
Bu Hilma bersandar di kepala ranjang, memandang hamparan taman bunga pribadi miliknya dan dedaunan yang masih berguguran. Ia menghela napas lega, akhirnya Nino mau mengakuinya sebagai seorang ibu.
Apapun yang terjadi dirinya akan selalu melindungi Nino. Sudah cukup penderitaan yang Nino rasakan. Masa-masa kecil yang penuh luka dan ejekan karena ia tumbuh dewasa hanya ditemani dengan sang kakek.
Beliau memejamkan mata, bayangan masa lalu melintas di pelupuknya. Kesalahan fatal bertahun-tahun yang lalu kembali berputar di kepalnya layaknya sebuah film layar tancap, masih teringat jelas.
*Ketika itu Nino masih berusia tujuh tahun. Dalam derasnya hujan, Bu Hilma pergi meninggalkan Nino. Menitipkan putranya itu pada adik iparnya, dengan dalih ingin pergi merantau untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Memang kala itu keadaan keuangan mereka bisa dibilang cukup sulit. Menikah di usia muda, menjadikan kedua orang tua Nino kewalahan dalam mengatur finansial.
Bersama sang suami ia pergi ke Jakarta. Merintis usaha yang dimulai dari menjual jamu keliling. Rupiah demi rupiah, mereka kumpulkan demi kehidupan yang layak. Hingga saat ini Bu Hilma, sudah memiliki pabrik jamu tradisional sendiri di daerahnya.
Air matanya bergulir di antara senyuman getir wanita paruh baya itu, ia tak menyangka akan melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Bertemu dengan Sailendra, sahabat karib suaminya. Membuatnya lupa diri dan meninggalkan ayah biologis Nino. Bermacam rayuan dan racun adu domba merasuki otak Bu Hilma yang masih labil.
Perselingkuhan itu pun terjadi, memecah bahtera rumah tangga yang indah. Ayah Nino berusaha menutupi masalah ini dari keluarganya di kampung halaman. Lelaki itu tak ingin menambah beban pikiran sanak kadangnya.
Setiap malam suaminya itu dengan sabar menunggu kepulangan sang istri. Tak dapat dihitung pula sudah berapa kali ia menasehati sang istri. Namun, suatu hari rasa kecewa itu membucah, surat perceraian telah dilayangkan oleh Bu Hilma. Beberapa kali ia memohon untuk mengurungkan niat bercerai, tetapi Sailendra terus mencuci otak sang wanita.
Karena Bu Hilma masih seorang wanita yang labil. Perceraian itu benar-benar terjadi, bahkan ia merampas dan membawa seluruh dokumen-dokumen aset jerih payah mereka, yang memang sudah di atas namakan Bu Hilma oleh sang suami.
Ayah biologis Nino jatuh dalam keterpurukan yang dalam. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk berjudi dan mabuk. Hingga suatu hari, terdengar kabar bahwa ia meninggal karena bunuh diri. Tampaknya beban yang dipikulnya begitu berat. Jasadnya dipulangkan kembali ke kampung halaman.
Nino yang telah tumbuh menjadi remaja tak mampu menerima semua kenyataan ini. Ia berlari kencang menuju ambulans yang membawa jenazah ayahnya. Di sana ia berharap ibunya ada untuk memeluknya. Sayang hanya angan-angan, sang ibu tak menampakkan diri saat itu. Sebenarnya Bu Hilma datang bersama Sailendra, tetapi hanya mengamati dari kejauhan tanpa rasa bersalah.
Paman dan bibinya berusaha menenangkan Nino yang meronta-ronta dan menjerit tak karuan. Mulai hari itu, Nino diasuh oleh kakeknya. Karena bibi dan pamannya mendapatkan panggilan kerja di luar pulau.
Sebelum melakukan upaya bunuh diri, ayah biologis Nino telah mengirimkan surat pada sang kakek. Beliau meminta maaf karena tidak bisa menjaga mahligai rumah tangga. Ia memohon agar sang kakek mau mengasuh cucunya dan melimpahkan segala harta bagiannya kelak pada Nino.
Sesekali Bu Hilma menjenguk putranga, sang mertua tetap memperbolehkan wanita itu bertemu dengan putranya. Namun, Nino yang telah tumbuh menjadi pria dewasa, belum sepenuhnya memaafkan kesalahan Bu Hilma di masa lampau. Sikapnya terhadap sang ibu tetap dingin dan acuh.
