My Edelweiss

My Edelweiss
Tamu Tak Diundang



Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan. Mereka tiba di kediaman Nino --titik berkumpul pendakian. Beberapa karyawan yang menitipakan kendaraan di sana segera berpamitan pulang. Mereka mungkin ingin segera beristirahat.


Termasuk Aluna, ia merogoh ponsel hitam dari saku jaket. Kemudian membuka aplikasi untuk memesan ojek online. Namun, Nino merebut ponsel itu. "Kuantar pulang!"


"Eh, ta-tapi--" Nino memotong ucapan Aluna dengan cepat. "Tidak ada tapi-tapian! Cepat masuk ke dalam!"


Tangan kekar itu menarik pergelangan tangan Aluna dan menggiring wanita itu untuk masuk kedalam. Pandangan Aluna seketika nanar, melihat tangga yang menuju ke ruang tidur Nino. Ia menghempaskan tangan sang kekasih dengan kuat.


"Lepas! Aku di sini saja."


Masih segar dalam ingatannya, di tangga itu Nino berdiri sembari mengucapkan kata perpisahan. Nyeri! Dadanya berdenyut hebat, ternyata luka itu belum terbalut sempurna. Ucapan itu masih terus ternianh dalam benaknya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Nino seakan mengerti perasaan sang kekasih.


Wanita itu mengangguk pelan. Tentu saja itu tidak benar, ketika seorang wanita mengatakan atau setuju dengan ucapan baik-


baik saja. Itu adalah pertanda bahwa semuanya tidak berjalan dengan baik, kondisi batinnya tidak stabil.


"Cepatlah sedikit," pinta Aluna lirih.


Lelaki itu tak lagi mendengar permintaan Aluna karena jarak mereka lumayan jauh. Wanita itu menarik napas dalam seraya memejamkan mata. Ia mendongak, menatap anak tangga yang mungkin berjumlah puluhan itu.


"Aku kembali kesini. Apakah ini pilihan yang tepat?" gumam Aluna kepada dirinya sendiri.


"Non Luna?" sapa seseorang ragu-ragu.


Wanita paruh baya itu mendekati Aluna. "Ini benar Non Luna! Astaga, kemana saja, Non? Bibi rindu masak denganmu."


Tanpa sungkan Aluna segera memeluk asisten rumah tangga Nino, yang sudah dianggapnya seperti ibu kandung. "Bi Atin sehat?"


"Alhamdulillah, masih gemuk dan montok seperti biasa," kelakar wanita itu sembari tertawa.


"Non Luna mau minum apa?" sambungnya lagi.


"Wedang jahe hangat saja, ada?"


Bi Atin mengedipkan satu netranya dengan genit. "Ya pasti ada, rempah-rempah di sini selalu lengkap. Sebentar ya, Bibi ambilkan dulu."


"Terimakasih, Bi."


Usai beberapa hari bersahabat dengan dinginnya Mahameru, minuman yang menurut Aluna sangat cocok untuk dinikmati saat itu hanyalah wedang jahe. Wanita itu mengambil posisi duduk di sofa yang membelakangi pintu utama.


Selang lima menit, secangkir wedang jahe yang masih mengepulkan asap telah tersaji. Aluna menyeruput sedikit minuman tradisional berbahan dasar rempah itu. Aroma jahe yang khas menembus rongga hidungnya. Hangat dan menyegarkan!


"Lun, tolong bantu aku!" teriak Nino dari lantai atas.


Aluna meletakkan kembali cangkir berisi air jahe itu di atas meja. Mendengar suara sang kekasih yang membutuhkan bantuan, ia bergegas menaiki anak tangga. Perlahan-lahan mulai mendekati ruang tidur Nino.


Daun pintu ruangan itu terbuka lebar, tetapi ia tidak menemukan siapa pun di sana. Mendadak bulu kuduknya meremang, berdiri dan merasa aneh. Atmosfir di ruangan itu tampak berbeda.


Tiba-tiba, seseorang membekapnya dari belakang. Kemudian melemparkan tubuh moleknya di atas ranjang. Hampir saja Aluna berteriak minta tolong, jika ia tidak melihat wajah sosok itu.


"Nino! Apa yang kamu lakukan, hah? Kamu pikir ini lucu?" Aluna bergegas bangkit dari posisi tidurnya.


Lelaki itu terkekeh dan mendekatkan wajahnya ke arah Aluna. "Mandilah dulu, kamu terlihat seperti kambing hutan."


