
"Hallo cantik, " sapa Alfaro saat jam istirahat tiba.
Aluna yang tidak biasa dipanggil begitu mendadak wajahnya merona bak kepiting rebus. Lidahnya menjadi beku, dan tergagap. "A--anu, i--iya."
"Ha-ha-ha, kamu ini kenapa, sih? Cuma kugoda begitu saja sudah salah tingkah."
Aluna memutar bola matanya kesal. "Suka-suka aku!"
"Sudah, jangan galak gitu! Ayo makan! Aku traktir deh karena hari ini pertama kali aku kerja," ajak Alfaro bersemangat.
Mereka berdua memasuki kantin, beberapa karyawan lain yang melihat keakraban mereka mulai bergunjing. Menggosip tentang hubungan Aluna dengan beberapa pria. Ada pula yang berkata bahwa Aluna mungkin hanya mengincar harta keluarga Saaongko, sekalinya tidak dapat malah berpindah ke keluarga Dewangga.
Namun, pemuda-pemudi itu tak mendengar ocehan para lebah yang tak jelas itu. Mereka makin asik membahas hal-hal lucu tentang Alfaro. Layaknya gadis SMA yang baru mendapat teman saat MOS, begitulah sikap Aluna. Ia terus mencercar pertanyaan pada sahabatnya itu.
"Aku kok enggak percaya kamu baru kerja? Memangnya belum pernah magang?"
Alfaro menggeleng pelan, ia celingukkan menanti semangkuk mie ayam kesukaannya. Walaupun dari keluarga berada, Alfaro sangat sederhana dan royal.
Kening Aluna berkerut, di usia matang Alfaro baru pertama kali bekerja. "Lah, masa sih kamu baru pertama kali kerja?" Aluna masih tak yakin dengan jawaban pria berwajah manis itu.
"Iya, memang kenapa?" tanya Alfaro sembari melahap mi ayamnya.
"Enggak apa-apa sih. Makasih ya traktirannya."
"Sip! Oh iya, pulang nanti aku antar ya? Sekalian bantu aku buat milih hadiah untuk mamaku." Pria itu mengedipakan satu netranya.
Aluna tercengang, mereka baru saja kenal, tetapi pembawaan Alfaro yang santai membuat situasi begitu menyenangkan. Bahkan, ia menawarkan untuk mengantarnya. Sebagai balas budi, Aluna mengangguk setuju.
"Mamamu ulang tahun hari ini?" tanya Aluna lagi.
Entah mengapa Aluna begitu ceriwis dengan sahabatnya itu. Perkataan Alfaro selalu mengundang rasa penasarannya. Membuatnya ingin tahu lebih dan lebih.
"Iya, tapi sudah sebulan yang lalu."
Astaga Alfaro ini anak macam apa, bisa-bisanya dia dengan santai mengatakan bahwa ibunya berulang tahun bulan lalu dan baru diberi hadiah sekarang.
"Kamu enggak apa-apa 'kan? Demam? Atau mungkin habis kejedot?" tanya Aluna sembari menggelengkan kepala.
"Enggak, aku baik-baik aja. Kamu lihat, aku manis dan tampan begini," ucap Alfaro dengan watadosnya.
"Kalau kamu enggaks sakit, kenapa baru sekarang kasoh hadiah ke mamamu?"
Alfaro menggaruk kepalanya. "Lupa, karena aku jarang di rumah juga."
"Terserah, deh." Aluna memutar bola matanya malas.
Gadis itu kembali melanjutkan makan, saat asik mengunyah tiba-tiba netra Aluna melihat penampakan seseorang. Pria berkemeja navy itu tetap terlihat mempesona, walaupun beberapa hari yang lalu menyakiti hatinya.
"Nino ...." Aluna bergumam lirih, nyaris tak terdengar bahkan oleh Alfaro.
Mantan kekasihnya itu sibuk memesan sesuatu, tumben sekali ia tidak meminta tolong office boy untuk membawakannya sesuatu. Atau mungkin itu bukan pesanannya? Bisa jadi wanita bernama Rere itu memerintahnya, Nino tampak sangat tunduk padanya.
Tiba-tiba Nino menoleh ke arah Aluna. Netra kecoklatan itu memicing, tampak tak senang jika Aluna bersama dengan Alfaro. "Cih, kenapa mereka bersama? Sejak kapan saling mengenal, hah?"
Aluna yang tersentak dan salah tingkah refleks memeluk Alfaro untuk menutupi rasa malunya. Alfaro membelalakan mata, tetapi Aluna malah berkedip-kedip seperti bohlam yang hendak mati. Maksud hati ingin memberi kode bahwa itu bohongan.
