My Edelweiss

My Edelweiss
Konspirasi Hati



"Suruh mereka menunggu sebentar."


Nino bergegas menuruni tangga, disusul dengan Aluna. Tampaknya itu jasa wedding organizer yang telah dijanjikan Bu Hilma. Pernikahan mereka kurang sebulan lagi, beruntungnya segala surat-surat penting sudah diserahkan kepada pejabat daerah. Untuk masalah gedung dan persiapan resepsi mereka pasrahkan kepada Bu Hilma. Sesuai dengan janji wanita paruh baya itu, seluruh biaya akomodasi ditanggung beliau.


Tampak sepasang pria dan wanita berseragam sepadan menunggu mereka sembari menyeruput teh. Sang wanita terlihat modis dan berkelas, sementara lelakinya tampak biasa saja. Namun, masih berwibawa juga.


"Selamat malam, maaf mengganggu waktu Anda. Saya diperintahkan oleh Bu Hilma untuk segera menyerahkan tipe dekorasi ini kepada Anda, Pak ...." Sang pria menjulurkan tangan ke arah Nino.


"Nino, perkenalkan saya Nino Huzair Sasongko dan ini calon istri saya, Aluna Tavisha." Lelaki itu merengkuh bahu Aluna sembari tangan kanannya menjabat tangan perwakilan W. O itu.


"Saya Herza dan ini rekan saya Salma," sahut lelaki itu turut memperkenalkan diri.


"Silakan duduk! Maaf sebelumnya, apakah kita bisa langsung ke intinya saja? Karena saya harus mengantarkan dia pulang," tawar Nino dengan sopan.


"Tentu saja, Pak. Ini daftar dekorasi kami. Silakan Anda memilih konsep yang diinginkan!" Salma menyodorkan sebuah album tebal berwarna keemasan.


"Sayang, kamu mau dekorasi yang seperti apa?" tanya Nino seraya membolak-balik beberapa potret sebagai reverensi pilihan dekorasi.


Aluna memicingkan netra. "Yang ini bagus, gaya rustic. Tidak terlalu berwarna-warni dan tampak elegan."


"Oke, kami ambil yang ini."


Tanpa mempertimbangkan lagi, Nino memilih apa yang telah Aluna kehendaki. Baginya desain seperti apapun sama saja, yang terpenting mereka bisa menikah.


"Hmm, Herza, mengapa kalian lama sekali? Aku bosan menunggu di mobil." Seseorang tiba-tiba muncul di ambang pintu.


Aluna menelan salivanya sendiri, pria berjaket denim itu menyandarkan kepala di daun pintu. Dia adalah pria yang sangat tidak ingin ditemuinya, bahkan jika bisa saat itu ia ingin segera berlari jauh.


"Hey cecungkuk! Apa yang kamu lakukan di rumahku? Pergi!"


Lelaki yang tidak lain adalah Alfaro itu tampak mengunyah sesuatu. "Santai, Bro! Beginikah cara seorang Nino berbicara dengan salah satu calon penerus jasa yang akan kamu kenakan? Sayang sekali."


"Hah, jadi jasa W. O ini milik keluargamu?" tanya Nino dengan tatapan menelisik.


"Iya, memang kenapa? Ada yang salah?" Alfaro berbalik tanya sembari mengenakan hoodienya.


Nino mengepalkan tangan dan membuang muka. "Cih, kalau begitu batalkan saja yang tadi. Aku akan mencari sendiri W.O yang layak, kalian bertiga bisa pergi dari sini."


Lelaki itu membalikkan badan sembari menggandeng Aluna. Tatapan mereka bertautan, Aluna dapat dengan jelas melihat api kebencian di sorot mata dingin itu. Membara dan membuat seluruh tubuh Nino terasa hangat.


"Ta--tapi, Pak. Bagaimana saya menjelaskan ini semua kepada atasan? Pak Nino, tolong dengarkan kami. Nasib kami dipertaruhkan, jika Anda membatalkan kerjasama ini. Kami akan didepak, tolong Anda pikirkan kembali!" Pria bernama Herza itu berbicara sedikit lantang, tetapi dengan nada meminta.


Nino memasukkan kedua tangannya di saku celana dan menoleh ke belakang. "Aku bilang tidak, ya tidak! Enyah dari hadapanku!"


"Tolonglah kami, Pak!"


Wanita yang sedari tadi hanya diam itu mulai angkat bicara. Suaranya merdu dan halus sekali, mungkin ia mantan penyanyi dangdut? Eh, bukan-bukan! Lebih tepatnya diva dangdut, karena saking bagusnya.


Aluna mencekal pergelangan tangan kekasihnya, ia menarik napas dalam-dalam. "Kami akan tetap menggunakan jasa kalian, persiapkan semuanya dengan baik. Sisanya biar aku yang urus."


