My Edelweiss

My Edelweiss
Pertengkaran Keluarga



Suasana lobby kantor tampak begitu dingin, semua karyawan menatap ke arah Nino dan Bu Hilma. Menantikan adegan apa yang selanjutkan akan tayang. Layaknya artis sinetron yang sedang syuting stripping. Mereka bergerombol menonton pertemuan keluarga itu. Sorot mata tajam milik Pak Syailendra tertuju pada Nino dan Aluna. Tersirat kebencian yang amat mendalam.


Bukan rahasia lagi, keretakan keluarga konglomerat itu memang santer terdengar hingga ke telinga para pekerja mereka.


"Ada apa ini, kok tegang sekali?" tanya seseorang berkacamata tebal yang baru saja tiba, salah satu pegawai di sana.


"Entahlah, aku cuma ikutan nonton, seru kayanya!" jawab seorang karyawan lainnya di sudut ruangan.


"Oke deh, aku juga ikutan!" ucap pria berkacamata itu lagi.


Bu Hilma menyenggol lengan suaminya pelan dan membisikkan sesuatu. "Pa, perhatikan raut wajahmu, semua karyawan kini menatap ke arah kita!" beo Ibu Hilma menegur suaminya yang tidak bisa menjaga ekspresi wajahnya di depan semua orang.


Namun, lelaki itu bergeming, ia masih menunggu jawaban Nino. Netra tuanya beradu pandang dengan anak tirinya itu. Akhirnya, Bu Hilma kembali berusaha mencairkan suasana dengan mendekati putranya. Wanita itu tersenyum memandang Nino. Putra semata wayangnya itu telah tumbuh menjadi pria tampan, mewarisi darah belanda ayahnya.


"Nino, bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Bu Hilma canggung, karena mereka sudah lama tidak bersua.


Mata Ibu Hilma terlihat memiliki lingkar kantung mata. Terlihat jelas bahwa keadaan wanita itu tidak begitu baik.


"Siapa wanita ini?" tanyanya lagi, manik matanya memandang ke arah tangan Nino yang menggenggam erat jemari kekasihnya itu.


Lagi-lagi Nino tak menjawab pertanyaan ibunya, ia masih menyimpan luka yang mendalam. Perbuatan sang ibu di masa lampau tak dapat terhapuskan dari memorinya. Hubungan mereka tidaklah baik-baik saja. Meskipun di mata publik, mereka nampak sebagai keluarga harmonis yang jauh dari gosip murahan. Nyatanya itu hanyalah sebuah trik, semata-mata untuk menjaga nama baik saja.


"Nino! Jawab! Apa ini yang Sasongko ajarkan kepada putranya, hah?" Pak Sailendra tak mampu lagi membendung api amarah yang telah berkobar di hatinya.


Mata Nino terbelalak mendengar ucapan lelaki brengsek di hadapannya itu. Tangan kirinya mengepal, andai saat itu tak ada Aluna. Mungkin ia akan memberi sedikit hadiah sambutan untuk Sailendra.


Sialan, berani-beraninya lelaki ******** itu menyebut nama ayahnya dengan mulut beracun milik lelaki itu.


"Jangan bawa-bawa Ayah! Apa hakmu untuk mengaturku, hah?" Nino membentak ayah tirinya itu dengan nada yang tak kalah tinggi.


"Tentu saja aku memiliki hak penuh. Aku papamu saat ini!" sahur Sailendra tidak mau kalah.


Semua karyawan kini menutup mulutnya tidak percaya. Memang benar, kehidupan konglomerat tidak seindah yang mereka bayangkan. Bergelimpangan harta, mobil mewah, rumah megah, dan juga kehormatan yang mereka miliki tidak mampu membeli kebahagiaan.


"Apa? Papa kau bilang?  Gelar itu terlalu baik untukmu. Kau hanyalah seorang parasit dalam kehidupan keluarga kami!" sentak Nino mulai tersulut api emosi.


"Nino! Dasar kamu ba--" Bu Hilma menghentikan umpatan suaminya, ia segera maju untuk menghentikan pertikaian itu.


"Sudah. Cukup! Apa kalian tak malu menjadi pusat perhatian? Ini di kantor, tolong dewasa lah sedikit!" Bu Hilma membentangkan kedua tangannya.


"Lihat anakmu! Itu akibatnya jika terlalu memanjakannya," ucap Pak Sailendra sembari membenahi kerah kemejanya.


Aluna menggenggam erat tangan Nino, mengelus punggung tangan kekasihnya agar Nino mampu meredam emosinya saat ini. Meskipun benci, tapi lelaki itu harus menjaga citra dan martabat keluarganya.


Nino mengerutkan dahi, ia menatap ayah tirinya itu dengan dingin.  Sejak kapan mereka memanjakannya? Selama ini mereka hidup dari uang hasil pabrik, yang dibangun susah payah oleh ayah biologis Nino. Bukannya malah mereka yang menjadi benalu? Apa salahnya jika dirinya mendapat hak waris?


"Tolong ajarkan suami barumu tata krama yang baik, Nyonya!" ucap Nino dengan nada mengejek.


Nino sengaja memanggil ibunya dengan sebutan kehormatan itu. Bukannya merasa bahagia, Bu Hilma justru sangat sedih. Rona wajahnya berubah muram. Ia menatap putra semata wayangnya itu sendu.


