My Edelweiss

My Edelweiss
Tanjakan Cinta



Dengan berat hati, mereka memutuskan untuk berhenti di Ranu Kumbolo dan tidak melanjutkan sampai puncak. Mengingat bahwa ada salah satu rekan yang sakit, maka sebagai bentuk empati mereka tidak meneruskan perjalanan.


Yeri yang telah tersadar, perlahan menajamkan pendengaran. Manik matanya terbelalak mengetahui bahwa pendakian berhenti di tempatnya berada saat ini. Dengan sedikit energi yang baru saja terkumpul. Yeri berusaha bangun, menegakkan kembali kakinya yang terasa sangat lemas.


"Lun, tolong bantu aku berjalan!" pinta Yeri lirih sembari berusaha menggapai bahu Aluna yang terduduk di sampingnya.


Memang, sejak Nino berdiskusi dengan anggota lain. Aluna berinisiatif sendiri untuk menjaga Yeri. Mau tak mau ia harus berperan sebagai perawat, karena ia satu-satunya pendaki wanita yang memiliki pengalaman mengurus orang sakit.


Aluna menoleh ke arah sumber suara. "Yer! Jangan bangun dulu! Kondisimu belum benar-benar pulih."


"Tolong bantu aku, Lun!" pinta Yeri sekali lagi, masih dengan suara yang amat lirih.


Gadis itu mengembuskan napas kasar dan menggeleng ringan. "Baik, taruh tanganmu di bahuku!"


Sedikit terhuyung, Aluna memapah Yeri untuk berjalan keluar tenda. Para anggota lain yang melihat Yeri, langsung bergegas membantu Aluna yang tampak kepayahan. Tentu saja, karena postur tubuh Yeri lebih tinggi dan besar jika dibandingkan wanita itu.


"Terimakasih, Ka. Ini soulmatemu ngeyel minta keluar!" rutuk Aluna sedikit dongkol.


Raka terkekeh dan membantu Yeri untuk duduk di samping tenda. Kemudian, Nino menghampiri anggota termuda mereka itu dengan wajah cemas. "Astaga, kenapa kamu keluar tenda? Ini bisa memperburuk kesehatanmu."


"Pak, saya hanya ingin kalian melanjutkan kembali pendakian sampai ke puncak tanpa saya." Pria berwajah pucat itu tertunduk.


Tampak jelas di rona wajahnya, Yeri sangat kecewa karena harus tertinggal di sana. "Saya tidak apa-apa, Pak."


Akan tetapi, Nino bukanlah seorang atasan yang egois. Kedua manik matanya lurus menatap Yeri. Kemudian, ia menarik kedua sudut bibirnya. "Tidak, kita satu tim. Lain kali aku ingin kita sampai di puncak bersama. Mungkin memang belum rejeki untuk pendakian kali ini."


"Ta-tapi, Pak!" sergah Yeri dengan bibir bergetar.


"Tidak ada tapi-tapian. Jangan menyalahkan diri sendiri! Sudah bisa sampai di tempat yang sangat indah ini bersama kalian cukup membuatku senang." Nino mengalihkan pandangan ke arah Aluna, tetapi wanita itu pura-pura tak melihat.


Dada Aluna berdesir, aliran darahnya terpompa lebih cepat. Bahkan ia sampai bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Seakan-akan organ vital itu akan melompat keluar. Padahal pria itu hanya menatapnya, kenapa ia merasa begitu bahagia?


Tiba-tiba terlintas bayangan jika ia menikah dengan Nino. Pasti akan banyak orang berdecak kagum, tetapi ridak semudah itu! Aluna tetap harus menguji cinta Nino. Ia tak ingin jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.


"Pak, persiapan sudah siap. Ayo kita lanjutkan mendaki sampai ke tanjakan cinta." Suara seseorang terdengar mengajak Nino.


"Ya, aku segera ke sana."


Nino membalikkan badan dan ia pergi begitu saja. Tanpa berpamitan kepada Aluna, bahkan menoleh lagi saja tidak. Ah, Nino memang lelaki menyebalkan! Adegan romantis tadi mungkin karena ada setan gunung yang merasukinya.


"Dasar manusia es!" rutuk Aluna tanpa sadar.


"Siapa, Lun? Aku?" tanya Yeri tiba-tiba.


Saking asiknya mengamati Nino, Aluna lupa jika Yeri masih berada di sampingnya. Untung saja Aluna tidak menyebutkan nama. Jika sampai terdengar telinga lain, mungkin pekerjaannya akan melayang begitu saja.


