
Keesokan harinya ....
"Nyonya! Nyonya, Bangun! Ya Tuhan, kenapa ini?" Bi Inah mengguncang-guncang tubuh majikannya berulang kali.
Abdi dalem itu tak tahu apa yang terjadi, ia hanya berlari setelah mendengar jeritan Bu Hilma. Ketika dirinya sampai di ruang tidur, sang majikan telah tergolek lemah di dalam kamar mandi pribadinya.
"Pak Dar! Tolong, Pak!" pekik asisten itu berulang kali, mencari bantuan pada penjaga kebun.
Lelaki berusia 40 tahun itu berjalan terponggoh-ponggoh menuju sumber suara yang memanggil namanya. "Apa Inah? Kenapa kamu teriak-teriak begitu?"
"Sudah jangan banyak tanya! Cepat bantu aku memindahkan Nyonya di kasur!"
Pria yang dipanggil Pak Darmaji itu terbelalak, melihat kondisi sang majikan yang terkulai lemas dan tak sadarkan diri. "I-iya, ayo aku bantu!"
Mereka meletakkan tubuh Bu Hilma dengan sangat hati-hati. Kemudian dengan sigap ia menghubungi putra semata wayang Bu Hima. Namun, tak ada jawaban. Wanita itu berjalan mondar-mandir, bingung apa yang harus dilakukannya.
"Tolong angkatlah, Tuan!" Akhirnya asisten berusia senja itu pasrah, dan memutuskan untuk mengirim pesan singkat saja.
Nino terbangun dari mimpi indahnya, dering ponsel berulang-ulang memaksanya untuk membuka kelopak mata. Ia menatap tulisan yang tertera di layar benda hitam itu. Manik matanya terbelalak, sembilan belas panggilan tak terjawab dan sebuah pesan singkat dari Bi Inah. Asisten rumah tangga kepercayaan ibunya.
"Tumben Bi Inah telepon pagi-pagi buta," gumam Nino setelah mengecek daftar panggilan.
Ia membuka pesan singkat itu, seketika tangannya bergetar. Tiba-tiba detak jantungnya berdebar hebat, mengganggu konsentrasinya.
Tuan, tolong segera ke mari! Bu Hilma baru saja jatuh di kamar mandi. Kami bingung harus berbuat apa?
Nino membaca ulang isi pesan singkat itu, ia masih tak percaya dengan penglihatannya. Setelah yakin apa yang dibacanya benar, pria itu segera menyambar kunci mobil, dan bergegas pergi ke garasi.
"Aku akan pergi ke rumah, Mama. Jika ada yang mencariku, katakan saja langsung menghubungiku via email. Akan kuperiksa nanti sore." Pesan Nino pada salah satu asistennya.
"Baik, Tuan."
Pria paruh baya itu mengangguk patuh. Ekor matanya mencuri pandang, melihat sang majikan yang tampak sangat terburu-buru, bahkan sampai lupa mengganti piyama tidurnya.
"Kenapa tidak diangkat juga? Ke mana mereka semua!" Pria itu menggebrak stir mobilnya.
Berulang kali Nino mencoba melakukan panggilan ke kediaman sang ibu, tetapi tak ada respon. Ia khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Ayo angkatlah! Mama punya hipertensi, semoga saja mereka paham akan hal itu." Nino menekan kembali tombol dial, hasilnya tetap nihil.
Dengan kecepatan penuh, mobil *ferari itu meluncur. Tak berapa lama ia tiba di rumah ibunya. Rumah yang sesungguhnya tak ingin Nino injak lagi.
"Di mana, Mama?" Nino menerobos masuk, ia melihat beberapa pelayan tampak pucat.
"Di-di ruang atas, Tuan," jawab salah satu di antara ketiga pelayan itu*.
Nino segera berlari menaiki anak tangga, tanpa memperdulikan langkahnya. Walaupun ia sangat membenci Bu hilma, wanita itu tetaplah ibunya. Orang yang mengandung dan melahirkannya ke dunia ini.
"Mama ...."
Pria itu melihat dari kejauhan, ibunya sudah berada di atas kasur. Bi Inah tampak mondar-mandir tak jelas. Wanita itu masih setia menjaga majikannya.
"Bi Inah," panggil Nino lirih.
Asisten itu menoleh ada binar bahagia tersirat di netra tuanya. "Alhamdulillah, Tuan. Bagaimana ini?"
Nino berjalan menghampiri sang ibu, bibirnya membiru tampak sangat pucat. Guratan halus kian terlihat jelas di antara kening dan lekukan bibirnya. "Sejak kapan Mama begini?"
"Baru tadi subuh, saya menemukannya sudah tergeletak di kamar mandi, Tuan." Bi Inah menjawab dengan tertunduk, ada rona kesedihan tergambar jelas.
"Sudah, Tuan, tetapi tidak ada respon. Mungkin ini masih terlalu pagi. Ma-maaf, saya tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Bi Inah lagi, kali ini dengan mata berkaca-kaca.
