
Mulut Aluna terbuka lebar, seketika ia meringkuk takut. Tatapan mata Nino bukanlah seperti Nino yang dikenalnya. Begitu penuh dengan api amarah, dadanya bergerak naik-turun. Ia mempercepat langkah, menarik paksa Aluna dari pelukan sang ibu.
"Ayo keluar!"
"Nino, jangan perlakukan Aluna seperti itu! Mama yang mengajaknya ke mari, Nak."
Nino menyeringai, memicingkan netranya yang berkilat. "Cih, memang mama tak tahu malu! Aku benci keluarga munafik ini!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nino. Membuat pria itu melepas gengaman tangan pada kekasihnya. Ia menoleh, menatap lurus pria yang berani menamparnya. Tanpa ampun tangan kekarnya mencekal kerah kemeja ayah tirinya dengan erat, hingga pria paruh baya itu sedikit terangkat dari posisinya berdiri. "Apa maumu, hah? Belum puas kamu menghancurkan hidupku? Baji*gan!"
Kekasih Aluna itu menghempaskan ayah tirinya ke sudut ruangan, napasnya tersengal-sengal mungkin ia tak menyangka Nino akan berubah seperti kerasukan iblis. Dengan kekuatan yang tersisa pria itu berdiri, berkacak pinggang membuat Nino semakin muak.
"Lakukan apapun maumu! Tampar? Pukul? Lakukan!" tantang Pak Sailendra.
Aluna segera berlari, memeluk sang kekasih dari belakang. Ia menangis sejadi-jadinya, takut akan ada korban malam itu. "Cukup! Aku mohon cukup, Nino. Hiks hiks. "
Nino memejamkan mata, menurunkan kepalan tangannya dan membalikkan tubuh. Kini Aluna dan Nino saling berhadapan, pria itu mengusap wajah kekasihnya. Menatap dalam netra yang tampak sembab itu dengan mesra. "Maafkan aku."
"Ayo kita pergi dari sini!" Manik mata Nino terbelakak, ada bekas tanda merah di lengan Aluna. Berbentuk cekalan tangan, itu pasti bekas gengamannya.
"A--apa ini sakit?"
"Tidak. Ini yang lebih sakit." Aluna menunjuk dadanya. "Sakit melihatmu seperti tadi, kumohon jangan membuatku takut!"
Nino mengangguk, memeluk Aluna erat. Tak ada yang tahu, sebutir air nestapa lolos di sudut netra pria kekar itu. Hatinya terkoyak dalam, ia merasa malu mempertontonkan kehidupan keluarganya yang menakutkan.
"Ma, Aluna pulang," ujar Aluna dengan suara sengau, menahan isak tangis.
Wanita itu hanya mengangguk pasrah, tapi ada senyum kebahagiaan yang tersisa di sela-sela dukanya. Bahagia melihat putra semata wayangnya memiliki seorang yang akan mencintainya sepenuh hati. Bu Hilma terus menatap punggung Nino dan Aluna yang perlahan menghilang, bahkan ia tak sempat mengantarkan keduanya samoai di pintu gerbang.
"Ma, anakmu benar-benar tak bisa diatur!"
"Sudahlah, Pa. Mama tidak mau membahas hal itu lagi," tandas Bu Hilma sembari menyeka sisa air matanya.
Wanita itu beranjak pergi, menuju kamar mandi. Sepertinya ia ingin membersihkan diri dan melupakan kejadian yang baru saja terjadi. Sedangkan Pak Sailendra meremas-remas selimut yang tak berdosa, ia terus mengumpat kesal. "Arggh! Tunggu saja, pasti akan kubuat anak itu tunduk!"
-**
Ekor mata Nino memandang wanitanya yang sedari tadi hanya menunduk. Hampir setengah perjalanan, tetapi tak ada perbincangan di antara mereka. Terasa dingin, sedingin angin malam itu.
"Maaf." Nino membuka pembicaraan dengan canggung.
Aluna mengangkat wajah, ia menatap sang kekasih sendu. "Nino, tidak adakah cinta yang tersisa untuk mamamu?"
Pria itu tersentak dan merem mendadak. Ia memberhentikan kendaraan di tepi jalan. "Apa maksudmu?"
"Maaf, a--aku bukan berma-maksud ikut camput, tapi aku melihat kamu begitu membencinya, apa itu benar?"