Tetesan air yang berasal dari rambut Nino membasahi wajah Aluna. Dingin dan terasa menyejukkan. Wanita itu mengusap keningnya yang tampak mengkilap terkena air. "Apa kamu tidak bisa memakai handuk dengan baik?"


Lagi-lagi Nino mengempaskan tubuh Aluna di atas kasur. "Bukankah aku terlihat lebih tampan dalam keadaan begini?"


Kedua tangan Nino meremas pergelangan tangan Aluna. Wanita itu meringis kesakitan, posisi mereka saat itu sangat berbahaya. Bagaimana tidak? Dirinya berada tepat di bawah sang kekasih yang hanya memakai piyama handuk.


Tatapan mereka saling beradu, Nino bukan lagi terlihat tampan. Namun, lelaki itu dalam tampilan begitu menggoda dan penuh gairah. Setan pergilah! Mereka belum saatnya berbuat jauh.


Bi Atin tiba-tiba memekik, menyaksikan adegan semi blue Aluna dan Nino. Padahal mereka tidak melakukan apapun.


"Ma-maaf, Tuan. Sa-saya ti-tidak sengaja." Bi Atin menjelaskan dengan terbata-bata.


Nino bergegas membenahi tali piyamanya yang hampir saja terlepas. "Ah, ini bukan seperti yang Bibi bayangkan. Kami hanya bergurau."


Hah! Bercanda? Tampaknya saraf Nino benar-benar terganggu. Tadi itu baginya gurauan? Sebenarnya pengikut sekte apa Nino sekarang, sampai-sampai ia begitu aneh. Beruntungnya Bi Atin datang, kalau tidak entah apa yang akan terjadi.


"Ada perlu apa, Bi?"


Bi Atin melongokkan kepala ke dalam ruang tidur, wanita sepuh itu membisikkan sesuatu di telinga sang majikan. Mimik wajahnya tampak sangat gelisah, beberapa kali dahi keriputnya berkerut.


"Apa!" sentak Nino tiba-tiba.


Bahana pria itu membuat Bi Atin tertunduk dan bergegas pergi. Nino kembali ke hadapan Aluna dengan mata berkilat, menggertakan giginya. "Kita harus segera turun, cepatlah mandi dan pakai ini."


Kali ini Nino memerintah sang kekasih dengan penekanan nada. Tampaknya sesuatu yang tidak baik menunggu mereka di bawah. Sebuah gaun berwarna tosca disodorkan oleh lelaki itu.


"Ada apa lagi ini!" Nino memukul kepala ranjang dengan kepalan tangan.


Sedangkan Aluna dengan patuh mengikuti perintah Nino. Mandi ala bebek, begitu istilah yang wanita itu gunakan untuk mengungkapkan mandi kilat yang baru saja ia lakukan.


Usai berganti dengan pakaian bersih, Aluna menghampiri Nino. "Ada apa?"


"Ayo ikut aku!"


Wanita itu tampak kebingungan melihat perubahan sikap sang kekasih. Kapan lelaki itu berganti pakaian ya? Tiba-tiba, ia sudah berpakaian lengkap ketika Aluna keluar dari kamar mandi. Gaun yang diberikan Nino melekat sempurna di tubuh bak gitar spanyol itu.


Dengan tergesa-gesa mereka menuruni tangga. Seketika Aluna menelan salivanya sendiri, melihat siapa yang telah menanti mereka.


"Honey, Bagaimana wanita miskin ini bisa ada di rumahmu, hah?" Seorang wanita berambut sebahu menatap tajam ke arah Aluna.


Rere! Bukankah ini wanita yang terus menempel bersama Nino beberapa tempo lalu?


"Bukan urusanmu! Mau apa lagi datang kemari?" tanya Nino pada seorang pria paruh baya yang berdiri di samping kiri.


"Honey, aku ini calon istrimu," ucap Rere memelas.


Manik mata Nino berkilat, menatap lurus wanita yang terus mengoceh itu. "Aku tidak bertanya kepadamu!"


"Nino! Pelankan suaramu! Apa kamu tidak tahu balas budi? Rere telah menyelamatkan perusahaan Sasongko. Apa kamu lupa, hah?" bentak lelaki yang tak lain adalah ayah tiri Nino --Pak Sailendra.


"Nikahi Rere secepatnya!" sentaknya lagi.


Mulut Aluna ternganga. "Menikah? Apa maksudnya?"