
Nino meletakkan tubuh Aluna dengan sangat hati-hati. Untuk beberapa saat, pandangannya tertuju pada wajah gadis ayu itu. Wajahnya yang putih bersih bak porselen, dibingkai alis tipis yang tertata rapi, hidung Aluna tak begitu mancung, serasi dengan bibir tipisnya yang makin menggoda iman.
Malam yang dingin diiringi dedaunan yang menari diterpa angin. Membuat darah Nino berdesir deras, memaksa jantungnya bekerja lebih cepat lagi. Saat ini, ia sedang berperang melawan hawa nafsunya sendiri.
Mengendalikan perasaan, ingin menyentuh tubuh molek Aluna. Kedua manik matanya bergerak, menyusuri setiap jengkal bagian tubuh kekasihnya. Deru napas yang berat dibumbui perasaan ingin bercumbu, semakin bergejolak di hati pria muda itu.
Perlahan Nino mendekatkan wajahnya, disibakkan surai hitam nan panjang Aluna. Dikecupnya lembut bibir yang ranum itu, perlahan- lahan nalurinya sebagai lelaki dewasa mulai menikmati adegan itu. Selang beberapa saat Nino tersentak kaget, refleks bergerak mundur. Ia menyadari apa yang telah dilakukannya bukanlah hal yang pantas.
"Akkh! Apa yang aku perbuat? Cowok macam apa aku ini?!" gerutunya kesal.
Nino menepuk dahinya keras agar kesadarannya pulih kembali, kemudian menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh Aluna. "Aku berjanji akan menjagamu hingga saatnya tiba, Sayang."
Sepertinya aku butuh minuman, mendadak tubuhku terasa panas. Hampir saja terjadi sesuatu malam ini. Godaan setan itu benar-benar mengerikan!
Pria tampan itu membalikkan tubuh dan berlalu pergi, meninggalkan sang kekasih dalam kegelapan malam. Sedangkan Aluna yang belum benar-benar tertidur, membuka kelopak matanya perlahan.
Ia menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman manis. "Iya Sayang, aku pun berjanji akan menjaga tubuh ini hanya untukmu. Selamanya tak akan kulepas!
Hmm, tak ada salahnya aku numpang tidur sebentar di sini untuk meregangkan otot-otot tubuhku.
Aluna menggulung selimut lebih erat, kemudian mengatupkan netranya. Melepas penat sejenak di antara rintik hujan, dan menikmati aroma tubuh Nino yang tertinggal dalam ruangan itu.
Waktu terus bergulir, tangisan langit telah mereda. Aluna mulai merasa gerah oleh selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Ia menggeliat, berusaha membuka kedua mata dengan malas. Samar-samar manik mata indah itu, menangkap bayangan penunjuk waktu yang terpampang di depannya.
"Astaga! Sudah jam delapan malam, aku harus bergegas pulang!" pekik Aluna tiba-tiba.
Ia menyibak selimut, menggerakkan tubuhnya ke samping kanan. Lagi-lagi sebuah kejutan menanti, netranya membulat sempurna. Tampak sang kekasih di sana sedang menatap lekat. Memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan wanita itu.
"Nino! Apa yang kamu lakukan di sini, hah?" Mata Aluna terbelalak melihat Nino di depan sana.
"Tentu saja aku menjagamu. Aku kan pria bertanggungjawab yang menepati janji," ucap Nino menyombongkan diri.
Setelah kejadian ciuman kilat tadi Nino merasa sangat bersalah, ia memutuskan untuk kembali ke kamar Aluna. Pria itu merasa cemas kalau wanitanya nanti akan ketakutan karena tak ada orang di sisinya.
Aluna menatap Nino curiga dan bergegas menarik kembali selimut, menutupi bagian roknya yang sedikit tersingkap. "Ta--tapi kamu enggak ngapa-ngapain aku kan?"
"Cih, mana ada yang nafsu lihat tubuh digulung kaya kue lemper gitu!" decih Nino sembari memalingkan wajah.
Wanita itu melirik kain yang membungkus dirinya, benar juga selimut itu berwarna hijau pupus. Membalut tubuhnya secara sempurna, benar-benar mirip kue lemper ukuran raksasa.
"Tapi bisa saja kamu melakukan sesuatu saat aku tertidur, memanfaatkan kesempatan!" sangkal Aluna tak mau kalah.
"Hmm, masih banyak bicara? Sudah bagus kubiarkan kamu tidur, sedangkan aku sebagai tuan rumah? Hanya bisa duduk seperti obat nyamuk bakar!"
"Eh, emm. I--iya maaf aku kebablasen tidurnya," ujar Aluna malu dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Maaf? Tidak semudah itu, ada hukuman yang harus kamu jalani!" Nino menyeringai.
"Hukuman apa? Aku tidak melakukan kesalahan apapun." Aluna menyipitkan matanya menatap Nini.
"Sudah, jangan mengoceh terus! Temani aku makan malam di sini!" ucap Nino sembari menggandeng pergelangan tangan Aluna.
