My Edelweiss

My Edelweiss
Dinner yang Menegangkan



"Ayo, silakan dimakan! Nanti keburu dingin, lho," perintah Bu Hilma dengan senyum mengembang.


Wanita yang berstatus kekasih Nino itu mengangguk, mereka berempat melahap masing-masing hidangan di piring saji. Hening, tak ada di antara mereka yang memulai pembicaraan. Apalagi Pak Sailendra, masih terus menatap Aluna tajam sembari menyuap sesendok nasi. Gadis itu merasakan hawa tak enak, ia mulai merasa tidak nyaman.


"Mau tambah lagi?" tanya Nino tiba-tiba.


"Enggak, ini sudah cukup."


Nino melirik sang kekasih dari ekor matanya. Tampak jelas wanita itu sedang gusar, beberapa kali dadanya naik-turun mengembuskan napas kasar dan mengubah posisi duduknya.


"Permisi, saya mau izin ke toilet," ucap Aluna yang sudah tak mampu lagi menahan kegelisahan.


Nino beranjak dari tempat duduknya, menarik lengan gadis itu. "Aku antarkan!"


Pandangan mereka beradu sesaat, Aluna mengangguk patuh. Saat itu yang dipikirkannya hanya beranjak pergi, menenangkan batin yang bergejolak tak karu-karuan.


"Ada apa?" tanya Nino di ujung lorong, sebelum memasuki toilet.


Aluna menggeleng ringan. "Nanti saja, aku mau pipis."


Pria itu menaikkan satu alisnya, ia menunggu sang kekasih di kursi minimalis yang terletak tak jauh dari toilet. Manik matanya memandang seisi rumah, semuanya telah berubah. Interior, warna cat tembok, dan tatanan barang-barang semua bernuansa cokelat dan putih. Sangat jauh berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, saat semuanya masih didominasi warna hijau--warna kesukaan ayah biologis Nino.


"Aku sudah selesai. Ayo kembali! Tak baik meninggalkan meja sebelum makanan habis."


"Hmm," dehem Nino mengiyakan ucapan Aluna.


Pria berwajah tampan itu mengekor, mengikuti sang kekasih yang berjalan selangkah di depannya. Terlalu asik menikmati tubuh Aluna yang berlenggak-lenggok membuat Nino tak sadar, mereka telah sampai di tempat semula.


Aluna menarik kursi, kembali duduk di posisinya. Tiba-tiba ayah tiri Nino menggebrak meja, kemudian pergi meninggalkan meja makan tanpa permisi. Nino mengepalkan tangan, bersiap untuk menonjok pria tua itu. Namun, Aluna dengan cepat menarik ujung kemeja yang dikenakan sang kekasih.


"Tenanglah!"


"Tapi dia--" Nino menghentikan kalimatnya ketika Aluna menggeleng ringan. Pria itu kembali duduk dengan sorot mata tajam.


Bu Hilma menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Wanita paruh baya itu berusaha meredam emosi, ia tak ingin momen berharganya hancur begitu saja.


"Maaf, ya. Mungkin Papamu sedang tidak enak badan," ucap Bu Hilma mencari alasan.


Nino menatap ibunya dengan mata berkilat. Jelas terbesit kebencian dan dendam. "Dia bukan Papaku! Sampai kapan pun aku tidak akan mengakui itu."


Pria itu berdiri, beranjak pergi melewati sang ibu. Namun, tangan renta milik Bu Hilma menahan langkah putranya. Nino berhenti sejenak, memandang ibunya dingin. "Apa lagi?"


"Duduklah, Nak. Mama ingin membicarakan sesuatu padamu," pinta Bu Hilma dengan tatapan sendu.


Tangan Nino seketika menepis gengaman ibunya, api friksi telah membakar habis jiwanya. Bahkan sentuhan lembut sang ibu yang selali dirindukan itu, kini dihempaskan begitu saja. "Jangan sentuh aku! Sudah berapa kali aku bilang, hah!"


"Pelankan suaramu! Dasar anak tidak tahu etika!" bentak Pak Sailendra yang mendadak muncul.


Nino menggertakan gigi, guratan otot-otot di lehernya tampak sangat jelas. "Aku juga tidak mau memiliki ayah sepertimu."


Pemuda itu beranjak pergi tanpa memperhatikan Aluna dan ibunya lagi. Ia menuju ruang keluarga, mungkin Nino sengaja menghindar untuk menenangkan pikirannya yang sedang kalut. Sedangkan Aluna menelan salivanya sendiri, kini ia sendiri bersama kedua orangtua Nino. Tak tahu apalagi yang harus dilakukannya.


"Tetaplah di sini, Nak. Temani Mama makan ya!" Bu Hilma menatap Aluna penuh kasih sayang, membuat hati gadis itu terenyuh.


"Baik, Bu."


Aluna tertegun, manik matanya terbelalak kaget. Ia berusaha menelan sisa makanan di mulutnya dengan susah payah. "I--iya, Ma."


Ayah tiri Nino kembali duduk, pria itu sepertinya ingin mengetahui apa yang kedua wanita itu bicarakan. Jangan sampai ia melewatkan hal penting!