Sebegitu bencinya kah putraku sendiri padaku?


Tiba-tiba Pak Suhandi muncul dari belakang Nino, ia melihat sekeliling,  semakin banyak karyawan yang bergerombol. Lelaki itu segera membubarkan mereka, agar suasana tak kian menegang.


"Bubar! Bubar! Apa yang kalian lakukan di sini, hah?" bentaknya pada seluruh karyawan.


"Huu, Pak Suhandi. Lagi seru-serunya ini." Beberapa orang mengucapkan hal yang sama berbarengan.


"Apa tugas kalian sudah selesai? Kalau kalian masih di sini, aku akan meminta security untuk mencatat nama kalian! Lalu , aku tak segan memberi SP 1, karena kalian melalaikan tugas di jam kerja!"


Seketika kerumunan itu bubar, manager mereka benar-benar marah kali ini. Tak biasanya lelaki yang terkenal ramah itu memberi ancaman surat peringatan.


Melihat keadaan yang berangsur kondusif, Pak Suhandi beranjak menghampiri Bu hilma dan suaminya.


"Maaf atas kelancangan saya, Bu. Bagaimana jika perihal ini diselesaikan di ruangan saya saja? Takutnya nanti akan menjadi masalah baru, jika sampai terdengar oleh oknum tak bertanggungjawab."


Bu Hilma tersentak kaget, bagaimana bisa ia melupakan etika itu? Sampai-sampai seseorang harus mengingatkannya. Dengan wajah merah padam, Bu Hilma mengenggam lengan suaminya. "Ayo kita bicarakan ini di tempat lain!"


"Untuk apa, hah? Bukannya semua sudah tahu bagaimana kelakuan anak emasmu ini, Ma!" ucap Pak Sailendra geram,  ia masih saja mengibarkan bendera merah di hadapan Nino.


Nino dengan santai menjawab. "Semua juga tahu siapa yang tak beretika."


"Kamu!" Pak Sailendra menudingkan telunjuknya tepat di depan wajah Nino.


Bu Hilma segera menyambar tangan suaminya, ia menurunkan jari itu. "Sudah. Ayo kita bicarakan ini baik-baik!"


"Ah, maaf ...." Bu Hilma memandang Aluna kemudian beralih ke Pak Suhandi.


"Siapa nama wanita ini, Pak Suhandi?" tanya Bu Hilma.


Wanita itu sengaja bertanya pada Pak Suhandi, karena ia tahu tak akan mendapatkan jawaban apapun dari putranya. Ia menunggu jawaban manager regionalnya itu dengan tatapan menelisik.


"Al-aluna, Bu." Pak Suhandi menjawab dengan terbata-bata sembari melirik Nino.


"Oh, nama yang bagus. Maaf, Aluna,  boleh saya pinjam Nino sebentar?"


Bu Hilma menatap lekat gadis cantik yang sedari tadi hanya terdiam itu, menjadi saksi ketegangan pada keluarganya. Wanita paruh baya itu memperhatikan Aluna dari ujung rambut hingga kepala. Mungkin ia sedang menilai penampilan Aluna hari itu.


"Ah, ten-tentu saja. Bo-boleh, Bu. Sa-saya pamit kembali bekerja dulu." Aluna menjawab terbata-bata, sembari melepaskan genggaman tangan kekasihnya


Nino menatap Aluna dingin, menarik kembali tangan kekasihnya. Wanita itu hanya tersenyum sembari mengangguk. Entah apa maksud bahasa isyarat itu, tetapi Nino akhirnya melonggarkan cengkeramannya dan merelakan Aluna pergi.


"Mari saya antar ke ruangan saya, Bu," ucap Pak Suhandi kikuk.


Bu Hilma mendekati putranya, ia mendorong pelan bahu kekar itu. Berharap ada sedikit harapan untuknya memperbaiki hubungan lagi. "Ayo, Nak!"


"Jangan sentuh aku!" Nino membentak Bu Hilma.


Netra tuanya terbelalak,  kemudian berubah dipenuhi bendungan air mata. Ia menundukkan wajah menutupi rasa malu di hadapan Pak Suhandi, ia merasa gagal menjadi seorang ibu.


"Biar saya saja, Bu!" ucap Pak Suhandi menawarkan diri untuk membujuk Nino.


Pria itu merangkul bahu Nino. Ia tahu bagaimana perasaan rekan kerjanya saat ini. Ia sudah menganggap Nino seperti anak kandung. Bahkan eksekutif muda yang menarik banyak wanita itu, sering berkeluh kesah padanya.


"Ayo, Pak Nino! Tenanglah semua akan baik-baik saja," ajak Pak Suhandi sembari menarik kedua sudut bibirnya.


Nino mengangguk setuju, ia mengikuti kaki tangannya itu menuju ruang kerja. Sedangkan, Bu Hilma menggandeng paksa suaminya yang tampak ogah-ogahan. Wanita itu menatap punggung Nino. Hatinya sebagai seorang ibu terkoyak, untuk apa harta yang berlimpah jika ia tak dapat menyentuh darah dagingnya sendiri.


Karma paling menyakitkan adalah melihat tatapan penuh kebencian dan juga rasa jijik anak kandungnya kepada dirinya sendiri.