
Nino mengobrak-abrik semua dokumen di atas meja kerjanya. Emosinya meledak-ledak melihat kemesraan Aluna dengan musuh bebuyutan. Mungkin, jika itu pria lain dia tak akan semarah itu.
Tidak! Ini bukan salah Alfaro, dirinya lah yang mencampakkan Aluna begitu saja. Wajar jika gadis itu membencinya sekarang. Benih friksi tumbuh begitu subur di antara mereka. Semua ini murni kesalahan Nino, mengapa ia tak mempertahankan kebahagiaannya?
"Aku harus menemui Mama! Bagaimanapun aku tidak bisa jika terus-terusan begini!" Nino mengepalkan tangan di atas meja, memukul benda keras itu sekuat tenaga.
Sedangkan Aluna duduk gemetaran di ruangannya. Alfaro menyusul setelah melihat pertikaian mereka. Ia tak menyangka ternyata akar dari permasalahan itu adalah Rere, gadis yang tak asing baginya. Ternyata, ia memang wanita yang beberapa tahun lalu dilihatnya.
"Lun, kamu baik-baik saja?" tanya Alfaro sembari mengernyitkan alis.
Aluna tak menjawab pertanyaan pria itu, ia malah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang, pertanda bahwa ia sedang meluapkan emosinya.
"A--apa aku kurang cantik?" Aluna mendongakkan wajah, menatap sendu Alfaro.
Lelaki itu menggeleng ringan. "Tidak, kamu cantik bahkan tanpa riasan kamu tetap cantik."
"Lantas kenapa dia mempermainkanku?"
"Jawab, Al! Kenapa lelaki mempermainkan hati wanita sesukanya? Kenapa?" Aluna mengguncang-guncang tubuh kurus Alfaro.
"A--aku tak tahu apa isi hatinya. Tenanglah! Ini di kantor, kamu harus bisa mengatur emosimu!"
Tiba-tiba Alfaro memeluk tubuh sintal di hadapnya. Pria itu mengusap lembut surai Aluna. "Tenanglah! Dia pasti akan menyesali semua."
Gadis bernetra indah itu tersentak dan menepis pelukan Alfaro, tangannya bergerak sendiri mengikuti kata hatinya. Sesungguhnya ia tak rela jika harus berpisah dengan Nino. Cinta untuk putra Bu Hima itu begitu kuat.
"Maafkan aku, Al. Tolong, jangan peluk aku jika tidak sedang bersandiwara, ya!" pinta Aluna sesenggukan.
Alfaro mengangguk pelan, sebenarnya ia hanya ingin menenangkan Aluna. Namun, tampaknya gadis itu tak ingin pria lain menyentuhnya. Sikap Aluna gang seperti itu semakin membuat hati Alfaro berdesir. Entah, berapa banyak gadis yang mendekatinya, hanya gadis di hadapannya itu yang selalu membuatnya takjub.
"Lun, jika memang kamu belum bisa menghapus Nino dari hatimu. Aku akan setia menunggu, sampai bayangan pria itu lenyap," ucap Alfaro dengan tatapan lurus.
Netra yang telah sembab itu memandang Alfaro dengan penuh pertanyaan. Menunggu? Aluna tidak habis pikir apa yang sebenarnya dimaksud Alfaro. Bukankah mereka hanya bermain-main saja.
"Kamu ingin aku berpisah dengan Nino selamanya?" tanya Aluna tanpa basa-basi lagi.
Dalam keadaan kalut begitu Aluna sudah tak mampu menyaring kata-kata. Semua perkataan yang ia lontarkan murni dari dasar hatinya. Bahkan saat ia memaki Nino itu pun benar-benar kata hati. Ada perasaan kecewa, mengapa sahabatnya malah setuju mereka berpisah.
"Bukan begitu, tapi kurasa Nino tidak pantas memilikimu. Aku ...." Alfaro menghentikan kalimatnya.
"Lantas, apa tujuanmu membantuku agar Nino menyesal memutuskanku? Bukankah agar ia sadar dan kembali?" cecar Aluna lagi, kali ini dengan sorot mata tajam.
Alfaro menarik napas panjang. "Bukan, aku memiliki tujuan lain."
"Lupakan saja! Suatu hari nanti kamu akan mengetahuinya." Alfaro tersenyum dan kembali ke tempat duduknya.
