
Sang mentari menyusup ruang tidur Aluna, sebuah jendela besar yang menghadap ke luar itu memantulkan cahaya kuning keemasan. Kehangatan menjalari punggung Aluna, wanita itu terbangun dari bunga tidurnya.
Sesekali ia meregangkan otot tubuhnya yang kaku, kemudian mengucek-ucek netra agar pandangannya membaik. Manik matanya memandang sekitar, tempat tidurnya masih tertata rapi. Tentu saja karena ia semalam tidak menyentuh benda itu sama sekali.
Perlahan Aluna menggerakkan kedua kakinya menuju kamar mandi, setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri. Gadis itu membuka almari, memelototi beberapa helai pakaian formalnya. Jika biasanya Aluna memilih kemeja polos berwarna netral, kali ini berbeda.
Aluna menjatuhkan pilihan pada sebuah kemeja dengan motif garis. Gadis itu sengaja membuka kancing bagian atas agar terlihat santai dan sensual. Kemeja itu ia padukan dengan celana palazz. Tentunya, penampilan yang berbeda hari ini akan menarik perhatian bahkan bisa menjadi pusat perhatian di tempat kerja nanti. Kemudian Aluna mulai memoles wajah, hanya dengan bedak tipis dan lipstik warna nude. Merasa dandanannya sudah rapi, gadis itu bergegas menuju dapur.
Aroma roti bakar menyeruak, tampak sang ibu sedang asik mengaduk segelas kopi. Aluna tersenyum melihat isi dalam ruangan itu tertata rapi dan bersih. Bahkan debu pun tampaknya enggan menempel lagi.
"Bu, Aluna berangkat kerja dulu," ucap Aluna sembari mencium punggung tangan wanita berusia senja itu.
Gadis itu menyambar sepotong roti bakar yang telah disiapkan sang ibu. Tampaknya ia sangat tergesa-gesa, alasannya bukan karena ia ingin segera bekerja. Namun, menghindari pertanyaan ibunya. Pasti sang ibu sudah melihat ruang tidurnya yang berantakan kemarin dan itu menimbulkan berbagai argumen.
"Ada apa dengan anak itu?" gumam Bu Asmi sembari menarik kursi makan. Beliau meraih koran pagi itu dan menyeruput kopinya dengan mimik wajah serius.
Tak butuh waktu lama Aluna telah sampai di depan lobby, manik matanya bergerak menyusuri ruangan yang tampak sedikit ramai. Sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatian para karyawan pagi ini. Aluna menerobos masuk ke dalam kerumunan, berbaur bersama yang lain.
"Bagaimana bisa kamu bekerja di sini, hah? Bahkan aku tidak menerima CV mu!" bentak Nino pada pria berkemeja merah burgundi yang membelakanginya.
Pria itu tak membalikkan badan, hanya melambaikan tangan. "Terima saja kalau saat ini kita bekerja sama. Sudah, aku mau lihat ruanganku."
Dengan seenak jidad lelaki itu pergi, meninggalkan kerumunan yang baginya tak penting. Nino menggertakkan gigi, tangannya mengepal kuat. Manik mata yang biasanya tampak dingin itu berkilat merah.
"Nino, apa yang terjadi?" Seorang wanita berpakaian minim lari menerobos kerumunan dan langsung memeluk Nino.
"Lepaskan aku, Re!"
Pria itu pergi begitu saja tanpa mengajak calon istrinya. Nino sudah tak peduli berapa banyak orang yang menyaksikan pertengkaran mereka pagi itu. Hari ini seorang karyawan baru masuk, tetapi ternyata Nino sudah mengenalnya.
Namun, bukan hubungan baik yang terjalin di antara mereka melainkan persaingan sengit. Ya, Alfaro Dewangga adalah saingan ketat Nino ketika masih berada di bangku kuliah. Mereka selalu memperebutkan posisi terbaik di segala bidang mata kuliah.
Aluna memicingkan mata, ia melongokkan kepala, mengejar pria berkemeja merah itu yamg ternyata berjalan ke arah ruang kerjanya juga.
"Tunggu dulu! Anda siapa?" tanya Aluna sedikit berteriak.
Pria itu membalikkan badan, Aluna membelalakan netranya, ternyata pria itu adalah orang yang dikenalnya. "Al? Kamu ngapain di sini?"
Alfaro tersenyum manis, menarik kursi di depan Aluna. "Mulai hari ini aku bagian dari perusahaan Bu Hilma, kita akan sering berjumpa."
"Waw, selamat datang. Aku tak menyangka kita akan menjadi rekan," ucap Aluna dengan mata berbinar.
Entah mengapa hati Aluna sedikit bahagia, mungkin karena pria itu adalah orang yang menurut gadis itu baik dan bersahabat. "Kamu bagian apa?"
"Ini," jawab Al sembari menunjuk acrylic stand di depannya.
Al memutar bola matanya. "Ya, ya kita akan lebih sering mengobrol. Ngomong-ngomong yang lain ke mana?"
