
Baru saja Aluna meletakkan teh hangat di meja untuk menjamu tamu tak diundangnya. Kaki gadis itu justru tersandung oleh kaki meja hingga tubuhnya limbung ke belakang.
Untung saja, Nino dengan cekatannya berdiri dan langsung menarik tangan Aluna ke arahnya. Suhu badan Nino menjalar di sekujur tubuh Aluna. Hmmm, hangat!
Mata mereka kini bertemu, sorot lampu ruangan semakin membuat wajah Nino bersinar. Ataukah hanya mata Aluna yang tidak tahan melihat lelaki tampan?
Nino menarik tubuh Aluna semakin mendekat ke arahnya.
"Sepertinya kamu hobby sekali menabrak benda mati di sekitarmu," bisik Nino hingga deru napasnya menyapu telinga Aluna.
Gadis itu bergidik ngeri. Tanpa disadari Aluna itu masih mendekap erat tubuh kekasihnya.
Nino mempererat pelukannya. Aluna merasa sedikit sesak. Ia berusaha mendorong tubuh Nino, tapi apa daya tak bergeser sedikit pun. Tangan gadis itu tak mampu melonggarkan pelukan sang kekasih.
"Akhh! Cukup, Mas!" Ujar Aluna perlahan mendorong tubuh Nino sekuat tenaga.
"Kenapa? Ada yang salah, Sayang?" Nino memandang wajah gadis kecilnya itu.
Sayang? Mendengar Nino memanggilnya sayang kenapa Aluna merasa begitu bahagia bukan kepalang?
"Emm, enggak. Cuma Luna ngerasa aneh aja." Aluna bergerak mundur dengan mata berkaca-kaca.
Mata Nino terbelalak melihat mata Aluna yang kini berkaca-kaca.
"Eh, kenapa kamu menangis?" tanya Nino khawatir.
Mungkinkah Nino sudah keterlaluan menggoda wanita itu?
"A-aku, aku takut hamil!" pekik Aluna sembari menutup mata.
"Hah? Kita kan enggak melakukan apapun yang bisa buat kamu hamil," ujar Nino keheranan.
Aluna membuka matanya. "Beneran? Aku enggak hamil kan, soalnya kamu peluk aku erat banget. Sampai aku merasa sesak," ucap Aluna malu.
"Hahaha, maaf-maaf. Mau kita pelukan sampai besok pagi juga enggak bakal bisa hamil kalau enggak ... Ah, sudahlah! Bisa enggak, jangan panggil Mas? Panggil yang lain gitu?" pinta Nino menaikkan alisnya.
Kini Aluna yang ganti memicingkan matanya bingung.
"Hemm, panggil apa ya?" Wajah Aluna memerah, entah apa yang dibayangkannya.
"Sayang juga boleh," goda Nino sembari memainkan jemarinya di atas bibir Aluna.
Saat ini Nino bertingkah seperti bukan dirinya.
Akan tetapi, Aluna tak mampu melawan godaan Nino, Di manakah sosok pendiam Nino? Salahkah pertemuan mereka ini? Beribu pertanyaan menghampiri relung hati gadis remaja ini. Namun, ia hanya terdiam tanpa kata. Membeku oleh tatapan lembut Nino. Lorong yang sempit ini menjadi saksi awal kisah cinta mereka.
"Sayang, minggu depan aku boleh kan main ke rumahmu?" Nino mencium lembut tangan Aluna.
"Aahhk!" pekik Aluna terkejut, sentuhan lembut di tangannya itu membangkitkan rasa yang tak dapat diungkapkan lagi.
Aluna segera menarik tangannya dengan cepat, jantungnya berdegub sangat kencang seperti gemuruh ombak di lautan.
"Iya boleh," jawabnya tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
"Luna enggak punya ponsel, hehehe." Aluna menggaruk-garukkan kepalanya.
Nino pun melongo, di era modern seperti ini masih ada yang belum punya ponsel.
"Lah, terus gimana kita bisa komunikasinya?" Nino memelas.
"Nanti Luna catetin nomernya Ibu, bisa kirim pesan ke sana aja kalau ada perlu," ujarnya bersemangat.
Nino menganga tidak percaya dengan kepolosan yang ditunjukkan Aluna kepadanya. Dikasih nomor ibunya? Memangnya Nino sedang menggaet ibu Aluna?
"Sayang, Sayang! Yakali orang pacaran telepon ke ibunya. Lucu banget sih kamu ini." Tangan jahil Nino mencubit hidung Aluna.
"Bentar ya ...." Aluna berlari kecil masuk ke dalam rumahnya. Nino memandang punggung kekasih barunya itu, menghilang di kegelapan malam.
Beberapa menit kemudian, Aluna kembali dengan membawa secarik kertas berisikan nomer ponsel ibunya. Disodorkannya kertas bermotif kelinci itu pada Nino.
"Nih, Mas. Kalau ada perlu bisa langsung hubungi Luna ya," ucapnya dengan senyum polos.
"Jadi kalau enggak ada perlu enggak boleh menghubungi nomor ini?" tanya Nino dijawab kekehan Aluna.
Aluna menunjuk jam dinding, sudah pukul delapan malam. Itu artinya Nino harus segera pulang.
"Iya enggak usah ngusir. Aku pulang dulu ya, Sayang."
Nino mengelus rambut Aluna. Ia mencium aroma shampo gadis itu yang membangkitkan hasratnya.
"Lun," panggilnya lembut. Aluna menoleh ke samping kanan tepat di mana Nino berada.
Cuup! Sebuah Kecupan manis mendarat di pipi Aluna.
Ia segera memalingkan wajah, wajahnya memanas, jiwanya bergelora. Aliran darahnya berdesir, perasaan takut dan juga bahagia bercampur menjadi satu.
"Aku pulang dulu ya. Makasih hadiah penutupnya, Sayang." Nino melambaikan tangan. Aluna tak mengeluarkan suara apapun, ia hanya berdiri membatu, terbengong-bengong sembari memegang pipi.
Aluna segera berlari menuju rumahnya, meninggalkan saksi bisu mereka dengab tergesa-gesa.
Aluna membenamkan wajahnya ke dalam selimut, ia masih teringat saat pipinya di kecup mesra oleh Nino. Pengalaman indah yang tak akan pernah terlupakan.
Sepertinya, gadis polos kita mulai menapakan kaki di dunia luar yang penuh fatamorgana. Ia melirik jam weker kesayangannya, waktu telah menunjukkan pukul 00:00 dini hari. Namun, mata Aluna enggan terpejam bayangan Nino menari-nari di pelupuk matanya.
Sentuhan hangat bibir Nino masih membekas di pipinya. Baru kali ini ia merasakan getaran yang begitu dahsyat. Aluna membolak-balikkan tubuhnya, memeluk erat guling yang menemani malamnya.
"Hmm, mulai sekarang aku panggil dia, Sayang?" gumamnya seraya mengusap pipi.
Apa mungkin, aku beneran suka Mas Nino ya? Rasanya ini beda, enggak seperti saat aku didekat Mas Aksa. Waktu si Nino mencium pipi, jantungku mau copot.
Perlahan-lahan gadis itu mulai memahami, bahwa perasaannya pada Aksa beberapa waktu lalu, hanyalah sebatas kekaguman bukanlah cinta.
Sedangkan dengan Nino, ia merasakan kehangatan memenuhi ruang hatinya.