"Tak apa, aku akan menjemput dokter Pras. Sekalian mengajak Aluna ke mari. Oh iya, ke mana pria itu?"
Bi Inah menelan salivanya sendiri, ia paham siapa yang ditanyakan oleh Nino. Tentu saja ayah tirinya. "Sejak kemarin belum pulang, kalau saya tidak salah dengar sedang meeting ke Bandung."
"Hmm, hubungi pria itu! Seharusnya ia pulang, jika memang menganggap Mama istrinya. Aku pergi dulu." Nino menatap wajah pucat yang terbaring itu dengan sendu.
Berat langkahnya untuk pergi meninggalkan sang ibu dalam kondisi begitu, tetapi ia harus segera mendapatkan dokter. Bongkahan es di dasar nuraninya mulai mencair, tak dapat dipungkiri ikatan darah di antara mereka masih terjalin.
-**-
Tak berapa lama Nino kembali, membawa kekasihnya dan juga sang dokter. Aluna tampak kebingungan, karena tiba-tiba Nino menjemputnya tanpa berkata apapun.
"Mamamu kenapa?" tanya Aluna dengan setengah berbisik.
"Jatuh dari kamar mandi."
Manik mata Aluna membulat. Memang ia bukan lulusan medis, tetapi sedikit banyak tahu, jika seusia calon mertuanya itu usia yang sangat rawan berbagai penyakit.
"Bagaimana kondisi Mama saya, Dok?" tanya Nino dengan tatapan sendu.
Dokter Pras melepaskan stetoskop dan menggeleng pelan. "Maaf, sepertinya saya terlambat. Mama Anda mengalami serangan stroke ringan dan untuk saat ini mengalami kelumpuhan di bagian kakinya.
"Apa? Lantas apa penyebabnya? Apakah itu bisa disembuhkan, Dok?" cerca Nino beruntun, ia kembali melirik ibunya.
Pria berkemeja biru itu menjelaskan dengan detail. "Seperti yang kita ketahui, Bu Hilma memiliki riwayat Hipertensi. Pada pagi hari tekanan darah cenderung meningkat. Bagi yang punya riwayat itu, naiknya tekanan darah memang bisa merusak pembuluh darah di otak lalu memicu stroke, apalagi seseorang telah memindahkan tubuhnya dari tempat awal tanpa memberinya bantal dengan kemiringan 30 derajat."
Bi Inah menatap dokter itu lekat, rasa bersalah menghantui dirinya. Karena tadi wanita itu dan penjaga kebun yang memindahkan tubuh sang majikan. Ia benar-benar tak dapat berpikir jernih saat insiden itu terjadi.
"Lantas apa yang harus kami lakukan?"
"Sebentar, saya akan memberi resep. Setelah mendapatkan suntikan dalam kurun waktu 3 jam Bu Hilma akan tersadar, tetapi untuk sementara beliau tidak boleh berjalan. Atau itu akan memperburuk kondisinya."
Manik mata Nino membulat sempurna, ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi ibunya, yang notabene seorang wanita karier, jika mendapati dirinya harus berada di atas kursi roda.
"Jika beliau memaksa berjalan, apa resiko yang akan terjadi?" tanya Nino lagi.
"Risikonya sudah pasti kecacatan permanen yang tidak bisa diperbaiki lagi apalagi kalau sumbatan. Tapi jika perdarahan memang sudah rusak, dan sumbatan lewat dari golden period, itu akan menyebabkan kecacatan permanen walaupun sudah dilakukan tindakan," tutur sang dokter.
"Setelah beliau tersadar, tolong segera bawa pasien ke rumah sakit untuk penanganan selanjutnya!" sambungnya lagi dengan menekankan kata.
Nino mengangguk pasrah. Ia menyerahkan semua pada Tuhan. Aluna merangkul pinggang kekasihnya yang tampak cemas, berusaha menenangkan pria itu. "Tenanglah, semua akan baik-baik saja! Mamamu wanita yang kuat."
Tiba-tiba seorang pria menerobos masuk, dengan napas tersenggal ia menggengam tangan Bu Hima. "Ma, maafkan papa. Papa janji tidak akan meninggalkan mama lagi! Bangun, Ma. Papa sudah kembali."
Nino memandang pria itu jijik. Bagus sekali actingnya!
Tersirat kekhawatiran yang luar biasa di wajah Pak Sailendra. Bagaimanapun wanita itu adalah istri sahnya. Ia tak menghiraukan kehadiran Aluna dan Nino yang berdiri di samping kanan ranjang.
"Bagaimana kondisinya sekarang?"
Untuk yang kesekian kalinya, dokter tampan itu menarik napas dalam-dalam. "Beliau terkena stroke ringan dan mengalami kelumpuhan di bagian kakinya."
"Apa?" Pak Sailendra tercengang, tersirat ketidakpercayaan di rona wajahnya atas penuturan ulang sang dokter.