Pria itu mengernyitkan alis. "Perasaan tadi kamu enggak bilang gitu, deh."


"Iya aku bilang gitu! Sudah istirahat saja sana! Sepertinya pendengranmu ikut terganggu, Yer. Masuk ke tenda dan jadilah kupu-kupu, " ejek Aluna.


Memang benar, Yeri harus banyak berada di dalam tenda dan sleeping bag. Hal ini berfungsi untuk mengembalikkan panas tubuhnya. Sehingga, lelaki itu tidak mengalami hipotermia lagi. Ia berjalan dengan bantuan Aluna menuju tenda.


"Yer, sebenarnya kamu kenapa bisa hipotermia?" tanya Aluna sembari mengambil posisi duduk di dekat pria itu.


Manik mata Yeri memandang Aluna lekat. "Aku semalam berjaga di luar dan tidak memakai jaket. Kupikir semuanya akan baik-baik saja, ternyata aku malah mengacaukan liburan kita."


"Hey, jangan begitu! Kita di sini untuk menghibur diri, bukan untuk mencelakai diri! Ingat, aku tidak ingin mendengar ocehan ngawurmu lagi!"


Sebenarnya Aluna sedikit kecewa juga tidak bisa ikut mendaki lagi. Baginya pengalaman pertama mendaki itu begitu menyenangkan. Namun, bagaimanapun Yeri adalah bagian dari perusahaan Sasongko. Itu artinya Yeri juga bagian keluarganya.


"Maafkan aku, ya Lun. Harusnya kamu dapar melihat dengan mata kepalamu sendiri ketika Pak Nino mendaki tanjakan cinta, tapi ...."


Secepat Kilat Aluna menyumpal mulut Yeri dengan roti tawar yang dibawanya dari rumah. "Aku 'kan sudah bilang, jangan mengoceh lagi!"


"Baik, Bu Nino."


Ejekan Yeri membuat pipi Aluna bersemu merah. Entah mengapa rasanya sangat malu mendengar seseorang memberi embel-embel nama Nino pada julukannya. Aluna memutar bola matanya malas. Masih berusaha menutupi kegembiraannya.


"Jangan terus menggodaku! Atau kamu mau aku doakan jomblo sepanjang masa?"


"Eh, jangan dong! Kejam banget."


Mereka berdua terkekeh bersama, Nino yang berasa di seberang mereka. Menatap penuh kecemburuan. "Awas saja kalau dia berani menggoda Edelweissku! Akan kulumat dia sampai halus."


Pria itu berdiri tegak, lengkap dengan berbagai macam alat hiking. Ia bersama dua rekan lainnya sesaat menghilang bersamaan dengan anggota tim lain.


Dari Ranu Kumbolo, perjalanan selanjutnya akan dilanjutkan ke Cemoro Kandang. Nino memicingkan mata, sebenarnya ada dua tempat indah yang akan mereka lalui jika saja pendakian itu berjalan lancar. Yakni Tanjakan Cinta dan Oro-Oro Ombo. Sayangnya mereka hanya akan ke tanjakan cinta dan kembali turun ke Ranu Kumbolo.


"Pak, saya mulai merekam videonya. Anda jangan menoleh ke belakang! Saya tetep bersama Anda."


"Baik." Nino memulai perjalanannya, seraya melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang lagi.


Ada mitos yang berkembang tentang Tanjakan Cinta ini. Konon katanya, barang siapa yang lolos Tanjakan Cinta ini tanpa melihat ke belakang, maka hubungan percintaannya dengan pasangan akan langgeng. Mungkin karena hal itu, pendaki tadi mengusulkan tantangan untuk menguji kesungguhan Nino.


Selama satu jam Nino mendaki tanjakan curam yang terlihat berada di belakang Ranu Kumbolo tanpa menoleh ke arah belakang sedikit pun. Hampa memang, serasa dia hanya bertemankan angin dan pasir. Namun, ini semua ia lakukan demi merebut kembali hati Aluna.


Ketika Nino berada di perbatasan Tanjakan Cinta dengan Oro-oro Ombo, netra kecoklatan itu dimanjakan dengan hamparan bunga lavender yang begitu luas. Ingin rasanya ia mengajak Aluna untuk pergi ke sana. Apakah setelah pembuktian cinta ini, Aluna akan menerima Nino kembali?