"Ah, terima kasih atas pengertiannya, Bu. Ka-kami mohon undur diri. Selamat malam," ucap Herza dan rekannya berbarengan.


"Malam."


"Jangan mengorbankan orang lain demi egomu! Mengapa mereka harus tersiksa dengan urusan pribadimu dengan Alfaro? Ini bukan Nino yang kukenal." Aluna menatap calon suaminya itu tajam.


Ada benarnya perkataan Aluna, kedua pekerja itu bahkan tidak mengetahui ada dendam di antara Nino dengan anak dari bosnya. Beruntungnya masih ada Aluna yang mrngingatkan, jika tidak sama saja putra Bu Hilma itu telah menzolimi orang lain.


"Baiklah, apapun maumu aku terima," ucap Nino sembari mengecup puncak kepala Aluna.


Perlakuan Nino seperti inilah yang membuat wanita berparas oriental itu semakin mencintainya. Walaupun terkadang perselisihan kecil sering terjadi, tetapi sikap mereka yang bertolak belakang malah menjadi bumbu pelengkap hubungan.


"Cukup Skinshipnya, sekarang antarkan aku pulang, tapi sebelum itu mampir di betamart ya. Aku mau membeli sesuatu." Aluna mengerucutkan bibirnya.


"Apa itu skinship?" tanya Nino dengan alis mengernyit.


"Hadeh, itu artinya sentuhan kulit! Makanya lihat film romantis kek, atau baca novel percintaan biar up to date. Jangan hanya berkutat dengan lembaran dokumen, lama-lama wajahmu lebih tua dari usiamu," cerocos Aluna panjang lebar.


"Ini semua juga demi masa depanmu, aku tidak ingin istri dan anak-anakku kelak hidup kekurangan."


Nino tidak terima dengan perkataan kekasihnya. Lelaki itu merasa wajahnya tampan, sehingga banyak gadis di luar sana yang mengejarnya. Berharap untuk bisa bersanding di sisi putra Bu Hilma itu.


Namun, memang benar jika Nino tidak pernah mengikuti trend, seakan-akan waktunya hanya untuk perusahaan. Bahkan ia tidak pernah memantau sosial media. Beberapa akun miliknya dibiarkan terbengkalai begitu saja. Sungguh malang nasib para akun tersebut.


"Hmm, terima kasih," ucap Aluna dengan wajah bersemu merah.


Wanita itu salut, apapun yang Nino lakukan penuh tanggungjawab. Lelaki itu membawa begitu banyak perubahan dalam hidupnya. Astaga, apa Aluna sudah jadi ratu bucin?


"Woi, pulang enggak?" tanya Nino sembari mengibas-kibaskan tangan di depan wajah Aluna.


Wanita itu tersentak dan meringis sehingga deretan gigi dan ginsulnya terlihat jelas. "Iya dong, jangan lupa ke betamart!"


Mereka menyusuri jalanan beraspal yang mulai tampak senggang. Di bawah sinar rembulan, kendaraan besi itu tampak berkilauan. Tak lupa mereka mampir ke salah satu minimarket.


"Kamu tunggu di sini saja, aku enggak lama, kok," ujar Aluna sembari membuka pintu mobil.


Bukan Nino namanya jika membiarkan wanita yang ia cintai berkeliaran sendiri, walaupun masih dalam jarak pandangnya. Lelaki itu mengekor di belakang Aluna. Ia menanti di samping pintu kaca yang menghadap ke kasir.


"Totalnya tiga puluh ribu rupiah, ada kartu anggotanya, Kak?" tanya kasir minimarket.


Aluna menggeleng ringan. "Ketinggalan di rumah, Kak."


Nino melongokkan kepala, berusaha mengintip apa yang dibeli oleh Aluna. Namun, penglihatannya terhalang oleh pria berbadan tambun yang mengantri di belakang Aluna.


"Ish, ngapain kamu di sini? Ayo pulang!" ajak Aluna setelah melihat Nino.


"Sini aku bawain! Habis berapa? Aku ganti." Nino merampas bungkusan kresek putih itu dengan seenaknya dan melihat struck yang sengaja ditempelkan di bagian depan.


Manik matanya seketika terbelalak, bukan karena nominal harga barang tersebut. Melainkan nama barang yang ada di dalam kresek, itu adalah sesuatu yang membuat wajahnya merah padam.


"Nih, aku balikin!" Nino menyodorkan kembali kresek itu dengan kasar dan berbalik menuju mobil.


Aluna terkekeh melihat ekspresi Nino, lelaki itu masih saja terdiam menahan malu. Bagaimana tidak? Karena apa yang Aluna beli adalah roti bersayap yang selalu dibeli oleh kaum hawa tiap bulan.


"Salah sendiri ikut, 'kan aku sudah bilang. Tunggu saja di mobil! Ha-ha-ha."