
"Tenanglah sedikit, Lun! Doakan saja mereka selamat sampai tujuan dan kembali tanpa kurang apapun juga," bujuk Pak Suhandi yang sebenarnya juga sangat gelisah.
Aluna tak menggubris perkataan sang manajer, ia malah mendongakan wajah. Memandang langit pekat yang menjadi atapnya saat itu. Resah, jika sesuatu terjadi dengan Nino. Takut, jika nanti ia tak sempat bertemu lagi dengan cinta pertamanya itu.
"Tuhan, lindungi mereka bertiga. Terutama Nino, jangan siksa batinku lebih dari ini lagi, Tuhan." Aluna berdoa sembari memejamkan netra.
Sebenarnya kedua hati yang saling terpaut itu berada di lokasi yang sama hanya terpisahkan oleh jarak. Nino bersama kedua sahabatnya melepas lelah sejenak. Di Kalimati adalah saat yang baik untuk mengisi energi sebelum melewati medan sulit. Perjalanan menuju puncak Mahameru akan memakan waktu sekitar enam hingga tujuh jam.
"Tidurlah dulu karena maksimal pendakian selanjutnya puku satu dini hari. Jadi kita harus mulai mendaki tengah malam nanti."
Nino menekuk satu lututnya agar ada sedikit ruang bagi mereka untuk bergerak.
Awan yang baru pertama kali mendaki mengubah posisi tidurnya, ia menghadap ke arah sang bos.
"Kenapa tidak besok pagi saja?" tanya Awan sembari mengernyitkan alis.
Nino memiringkan tubuhnya. "Karena sekitar pukul 10:00 WIB, angin yang berhembus di wilayah puncak akan berpindah ke arah pendaki dan itu membawa gas beracun."
"Lantas apa hubungannya?" Awan semakin bingung dengan penjelasan Nino.
"Begini, dengan mendaki tengah malam dalam waktu tempuh enam sampai tujuh jam, kita masih punya setidaknya dua jam untuk menikmati Puncak Semeru. Apa kamu paham?" tanya Nino dengan menekankan kata.
Awan yang mendapat ilmu baru mengangguk-anggukan kepala. Tak lama kemudian ia tertidur pulas, disusul oleh Nino yang mulai memejamkan kelopak mata.
Baru saja rasanya mereka terlelap, hiruk-pikuk pendaki lain yang sedang berkemas memaksa mereka untuk membuka kelopak mata.
"Ayo kita bongkar tenda, lalu kembali melanjutkan pendakian. Pastikan kalian sudah membawa minum setidaknya 1,5 liter."
"Ini jam berapa, Pak?" tanya Raka sembari mengerjapkan mata.
Nino melirik jam gunung yang melingkar di pergelangan tangannya. "Hampir tengah malam, kita harus cepat agar tidak tertinggal!"
Sebelum kembali mendaki, mereka memakan sedikit roti untuk mengganjal perut. Kemudian mengunakan pelindung kaki untuk mencegah masuknya kerikil. Tak lupa juga mereka mengunakan sarung tangan dan buff untuk melindungi wajah dari terjangan debu dan pasir.
"Bismillah, ayo kita lanjutkan!" teriak Nino memberi semangat anggotanya yang tersisa tiga --dengan dirinya.
Perjalanan dari Kalimati menuju Kelik kurang lebih dua jam. Kelik merupakan batas vegetasi , batas dimana tumbuhnya pepohonan. Medan mendaki kali ini cukup berat. Di awal pendakian, jalur tanah yang masih mereka lewati.
Namun, setelah beberapa saat akan mencapai Kelik dan lanjut menuju puncak, jalur sudah mulai berubah menjadi pasir dan berbatu. Mulai jalur inilah nyawa para pendaki dipertaruhkan. Karena memang asuransi keselamatan hanya menanggung sampai di Kalimati.
Jika mereka memutuskan untuk menggapai Mahameru, maka semua yang ada harus mereka tanggung sendiri, termasuk risiko cidera atau bahkan kematian.
Nino berhenti sesaat, menoleh ke arah dua anggotanya yang tampak berbaur dengan pendaki lain. "Kalian yakin kita akan sampai di atas?"
"Yakin!" Mereka menjawab serempak.
"Bagus, kita lanjutkan lagi."
Seiring berubahnya jalur, maka mereka mengubah cara pendakian. Awalnya medan tanah yang tadinya bisa dilewati secara lurus, sekarang harus mereka lewati dengan cara naik zig-zag.