Sepertinya ini saat yang tepat untuk balas dendam dengan Nino. Beberapa hari Nino membuatnya kesal dengan terus menempel pada Rere. Ya, walaupun mereka sudah tidak ada hubungan paling tidak harusnya masih menjaga perasaan.
Alfaro yang belum juga mengerti hanya mengangguk sembari menelan makanan dengan susah payah, karena tangan Aluna merangkul terlalu erat. "Huum, Lun lepasin dulu. Aku mau makan."
"Sudah, diam saja! Tinggal makan apa susahnya sih!" hardik Aluna tanpa sungkan.
Nino segera memalingkan wajah, sekujur tubuhnya mendadak panas. Melihat adegan Aluna dengan pria lain yang notabene memang musuhnya sedari dulu. "Sial! Punya hubungan apa mereka!"
Pria itu mempercepat langkahnya untuk keluar dari kantin. Ia tak lagi menoleh ke belakang, api cemburu masih membakar hatinya. Meskipun Aluna bukan miliknya, tapi ia tak rela jika gadis itu jatuh ke pelukan pria lain.
Sedangkan Aluna tersenyum dengan puas, akhirnya ia berhasil membalas dendam. Memang hanya Nino yang bisa bermesraan, dirinya juga bisa. Jangan dipikir setelah putus dengan pria itu, Aluna menjomblo. Eh, tapi memang benar sih dia masih jomblo.
"Makasih, Al. Kamu memang sahabatku paling super!"
Alfaro mengerucutkan bibir, padahal jantungnya berdegub tak karuan sewaktu Aluna memeluknya. "Apaan? Kamu tadi kerasukan setan? Main meluk-meluk! Aku ini masih perjaka tahu."
"Hmm, iya-iya perjaka." Aluna mengerlingkan mata, membuat Alfaro gemas.
Pria itu mencubit hidung Aluna. "Dibilangin malah nyolot! Ada siapa sih tadi?"
"Nino."
"Waaw, ternyata kamu benar-benar ada hubung--" Aluna membukam mulut Alfaro dengan sepotong bakso.
"Sudah, jangan buat aku kesal! Habiskan makananmu, sebentar lagi jam istirahat selesai."
"Aku serius, kamu pacar Nino? Lantas siapa wanita tadi pagi?" tanya Alfaro yang makin penasaran.
"Bukan, aku hanya mantan," jawab Aluna singkat, padat, dan jelas seperti iklan.
Tiba-tiba Alfaro bertepuk tangan, manik mata Aluna terbelalak. Apa yang dilakukan sahabatnya itu? "Ih, jangan tepuk tangan! Kamu ngeledek aku?"
"Enggak, jadi tadi aku sebagai perantaramu biar Nino panas?"
Aluna menelan salivanya sendiri. Memang benar itu tujuan sebenarnya, tapi bisa saja sahabat barunya itu marah dan merasa hanya dimanfaatkan oleh dirinya.
"Bu--bukan begitu maksudku ....."
Alfaro mendekatkan wajah, Aluna refleks menggerakan tubuhnya untuk mundur. Pria itu kian mendekat, sembari memegang sandaran kursi yang diduduki Aluna. "Aku bisa membantumu lebih dari tadi."
"Eee, apa maksudnya," tanya Aluna sembari mendorong tubuh Alfaro.
Alfaro menyeruput segelas es jeruk yang masih tersisa setengah. "Aku bisa bantu kamu buat Nino cemburu, tapi aku minta kamu merubah penampilan."
"Jadi kamu pikir aku ini kurang modis, hah?" Aluna mendengkus kesal.
"Nah, itu tahu."
Gadis itu memperharikan penampilannya. Tak ada yang aneh, bahkan sangat rapi. Lantas mengapa pria genit itu memintanya berganti penampilan?
"Aku rapi, kok! Terus kenapa kamu bilang enggak modis, hah?"
Alfaro terkekeh melihat mimik wajah Aluna yang kesal bercampur bingung itu. "Bukan enggak modis, hanya coba sesekali kamu pakai dress gitu. Buat Nino menyesal putus denganmu intinya."
"Hmm, kuterima saranmu!"
Aluna mengangguk-angguk tak sabar rasanya menunggu jam pulang tiba. Setelah menemani Alfari, ia juga akan membeli beberapa potong gaun untuk kerja. Tentunya masih dengan gaya yang tertutup. Bagaimanakah reaksi Nino?