Aluna menghela napas, ia memandang pantulan wajahnya di kaca mobil. Sesekali melirik sang kekasih yang masih tampak sangat kesal. Seharusnya ia tak lancang bertanya, ini malah akan memperburuk keadaan. Dengan sisa-sisa keberanian Aluna mendekatkan tubuh, menyandarkan kepala di bahu bidang Nino.
"Aku harap kamu bisa memberinya sedikit cinta. Kami wanita, sama-sama memiliki perasaan yang sensitif," tutur Aluna setengah berbisik.
"Sudah! Kamu tidak akan pernah tahu sekeji apa dia di masa lalu!"
Aluna semakin mendekat, gadis itu mengecup pipi Nino pelan. "Apapun itu, kamu tetap harus menghargainya. Perjuangannya untuk melahirkanmu kedunia itu sangat besar."
"Berjanjilah, Nino. Demi aku!"
Nino menghentikan mobilnya untuk kedua kali. Ia menarik Aluna dalam dekapannya, mengecup kening kekasihnya itu. "Aku tak mengerti, kenapa aku selalu tidak bisa menolak permohonanmu? Sihir macam apa yang kamu berikan padaku?"
"Sihir seperti ini." Aluna mengecup lembut bibir Nino.
Pria itu membalas kecupan Aluna, untuk sesaat bibir mereka saking beradu. Mencecap sedikit nikmat dunia, tetapi tiba-tiba sang gadia tersadar. Ia mendorong tubuh kekasihnya. "Astaga! Ini di jalanan, kamu mau kita digerebek Satpol PP?"
Nino terkekeh mendengar ucapan Aluna. Ia malah mendekap erat tubuh yang begitu pas digenggaman tangannya itu. "Bukankah kamu yang menggodaku dulu?"
"Aissh, lepas! Cepat pulangkan aku!" rajuk Aluna sembari kembali ke posisi duduknya.
"Kamu cantik malam ini. Sangat cantik," gumam Nino tanpa melihat lawan bicaranya.
Dia memacu kembali mobil kesayangannya itu, melenggang bebas di atas aspal yang mulus. Meninggalkan sebuah lampu jalanan yang menjadi saksi perjanjian mereka.
Segala perlakuanmu membuatku semakin ingin dan ingin lebih, Nino. Aku akan menepati janjiku pada ibumu, seumur hidupku.
Tak butuh waktu lama mereka telah tiba di depan kediaman Aluna. Nino berpamitan untuk langsung pulang, karena memang waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Bukan waktu yang tepat untuk bertamu tentunya. Di sisi lain Aluna mendapat banyak pelajaran berharga, dia sangat bersyukur memiliki ibu yang selalu mencintainya sepenuh hati.
"Bagaimana harimu, Nak?" tanya Bu Asmi yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dapur.
"Baik, Bu. Sangat menyenangkan."
Sang ibu tersenyum, mengusap lembut surai panjang putrinya. "Syukurlah kalau keluarganya bisa menerimamu, karena kita ini hanya rakyat kecil."
Memori Aluna mengulang kembali wajah ayah tiri Nino, ya hanya orang itu yang bersikap tidak ramah dengannya. Bahkan tampak sangat terganggu tiap kali dirinya hadir di tengah-tengah mereka.
"Semuanya baik, Bu. Aluna tidur dulu ya." Gadis itu melangkahkan kaki menuju ruang tidurnya, ia berusaha menutupi apa yan Gf terjadi malam itu.
Gadis bernetra indah itu merebahkan tubuhnya yang telah lelah. Wajahnya seketika memanas mengingat apa yang ia lakukan di mobil tadi. Bagaimana bisa dirinya mengambil inisiatif untuk mencium Nino? Tubuhnya tanpa sadar bergerak sendiri, ingin memberikan sentuhan nyaman untuk sang kekasih. Tiba-tiba ponselnya bergetar, Aluna merogoh tas dan mengambil benda mungil itu. Ia tersenyum membaca pesan singkat Nino.
From: Nino.
Lekaslah tidur! Jangan memikirkan hal-hal aneh lagi! Selamat malam, Alunaku.
"Astaga! Apa dia ini cenayang? Jangan-jangan ia tahu, kalau aku membayangkan adegan di dalam mobil tadi!"
Aluna membalik tubuh dengan posisi tengkurap. Ia membenamkan wajah di selimut empuk bermotif garis-garis kesayanganya. "Kenapa kamu membuatku seperti ini, Nino?"