Kenapa harus begitu? Karena jalur berpasir tidak stabil konturnya. Oleh sebab itu, untuk mensiasati agar tetap seimbang, maka digunakanlah metode mendaki dengan berjalan zig-zag.
"Tetap fokus! Gunakan kutub pelacakan kalian!" teriak Nino di antara pasir-pasir yang mulai berhamburan.
Sudah tidak ada lagi pohon, mereka harus mencari akar-akar yang masih tersisa untuk pegangan, karena saat ini berada di kemiringan kurang lebih 60°. Memang ada beberapa batu besar yang bisa digunakan sebagai alas atau pegangan, tapi itu terlalu riskan.
Kondisi pasir yang tidak stabil memungkinkan batu itu akan terjatuh ketika dipegang dan mengenai pendaki yang ada di bawah. Sudah banyak kasus kematian pendaki akibat dihantam batu yang menggelinding dari atas. Sungguh naas nasib mereka.
Awan, salah satu anggota tim yang debut dalam pendakian merasa bahwa waktu berjalan lambat. Kenapa belum sampai juga ya?
Hal itu biasa terjadi ketika telah mencapai fase menuju puncak ini. Lelah mulai menyergap, energi mereka kian berkurang. Namun, mau tak mau mereka harus tetap terjaga. Saat itu mereka sedang mempertaruhkan nyawa, sehingga harus selalu waspada dan jangan sampai tertidur karena letih.
Tuhan, tolong lindungi diriku dan kawan-kawanku yang lain! Buatlah kami terjaga karena jika ada batu terjatuh dan kami tertidur. Entah, apa yang akan terjadi? Nino menarik napas dalam untuk menenangkan diri.
Setelah pergulatan yang hebat, bisa dibilang mereka juga memakan sedikit pasir yang bertebaran. Akhirnya mereka tiba di Puncak Para Dewa, di atap tertinggi Pulau Jawa (3676 MDPL).
"Hosh, kita berhasil! Awan, Raka kita berha--sil!" Nino memekik kegirangan dengan deru napas yang masih tersengal.
Kedua anggota yang ikut berjuang bersamanya itu tersenyum lebar. Mereka tak mampu mengucapkan kata-kata, karena masih berusaha mengatur napas dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Aluna, aku mencintaimu!" teriak Nino dengan lantang.
Suara berat Nino menggelegar di Negeri atas Awan itu, sontak membuat para pendaki yang sebagian besar juga menyaksikan drama lamarannya bertepuk tangan. Mereka saling bersalaman satu sama lain, mengucapkan selamat karena tidak semua pendaki bisa sampai di titik itu.
Dari Puncak Semeru yang bernama Mahameru ini kalian bisa melihat cantiknya proses matahari terbit. Sunrise di Mahameru mungkin bisa dibilang adalah salah satu sunrise terbaik yang ada di seluruh dunia. Langit yang gelap berubah menjadi jingga kekuningan dan dari balik cakrawala sang surya menampakan wujudnya.
Mereka bertiga kini berdiri tegak bersama pendaki lainnya. Menikmati keagungan Tuhan, meskipun bibir mereka terasa perih dan kaku karena dehidrasi. Keindahan yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup.
"Raka, keluarkan kertas dan spidolmu! Aku akan menulis nama anggot kita yang ada di bawah, lalu tolong kamu foto, ya!" titah Nino sembari tersenyum.
"Apakah nama Aluna juga akan ditulis?" goda Awan dengan mengedipkan satu netra.
"Tidaklah, Wan. Aluna sudah tertulis di hati Pak Nino," seloroh Raka seenak jidadnya.
Pipi Nino sedikit bersemu merah, ia tak memungkiri perkataan Raka. Memang benar Aluna selalu tertulis di hatinya, sampai kapan pun. Bahkan ketika dirinya di hadapkan dengan maut tadi, hanya wajah Aluna yang terlintas. Menjadi tambahan energi bagi lelaki berdarah Belanda tersebut. Mereka segera mengabadikan momen spesial itu dengan mengambil beberapa potret kebersamaan.
Sedangkan Aluna masih mondar-mandir sembari menggigit bibir bawahnya. "Pak ini sudah hari kedua! Mengapa mereka tidak turun juga?"
"Sabar, Lun. Berdoa saja demi keselamatan mereka."
"Sabar, hah? Pak Suhandi tidak sakit 'kan? Kita bahkan tidak tahu keadaan mereka sekarang! Bagaimana bisa tenang?!" cerocos Aluna sembari menatap tajam sang manajer.