My Edelweiss

My Edelweiss
Serpihan Hati



"Nino, tolong aku!" Rere berlari dengan ekspresi ketakutan.


Pria itu beranjak berdiri dan membantu Rere yang tampak acak-acakan. "Kamu kenapa?"


"Wanita itu mempermalukanku di depan orang banyak. Dia bilang aku ini rendahan, tak bermoral dan sudah merebutmu."


"Siapa? Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, bicaralah dengan jelas," tandas Nino yang masih tampak bingung.


Rere menyeka air mata buayanya dan memasang tampang melas. "Wanita yang tadi duduk di dekat kaca sewaktu kamu bilang ruangan itu tampak berbeda. Tiba-tiba tadi dia menyerangku, bahkan dia hampir meninjuku."


"Hah?" Nino membuka mulut lebar, bagaimana mungkin Aluna melakukan hal itu? Benar-benar keterlaluan.


"Apa dia mantanmu?" tanya Rere dengan suara sengau.


Nino mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. "Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi semuanya akan segera kuselesaikan."


"Mungkin mantanmu cemburu padaku, jadi sewaktu ia tahu kamu tidak ada di dekatku dia menyerang. Aku takut, Nino," ucap Rere yang sengaja membuat masalah semakin rumit.


Nino mengerjapkan netra, memijat keningnya dengan kuat. Masalah satu baru saja selesai kini timbul masalah baru. Kenapa hidupnya jadi makin kacau? Bagaiman caranya ia bisa memikirkan solusi terbaik bagi perusahaan, jika terus begini? Ini benar-benar situasi yang sulit.


"Tunggulah di sini! Aku akan menemuinya." Nino beranjak dari posisi duduknya.


"Ikut," rengek Rere sembari menarik ujung kemeja pria bertubuh kekar itu.


Nino menyodorkan tangan untuk membantu Rere berdiri. Kondisinya memang sangat kacau, pakaian yang awalnya licin itu terlihat kusut. Surainya acak-acakan, ditambah dengan netra yang tampak bengkak. Terbesit rasa iba melihat anak konglomerat itu teraniyaya.


Mereka segera turun menggunakan lift, Nino mempercepat langkah menuju tempat di mana Aluna mengerjakan segala tugasnya. Aluna terbelalak melihat kedatangan mantan kekasihnya itu, ia dengan cepat membuang muka.


"Aluna, aku ingin berbicara denganmu, boleh?" tanya Nino lirih.


Bagaimanapun hati pria itu telah lama terpaut oleh pesona Aluna. Ia merasa canggung dan jantungnya berdebar menanti jawaban. Apalagi setelah apa yang dilakukannya pada gadis itu.


"Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu!" jawab Aluna sengit.


Nino mengembuskan napas perlahan-lahan. "Apa benar kamu hampir meninju Rere?"


Aluna sontak menoleh, mendengar ucapan Nino. Ternyata pria itu ke mari bukan untuk meminta maaf padanya. Namun, untuk memperpanjang masalah tadi. Lagi-lagi kekecewaan merajai hati wanita berparas oriental itu.


"Ya, Tolong bilang padanya untuk belajar lagi etika!"


"Aku tahu kamu pasti marah denganku tentang kemarin tapi ... ini adalah pribadi kita, tidak ada hubungannya dengan Rere," tutur Nino masih dengan nada lembut.


Aluna mengernyitkan alis. "Maksudmu apa?"


Mantan kekasih Aluna itu menelan salivanya sendiri. "Kenapa kamu melakukan hal itu, Aluna. Rere tidak bersalah, memang aku hang memilihnya."


"Jadi, kamu pikir aku yang memulai semua ini, hah? Aku bahkan tidak mengenal dia siapa, tiba-tiba datang menghinaku! Kamu boleh bercinta dan memiliki hubungan dengan siapapun! Aku tidak peduli!" sentak Rere sembari menggebrak meja.


Emosinya meletup dengan dahsyat, api friksi telah menggerogoti habis batinnya. Apa-apan ini? Baru beberapa waktu lalu ia menjadi korban penghinaan, sekarang malah berbalik menjadi tersangka.


"Bukan begitu, aku hanya ingin meluruskan masalah ini," ujar Nino yang masih berusaha tenang.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi! Kamu lebih percaya wanita ini 'kan?" tanya Aluna seraya menuding Rere yang bersembunyi di balik tubuh kekar Nino.


"Jawab!"


