru yang punya ilmu tinggi. Putra Pak Dewangga itu berjalan menghampiri penjual es.
"Abang namanya siapa?" tanya Alfaro setengah berbisik.
"Rezky Firdaus, Bang. Biasa di panggil Eky, cakep 'kan?" Penjual itu bertanya balik sembari menggerakkan alisnya naik-turun.
Amazing! Entah itu nama samaran atau asli, yang pasti nama pria itu lebih keren dari nama kakak Alfaro yang notabene lebih parlente. "Haha iya keren. Abang tutup jam berapa?"
"Sebentar lagi," jawab pria itu lempeng.
"Bagus! Nanti Abang ikut saya ke cafe. Kita ngobrol dulu, saya butuh ilmunya. Jadikan saya muridmu ya." Alfaro mengatupkan kedua tangan seperti gerakan menyembah.
Abang Eky mengerutkan alis. "Boleh, harinya pas ini jadwal free."
"Maksudnya?"
"Ini 'kan hari minggu. Nah, masing-masing istriku jatahnya dua hari. Hari ini bebas, enggak ada jatah berkunjung gitu jadi bisa deh sharing sama Abang."
Lagi-lagi Alfaro dibuat tercengang, mulutnya kini ternganga lebar. Bahkan lelaki itu mengatur jadwal kunjungan untuk para istrinya. Panutan yang berada di atas ahli ini namanya. Alfaro pun kembali mengambil posisi duduk di samping gerobak.
"Bentar ya, Bang. Beres-beres dulu, kalau Abang mau bantuin boleh kok." Penjual es itu mengerling genit.
Astaga! Beraninya dia memerintah putra Dewangga, tetapi demi ilmu yang akan ia tularkan tubuh Alfaro bergerak dengan sendirinya. "Aku bantuin apa ini, Bang?"
"Tolong buangin kulit kelapa di pojokan sana! Tempat pembuangannya di sebelah situ, tuh." Bang Eky memonyongkan bibir untuk menunjuk letak pembuangan sampah.
Alfaro mengangguk patuh. Kalau bukan karena ia ingin memperoleh hati Aluna, pria itu tidak akan rela melakukan pekerjaan kasar. Seumur hidupnya baru kali ini ia diperintah oleh orang lain selain sang papa.
"Sebelah sini ya, Bang!" teriak Alfaro sedikit kesal.
Ternyata tumpukkan kulit kelapa itu tidak berjumlah sedikit, menggunung entah sudah berapa hari dibiarkan berada di sana. Sehingga ada beberapa yang basah oleh guyuran air hujan semalam.
Alfaro menyingsingkan lengan kemeja yang ia kenakan dan mulai memunguti tumpukkan sepet. Beruntungnya hari itu ia pergi sendirian, jika bersama sang kakak sudah pasti dirinya akan jadi bahan ejekan.
"Astaga, kenapa aku jadi seperti anak tiri yang teraniyaya begini! Bahkan orang itu tidak memberikanku alat untuk mengangkut sampah, shit!"
Di sisi lain Bang Eky sibuk melipat taplak meja plastik, kemudian ia mencomot sepotong bala-bala yang dibuat istri pertamanya.
"Hmm, tampaknya pemuda itu gigih! Oke, akan kuturunkan ajian pinguin goyang padanya, aku yakin pasti banyak wanita yang akan mendekatinya."
Setelah selesai melakukan ujian pertamanya, Alfaro mendekati calon gurunya itu. "Bang, sudah kelar. Di mana aku bisa cuci tangan?"
"Tuh," jawab Bang Eky sembari menunjuk seember air sisa cucian gelas yang sudah tidak terpakai.
What the hell? Demi apa Alfaro menjadikan pria itu gurunya. Semoga saja ajaran yang ia berikan tidak sesat dan malah membuat Aluna menjauh, ya.