"Selepas ini, Aluna ikut mama ke kamar atas ya. Mama mau ngobrol sedikit, boleh?"


Aluna melirik Pak Sailendra yang sedang mengernyitkan alis, tampaknya usaha untuk menguping pembicaraan mereka gagal. "Baik, Ma." Gadis itu kembali melahap sisa makanannya, kemudian meminum seteguk air.


"Aluna sudah selesai. Terimakasih atas jamuan makan malamnya," ucap gadis itu sembari membenahi gaunnya.


"Ayo kita naik! Mama ajak kamu berkeliling ya."


Kekasih Nino itu mengangguk patuh, sedangkan Pak Sailendra memukul permukaan meja dengan pelan. "Sial! Apa yang sebenarnya mereka bicarakan, hah?"


Bu Hilma menggandeng tangan calon menantunya untuk menaiki tangga. Kemesraan mereka sudah selayaknya anak dan ibu kandung. Membuat siapa saja yang melihat merasa iri, terbesit pertanyaan di benak Aluna. Mengapa Nino sangat membenci ibunya? Padahal Bu Hilma wanita yang penuh kasih sayang, berbeda dengan suaminya yang tampak seperti macan kelaparan.


"Duduklah di sini, Nak!" Bu Hilma menepuk pelan ranjangnya, kemudian melepas kacamata dan menyandarkan tubuh di kepala ranjang.


Dengan sangat hati-hati dan kikuk, Aluna meletakkan bokongnya. Ada perasaan takut dan sungkan. Bagaimana tidak? Ini kali pertamanya ia bertemu calon mertua dan memasuki kamar tidur. Manik mata gadis itu menyusuri tiap jengkal ruangan yang berluas kira-kira 5x6 meter. Ukuran yang sangat luas untuk sebuah ruang tidur, jika di rumah Aluna ini bisa menjadi dua kamar. Barang-barang yang tertata di sana tampak sangat rapi dan bersih, aroma terapi seperti mint menyebar di penjuru ruangan. Dinginnya suhu udara AC menambah kesan nyaman dan asri. Sungguh sebuah kamar idaman, Aluna yakin semua pasti akan segera terlelap jika tidur di tempat itu.


"Aluna ...." panggil Bu Hilma lirih, membuyarkan lamunan gadis bermata almond itu.


Gadis itu geragapan, salah tingkah karena terpergok sedang mengamati ruangan itu. Ia merasa sangat malu, tingkahnya seperti gadis udik saja. "Ma--maaf, Ma. Apa yang perlu bicarakan?"


"Kamu gadis yang blak-blakan, ya. Mama suka itu, Aluna, apa kamu mencintai Nino?"


Pertanyaan yang menohok, Aluna membatu seketika. Jantungnya berdetak sangat kencang, seakan-akan ingin keluar dari tempatnya. Beginikah rasanya menghadapi mertua?


"Ten--tentu saja, Ma. A--aluna sangat mencintainya," jawab gadis itu sembari menundukkan kepala.


Lagi-lagi ibu kandung kekasihnya itu tersenyum manis, membuat Aluna makin salah tingkah. Takut jika jawabannya norak atau kurang tepat. Namun, tiba-tiba wanita paruh baya itu menggengam erat jemari Aluna.


"Aluna, maukah kamu berjanji pada mama?"


"Janji apa?" tanya Aluna sembari mengerutkan kening.


"Janji untuk selalu bersama putraku, setia mencintainya apapun dan bagaimanapun sifatnya. Apa kamu bersedia, Nak?"


Aluna tertegun, ia menatap wanita dihadapannya itu lekat. Entah mengapa hatinya merasakan pedih, ucapan sang ibu mertua itu begitu mengenai sanubari. Menusuk palung jiwanya, ada rasa yang ia sendiri tak mampu menjelaskan.


"Pasti. Aluna akan selalu bersama Nino."


Bu hilma memejamkan mata, sudut netranya meneteskan air nestapa. Bulir bening mengalir begitu saja, lolos menyusuri permukaan pipi yang tampak keriput itu. "Terimakasih, tolong berikan dia kebahagiaan! Seharusnya mama malu meminta ini darimu, tetapi tampaknya Nino begitu mencintaimu. Aluna, jaga Nino untukku, ya!"


Gadis yang sedari tadi hanya mengangguk patuh itu, menggerakkan jemari lentiknya. Mengusap lembut pipi Bu Hilma, menghapus bulir nestapa yang membuat batinnya makin meradang. "Iya, Aluna berjanji segenap jiwa dan raga akan memberikan cinta untuk Nino."


Mereka berdua tersenyum, Bu Hilma memeluk calon menantunya dengan dada berguncang. Untuk yang pertama kali, wanita paruh baya itu menangis di hadapan orang asing. Kini ia merasa sedikit lebih lega, akhirnya ada seseorang yang akan memberi kebahagiaan pada Nino. Kebahagiaan yang tak pernah ia berikan sebagai seorang ibu.


"Aluna! Apa yang kamu lakukan di sini, hah? Keluar!"


Seorang pria menatap Aluna dengan mata berkilat merah, deru napasnya berat menandakan ia menahan gejolak yang begitu besar. "Aku tidak mau kamu menodai tubuhmu dengan masuk ke kamar ini!"