Namun, Nino tidak mengucapkan sepatah kata pun. Membuat Aluna makin geram dan menjadi-jadi. Akhirnya ia meluapkan seluruh emosi di depan mereka.


"Kalau kamu hanya diam saja, berarti benar kamu lebih percaya perkataan busuknya! Apa gunanya kita kenal bertahun-tahun, jika kamu tidak bisa memahami perangaiku. Apa aku pernah membuat onar? Apa aku pernah membuatmu dalam masalah karena hal sepele? Jawab, Nino! Jangan hanya diam saja!" cerca Aluna dengan gamblang.


Pria itu menggeleng sembari memejamkan mata. Benar adanya, mantan kekasihnya itu tidak akan melakukan sesuatu yang akan merusak nama baiknya. Kecuali jika ia merasa sangat terancam.


"Maaf, aku rasa ini salah paham." Nino mendongakkan wajah, menatap Aluna lurus.


"Kamu tidak perlu meminta maaf! Aku menyesal pernah menjalin hubungan dengan lelaki pengecut sepertimu!"


Nino menghampiri mantan kekasihnya yang tampak berkaca-kaca. Tubuhnya bergerak sendiri, memaksanya untuk menghapus jejak buliran bening yang mulai menetes. "A--aku, sebenarnya aku masih mencintaimu, tapi ...."


"Cukup! Aku muak dengan semua ini. Hatiku bukanlah pion catur yang bisa kamu mainkan sesukamu. Aku membencimu, Nino!" hardik Iren yang bergerak mundur, berusaha menjauh dari sang mantan.


Rere memeluk Nino dari belakang untuk menahan agar pria itu tak lagi mendekati Aluna. Ia menyeringai tajam, puas membuat hubungan mereka berdua semakin hancur. Kini keduanha telah jatuh ke dalam palung kegelapan, tidak ada lagi celah untuk secercah cahaya.


"Ayo kita pergi, Re!" ajak Nino tiba-tiba.


Wanita itu mengangguk lemah, seakan-akan dirinha merasakan kesedihan mendalam. Padahal saat itu hatinya bersorak gembira atas kemenangannya kali ini. Sebelum ia meninggalkan ruangan, tatapannya beradu dengan Aluna.


"Baiklah, aku rasa ini juga sia-sia, Honey."


Perkataan Rere membuat Aluna mual dan semakin ingin menumbuk bibir Rere dengan cobek. Aluna kembali mendaratkan bokong ke kursi kerjanya. Retno --si ceriwis-- mengusap lembut punggung Aluna. Berusaha menenangkan sahabat karibnya itu.


"Sabar, ya," tutur Retno kalem tidak seperti biasanya yang cerewet.


"Terimakasih," jawab Aluna datar.


Entah, sudah berapa liter air mata yang ia keluarkan untuk menangisi kisahnya dengan Nino. Praha ini benar-benar menguras energi, ia hanya ingin pulang dan merebahkan tubuh. Melepaskan segala beban yang sedang dipikulnya.


"Ret, aku mau izin pulang. Sepertinya aku kurang enak badan," pamit Aluna dengan tatapan sendu.


"Hati-hati, ya Lun. Jangan melamun!"


Aluna mengangguk patuh dan menarik kedua sudut bibirnya. Membentuk lengkungan senyum penuh keterpaksaan. Ia melangkahkan kali dengan gontai menuju ruang absensi untuk mengisi form izin pulang. Setelah mendapatkan izin, tiba-tiba seorang pria yang sangat familiar menghadang jalan.


"Aku mau bicara denganmu!" Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Aluna dengan erat.


Aluna meronta-ronta, berusaha melepaskan tangan tua yang masih berotot kuat itu. Namun, tenaganya telah habis terkuras. "Lepaskan, Pak! Apa yang mau Anda bicarkan?"


"Berjanjilah untuk menjauhi Nino! Jika tidak, aku tak segan membuatmu dikeluarkan dari sini dan menjadi gelandangan!" ancam Pria itu dengan manik mata berkiilat.


Kening wanita itu berkerut, pria yang ada dihadpannya adalah ayah tiri Nino. Mengapa ia ikut campur urusan pribadi mereka?


"Maaf, tapi ini bukan urusan Anda."


Pria itu mengencangkan kembali cengkeramannya, membuat Aluna sdikit meringis kesakitan. "Jangan pernah berpikir untuk menjadi bagian keluarga Sasongko! Aku akan membuatmu bagai di neraka, camkan itu!"