"Ah, ta--tap--" Nino membungkam mulut Aluna dengan satu tangannya.
"Kamu ini cerewet banget, ikuti saja perintahku!"
"Baiklah," ucap Aluna pasrah mengikuti ke mana Nino pergi.
Dasar pria mesum! Sudah mencuri ciuman masih saja memaksaku!
Mereka memasuki ruang makan, Aluna membelalakkan mata. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah meja oval berukuran besar, yang dapat menampung 8 orang sesuai jumlah kursinya. Sudut ruangan dihiasi oleh bunga lavender, menebarkan aroma yang menenangkan. Hidangan-hidangan lezat telah tersaji, mengelilingi cawan lilin yang berada di tengah.
Nino menarik salah satu kursi di dekatnya, kemudian mengalihkan pandangan pada Aluna. Wanitanya tampak bengong, menatap jamuan makan malam yang mewah itu.
Apa ini candle light dinner seperti di film-film? Aww, so sweet!
"Duduk di sini!" ucap Nino menepuk kursi kosong di sampingnya.
Aluna bergerak menghampiri sang kekasih, ia mengambil posisi tepat di samping kiri Nino. Wanita itu menepuk-nepuk pipinya dengan keras, meyakinkan diri bahwa itu kenyataan.
"Tuan, ini jusnya," ucap seseorang dengan nada manja.
"Ya, terimakasih. Letakkan saja di situ!"
Pelayan wanita itu meletakkan dua gelas jus di tengah-tengah Aluna dan Nino. Kemudian berlalu pergi. Aluna merasa tak asing dengan pemilik suara itu, sontak ia pun menoleh dan tampak olehnya wajah yang familiar.
"Hesti," bisiknya lirih.
"Ya, dia bekerja di sini sudah setahun yang lalu," ujar Nino sembari mengunyah makanannya.
Aluna tersentak, bagaimana bisa tetangga desanya itu bekerja di sini? Bukankah wanita itu dulu pernah menyatakan cinta pada Nino? Atau jangan-jangan mereka ... tiba-tiba hatinya merasa kesal.
"Hmm, pendengaranmu cukup bagus! Padahal aku hanya bergumam lirih."
"Sudah, cepat habiskan makananmu atau kamu memang berniat untuk menginap di sini?" tanya Nino menggoda kekasihnya.
"No!" jawab Aluna singkat.
"Apa dia bekerja di sini full time?" tanya Aluna penasaran.
"Siapa?"
"Tentu saja Hesti! Mau siapa lagi?" dengkus Aluna kesal.
"Iya, dia menginap di sini. Sesekali pulang, itu pun hanya sebulan sekali," jawab Nini santai.
"Apa? Jadi sepanjang hari kamu bersamanya? Kenapa kamu enggak pernah cerita?" cerca Aluna dengan bersungut-sungut.
"Buat apa?"
Jawaban Nino membuat darah Aluna mendidih sampai ke ubun-ubun. Wanita itu menggertakkan giginya, membuang napas kasar. Lalu segera melahap dengan cepat makanan yang ada di piringnya.
"Kamu kelaparan?" Nino terkejut dalam hitungan detik semua makanan di piring Aluna tersapu bersih.
"Ya, saking laparnya aku ingin memakan orang!"
"Sejak kapan kamu jadi kanibal? Atau ini memang hoby terpendammu?" Nino terus menggoda kekasihnya yang tampak sangat kesal itu.
"Sejak ha-" Aluna menghentikan kalimatnya, seseorang berjalan ke arah mereka. Membawa nampan berisi dua mangkuk puding strawberry.
Pelayan wanita itu mengerlingkan mata pada Nino. "Saya taruh di sini ya, Tuan. Apakah masih ada lagi yang Tuan Nino butuhkan?"
"Tidak ada!" jawab Nino dan Aluna serentak.
Pelayan itu melempar senyuman genit dan berlalu pergi dengan bersenandung kecil. Hal itu membuat Aluna makin muak, bisa-bisanya ada wanita lain menggoda Nino di hadapannya.
"Oho, senang sekali selalu diperhatikan oleh wanita cantik dan sexy!" sindir Aluna dengan nada meninggi.
Nino menoleh pada Aluna, dan mengambil irisan Strawberry. "Aku sudah tak tahan mendengar ocehanmu! Bilang saja kalau kamu cemburu kan?"
Pria itu menyodorkan irisan strawberry ke arah Aluna dengan bibirnya. Ia mendekat dan semakin mendekat, membuat Aluna gugup dan membatu.
"Sudah, ayo cepat habiskan pudingmu! Lihat hampir jam sepuluh malam," ucap Nino sembari tersenyum nakal.
Pria itu merasa puas melihat kekasihnya mati gaya. Ia selalu sukses membuat wanitanya cemburu, tetapi Aluna tak pernah mau mengakui.
Tunggu saja pembalasanku nanti ya, Nino. Aku kesal sekali malam ini! Aluna menyendok pudingnya sembari menatap Nino tajam.