"Aku akan ke toilet sebentar, titip mejaku ya!" sambung Alfaro lagi.
Aluna mengangguk pelan, ia menyeka sisa-sia air mata. Gadis itu membuka isi dalam handbag dan mengambil wadah bedaknya. Dipolesnya sedikit bagian yang sembab agar tersamarkan.
Pertemuannya dengan Nino hari ini bagaikan pedang bermata dua. Menyakitkan! Sungguh menyisakan pedih yang teramat dalam bagi dirnya dan juga Nino. Ketika dua hati saling terpaut, tetapi takdir menolak hanya kesakitan yang akan dirasakan. Haruskah Aluna melepas cinta pertamanya itu?
Di ruangannya Nino tampak amat gelisah. Tanpa membuang waktu lagi, ia beranjak pergi menuju ruangan Pak Suhandi. Entah mengapa nalurinya terus mendesak agar ia mengakhiri permainan itu. Sungguh panas membayangkan Aluna disentuh oleh pria lain, apa mungkin begitu juga yang dirasakan Aluna ketika ia bersama Rere?
"Pak, hari ini aku pulang lebih awal ada hal lain yang harus kuurus," ucap Nino tanpa basa-basi lagi.
Pak Suhandi yang kedatangan tamu tiba-tiba itu tersentak kaget. "Loh, ada apa Pak Nino? Duduk dulu, ini masih pagi kenapa Anda pulang?"
"Sudahlah, Pak! Jangan banyak tanya! Tidak semua urusanku harus Anda ketahui!" hardik Nino dengan lantang.
Pak Suhandi menelan salivanya sendiri, ia tertegun melihat tingkah Nino. Biasanya bosnya itu bisa dengan mudah menceritakan masalahnya, mungkin kali ini ia terlalu ikut campur. "Ba--baik, Pak. Silakan Anda pulang! Biar saya yang menggantikan tugas Anda nanti."
"Terimakasih," ujar Nino sembari membalikkan badan.
Pria tambun orang kepercayaan Nino itu mengelus dada, kemudian mengusap peluh di kening dengan sapu tangan. Beberapa detik yang menegangkan, seseram itu ternyata jika Nino marah.
"Sebenarnya ada masalah apa pagi-pagi begini? Ah, sudahlah. Aku tak punya hak untuk turun tangan lebih jauh," gumam Pak Suhandi sembari membuka salah satu dokumen.
Ia kembali pada aktivitas sebelumnya dan melupakan kata-kata Nino yang pedas. Sudah lebih dari cukup dirinya diberi kepercayaan dan gaji yang besar oleh Bu Hilma. Jangan sampai akibat sikap keingintahuannya yang besar malah membuatnya terdepak dari perusahaan itu.
Pria bermata es itu mempercepat langkahnya, tetapi di perjalanan menuju parkiran. Ia bertemu dengan sang musuh. Tatapan mereka beradu sesaat, lalu Alfaro menahan Nino dengan tepukan di bahu. "Aku tidak akan membiarkanmu merebut Aluna."
"Lepaskan! Jangan kotori jasku dengan tanganmu! Cih, kamu pikir aku takut, hah? Kita lihat saja siapa yang akan dipilih olehnya," tandas Nino dengan tajam.
Nino menuju parkiran mobil dengan tangan mengepal. Sorot matanya tajam dan berkilat. Pria itu memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju rumah sang ibu. Perkataan Alfaro barusan semakin mengobarkan api friksi, mata hatinya telah gelap terbakar habis.
Namun, baru beberapa detik ia melaju di aspal. Keseimbangan mobilnya hilang, pria itu merasa perjalanan begitu tidak nyaman. Nino menghentikan kendaraan besinya dengan kesal. "Kenapa lagi, sih?"
Pria itu turun dari mobil dan memeriksa bagian belakang mobilnya. Ternyata ban belakang bagian kanan bocor. Pantas saja kendaraan itu seperti berbelok-belok.
"Sial!" rutuknya sembari menggebrak bumper belakang mobilnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk mengganti ban dahulu, beruntungnya ia selalu membawa ban cadangan. Bayangan Aluna terus menghantui pikirannya, memacu semangat baru untuk segera menemui sang ibu.
Kunci dari segala permasalahan itu adalah ibunya. Bu Hilma mungkin tidak akan menolak permintaan putranya. Jika menolak pun, Nino tetap akan maju merebut kembali miliknya.