"Hmm, masih di lobby. Ka--kamu tadi berantem sama Nino? Aku sempat melihatnya sebentar." Rasa penasaran yang memenuhi benaknya, memaksa gadis itu untuk bertanya.
"Iya, dia teman satu kampus. Bahkan satu kelas, tapi kami selalu bersaing." Al menyeringai, tampak rona permusuhan di wajah imut itu.
"Oh, begitu. Baiklah, selamat menikmati posisi barumu. Sebentar lagi pasti Retno datang untuk serah terima." Aluna tampak tak tertarik lagi dengan penjelasan Alfaro tentang mantannya
Al memutar kursi dan menghadap ke belakang, tepat di depan wajah Aluna. Tanpa ragu ia memiringkan kepala dan mengamati wajah gadis yang tampak serius itu. "Apa kamu punya hubungan istimewa dengan Nino?"
"Tidak," jawab Aluna tanpa melihat lawan bicaranya.
"Namun, aku lihat kamu tidak berbicara sesuai kata hatimu."
"Ha-ha, apa kamu seorang cenayang? Hiss!" tanya Aluna yang mulai kesal.
Lagi-lagi Alfaro tersenyum, kali ini ia menopang dagu dengan kedua telapak tangan. Mengamati tiap inchi gerak-gerik dan ekspresi Aluna. Baginya membaca isi hati seseorang melalui mimik wajah itu bukan hal yang sulit. Ia banyak mempelajari hal itu dari sahabat karibnya yang berprofesi sebagai psikolog.
"Apakah dia melukaimu?" tanya Alfaro tiba-tiba.
Aluna mengangkat wajah, ia menatap lekat pria di hadapannya. Haruskah dirinya menceritakan kegundahan hatinya? Apakah orang ini bisa dipercaya? Namun, Aluna tetap memilih untuk bungkam.
"Tidak, sudahlah Al jangan membahas hal tidak penting! Sebentar lagi seniormu akan datang. Kamu masih harus banyak belajar, jangan memikirkan hal lain!" tutur Aluna panjang lebar.
Lawan bicaranya itu hanya terkekeh mendengar ocehan Aluna yang seperti radio rusak di telinganya. "Kamu menarik." Alfaro membalikkan kembali letak kursi yang didudukinya.
Pembicaraan mereka terhenti, ketika Pak Suhandi memasuki ruangan utama bersama dengan Nino dan Rere. Di samping mereka ada seorang gadis manis berperawakan kecil yang biasa mereka sebut si ceriwis.
"Baik, kalian sudah berkumpul semua ya. Selamat pagi, saya selaku manajer ingin mengkonfirmasi pertikaian yang terjadi pagi ini. Sebelumnya saya meminta maaf kepada Pak Nino, karena lancang mengambil keputusan. Benar adanya bahwa saya yang menerima Alfarao Dewangga, sebagai karyawan di sini dan itu sudah mendapat persetujuan Bu Hilma. Mengingat bahwa Pak Dewangga ini merupakan investor juga di perusahaan kita. Tolong bimbingannya untuk membantu Alfaro! Dia merupakan fresh graduate yang baru saja menematkan S2, ini adalah suatu kehormatan karena Pak Dewangga memilih perusahaan ini sebagai batu loncatannya," jelas Pak Suhandi secara gamblang dan mendetail.
Pria bertubuh tambun itu mengusap peluh di keningnya dengan sehelai sapu tangan. Padahal selurih ruangan di kantor ber-AC, atau mungkin ia baru saja mendapat kejutan yang membuat tubuhnya adem panas.
"Baik, saya menghargai keputusan Anda, tetapi mengapa tidak mencari ornag baru di luar sana?" tanya Nino dengan tatapan menelisik.
Pak Suhandi tersenyum kecut. "Karena Retno besok akan dimutasi ke kantor cabang lain, sedangkan jika kita mencarinya di luar akan sangat sulit memilih yang benar-benar berpotensi dalam waktu singkat. Beda halnya dengan Alfaro, semua hasil IPK dan beasiswa yang ia peroleh menunjukkan bahwa dirinya pria yang dapat diandalkan, bukankah begitu?"
"Terserah Pak Suhandi saja. Saya tidak memiliki wewenang untuk hal itu. Terimakasih telah menjelaskan duduk perkaranya."
"Sama-sama, Pak. Baik, kalian kembali bekerja dan harus tetap fokus!" perintah Pak Suhandi sebelum meninggalkan ruangan.
Pandangan Nino dan Aluna bertemu, secepat kilat keduanya memalingkan wajah. Entah karena gengsi atau memang sudah tak ada cinta di antara mereka.
Aluna mengernyitkan alis, Alfaro itu memiliki sendiri perusahaan textil. Namun, kenapa ia malah ikut kerja di sini? Bukankah lebih enak jika mengelola pabrik miliknya. Atau mungkin ia memang tak ingin terikat oleh aturan keluarga? Beribu pertanyaan mengelilingi otak Aluna.