Sepeninggal kakeknya, ia bahkan tetap memutuskan untuk hidup terpisah dengan ibunya. Nino hidup mandiri dengan mengelola restoran peninggalan sang kakek. Jiwa bisnisnya berkembang sangat baik, sehingga restoran itu dikenal oleh berbagai kalangan*.
Bu Hilma membuka netra perlahan, bibirnya bergetar menahan pilu. Seandainya saat itu ia tak melakukan hal memalukan itu, mungkin saat ini dirinya masih menyandang gelar Nyonya Sasongko bukan Sailendra.
Namun, nasi telah menjadi bubur. Tak ada yang perlu disesali lagi, saatnya kembali menata lembaran baru. Maka dari itu, Bu Hilma rela bertikai dengan suami keduanya demi kebahagiaan Nino. Bahkan jika itu harus berakhir dengan perpisahan, ia akan tetep memperjuanhkan hak Nino.
"Nak, mama akan berusaha mengabulkan permohonanmu. Saatnya mama menjalankan peran sebagai seorang ibu, apapun yang terjadi." Bu Hilma bergumam sembari mengusap punggung tangan yang telah dikecup putranya itu.
Mohon maaf, Nyonya ...," panggil seseorang dari balik punggungnya.
"Ada apa, Bi Inah?"
"Mohon maaf menggangu. Saya hanya ingin menanyakan, apa Anda sudah meminum obat?" jawab Bi Inah tertunduk hormat.
"Oh, iya aku hampir lupa. Tolong berikan aku obatnya!" perintah Bu Hilma pelan.
"Baik, Nyonya," sahut Bi Inah sembari tersenyum.
Bu Hilma lagi-lagi melempar senyum, guratan-guratan halus di wajah sepuh yanh masih tampak ayu itu terlihat jelas. Rona wajahnya tampak bercahaya, berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang suram. "Apakah suamiku pergi lagi?"
Bi Inah mengangguk ringan, ia merasa iba melihat sang majikan wanita. Pak Sailendra jarang di rumah semenjak beliau sakit. Bahkan, sering kali pergi ke luar kota hanya untuk berkumpul dengan rekan bisnis. Sekadar bersua dan bercanda ria tanpa ada pembahasan penting.
"Nyonya tampaknya sangat bahagia, maaf saya lancang bertanya begitu." Bi Inah segera menutup mulut dengan telapak tangannya.
"Tidak apa, hari ini aku merasa lega. Sikap Nino terhadapku sudah lebih hangat. Aku sangat bahagia, Bi." Bu Hilma meluapkan curahatan hatinya dengan berbinar.
"Oh iya, putraku akan segera menikah!"
"Saya turut berbahagia jika Tuan Nino bersikap baik terhadap Anda. Tuan Andim yang akan menikah? Bukankah beliau sudah memiliki istri?" tanya Bi Inah menerka-nerka.
Majikannya itu menggeleng cepat. "Bukan Andim, tetapi Nino yang akan segera menikah."
"Hah, dengan Nona Rere?" tanya sang asisten itu lagi dengan kening berkerut.
"Tidak, dia akan menikah dengan pilihannya. Nino tadi kemari untuk membatalkan rencana pernikahan dengan Rere. Bagaimana menurutmu?"
"Saya rasa itu cukup adil, Nyo--" Bi Inah menghentikan kalimat, ia merasa sudah sangat lancang.
Bu Hilma tersenyum kembali. "Tidak apa-apa, lanjutakan pendapatmu. Aku juga sudah merestui hubungan mereka, walaupun Sailendra tampaknya sangat marah padaku." Wanita itu mengalihkan pandang pada nakas di samping kanannya.
"Anda telah membuat keputusan bijak, Nyonya. Tuan Nino pasti akan semakin menghormati Anda. Semua yang telah Anda lakukan ini sudah baik, bahkan sangat luar biasa. Saya bangga bekerja di bawah pimpinan seorang wanita hebat," puji Bi Inah.
"Terimakasih, Bi. Nanti jika sudah ada kabar, maukah Bi Inah mengatur pernikahan Nino?"
Bi Inah mengedipkan sebelah netranya. "Tentu, dengan senang hati."