
Penat dan kantuk menyerang tubuh Nino bersamaan. Lelaki itu telah kembali ke rumahnya, tanpa menyapa siapa pun yang telah dilewati. Nino bergegas memasuki ruang tidurnya.
Manik mata Nino melirik kalender yang duduk manis di atas nakas. Hari ini tanggal 28 Mei, itu artinya besok adalah hari ulang tahun Aluna! Pandangan Nino beralih ke arloji yang ia kenakan di pergelangan tangannya.
"Lima menit lagi pergantian hari. Aku akan memberi kejutan pada Aluna!"
Kantuk yang mendera hebat tadi, kini sirna begitu saja. Nino melonpat girang dari kasurnya, bergegas ia membangunkan salah satu koki di rumah untuk membuatkan sebuah kue tart istimewa.
"Pak, tolong buatkan kue ulang tahun yang enak. Selesaikan dengan cepat!" titah Nino.
"Oh iya, jangan lupa tambahkan strawberry karena dia sangat menyukai buah itu," sambung Nino lagi dengan antusias.
Pria berperawakan gembul itu mengangguk patuh sembari mengucek-ucek netranya yang masih terasa pedas. "Ini dibuat ukuran berapa, Tuan?"
"Terserah, yang penting cukup untuk beberapa orang. Mungkin lebih baik jika besar," jawab Nino bersemangat.
"Baik."
Lelaki yang saat itu hanya memakai sarung dan kos oblong itu segera mempersiapkan segala bahan, ia mencari loyang sesuai ukuran yang diminta sang majikan. Dengan sigap pria itu mencampurkan berbagai bahan pembuatan kue.
Hanya membutuhkan waktu kurang dari sejam kue itu berhasil disajikan. Kue itu dibuat hanya menggunakan dua bahan, yakni dengan putih telur dan gula. Selain itu, teknik mengaduknya pun terbilang unik. Kue tart lembut yang disajikan dengan topping blueberry dan strawberry di atasnya siap melesat ke rumah Aluna.
•Visualisasi kue tart untuk Aluna, gambar hanya sebagai pemanis.
Nino segera meletakkan kue itu ke dalam kotak kardus, tak lupa ia juga membawa sebuah lilin untuk ditiup oleh Aluna nanti. Pria itu merasa ini adalah awal yang baik, ia yakin Aluna akan kembali ke pelukannya.
Tanpa membuang waktu, Nino memacu mobilnya. Ia menyusuri aspal yang membawanya ke rumah Aluna. Sesampainya di sana ada yang berbeda, pintu rumah Aluna terbuka lebar. Beberapa kendaraan tampak terparkir di halaman rumahnya.
"Ada apa ini? Sepertinya aku tidak asing dengan kendaraan-kendaraan ini." Nino melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah.
Betapa terkejutnya ia ketika sampai di ruang tamu, tampak Aluna sedang bercanda gurau dengan beberapa karyawan dan karyawati di kantornya. Namun, bukan hal itu yang membuat Nino meradang melainkan sosok yang kini berada di samping Aluna.
Alfaro dengan bebas duduk berdekatam dengan Aluna. Nino menerobos masuk, tanpa mengucapkan salam. Ia meletakkan kue bawaanya di atas meja kecil yang terletak di sudut ruangan. Tangan kekar itu mengepal kerah kaos yang dikenakan Alfaro dengan kuat. "Sudah berapa kali aku bilang, hah! Jangan dekati Aluna!"
Sontak semua orang yang berada di tempat itu menoleh bersamaan. Suara Nino menggelegar, mereka semua meringkuk takut dan memutuskan untuk pulang. Kini hanya tersisa Nino, Alfaro dan Aluna di ruangan itu.
"Cih, pangeran berkuda putih datang." Alfaro tampak sangat santai dengan kehadiran Nino.
Mantan kekasih Nino mendaratkan bogem mentah di pipi kanan Alfaro dengan keras. Tanpa sungkan lagi, ia menunggangi tubuh kurus yang telah jatuh tersungkur itu. Memukulinya berkali-kali hingga cairan merah segar mengucur dari sudut bibir Alfaro.
Sedangkan Aluna merasa napasnya berhenti, ia tak pernah melihat Nino semarah itu. Dengan gemetaran, ia berusaha melerai pertikaian itu. "Su-sudah, cukup. Hentikan semua ini!"
Wanita itu membantu Alfaro untuk bersandar pada dinding. Aluna menatap Nino lekat-lekat, tak menyangka jika pria itu bersikap seperti binatang buas. "Apa maumu? Belum puas menghancurkan hatiku, sekarang kamu merusak pesta ulang tahunku!"
Waktu serasa berhenti berputar, tatapan dingin Nino menembus relung hati Aluna. Bagaimanapun wanita itu masih menyimpan perasaan kepada pria di hadapnya. Entah mengapa hatinya gelisah, permainan takdir ini membuat segalanya kabur.
"Maafkan, aku." Nino berkata lirih, tersirat kekecewaan dan penyesalan.
Pria itu pergi begitu saja, Nino tak jadi memberi kejutan untuk Aluna. Bahkan mengucapkan selamat ulang tahun saja tidak. Lidahnya mendadak kelu, kue yang telah ia persiapkan ditinggalkan begitu saja. Tetap tergeletak di atas meja kecil dan tak tersentuh.
Aluna membeku, hanya dengan sebuah kata singkat dari Nino jantungnya berdegub kencang. Memang seperti apapun kita berusaha berpaling, jika hati berkata tidak. Maka ia tidak akan pernah berpindah ke lain hati.
"Aku-" Aluna bangkit dan ingin mengejar Nino.
Namun, Alfaro mencekal pergelangan tangan Aluna. Menatap wanita itu dengan tatapan lembut. "Jangan pergi, temani aku di sini!"
"Maaf, Al. Sebaiknya kamu pulang saja. Lukamu harus segera diobati!"
Alfaro menarik tubuh Aluna ke dalam dekapannya, untuk beberapa detik tatapan mereka saling beradu. "Aku tidak membutuhkan obat. Begini saja cukup untukku."
Gadis itu berusaha melepaskan pelukan Alfaro, tetapi sia-sia saja. Aluna semakin tak mengerti mengapa Alfaro melakukan itu dan ia merasa tak nyaman, tak suka pria itu menyentuh tubuhnya. "Lepaskan! Atau aku akan berteriak!"
Bibir Alfaro mendekat di telinga Aluna dan membisikkan sesuatu. "Aku mencintaimu, Aluna. Kamu membuatku semakin benar-benar ingin memilikimu."
"Apa?" Manik mata almond itu terbelalak. Entah Aluna mendapat kekuatan dari mana, gadis itu mendorong kuat tubuh Alfaro.
"Ini bukan waktu yang tepat, aku mohon pulanglah! Biarkan aku sendiri!" Aluna pergi meninggalkan pria itu sendiri di ruang tamu.
Kejadian pagi buta itu membuat mood Aluna berantakan. Di hari ulang tahunnya, ia harus menghadapi pertikaian lagi. Lelah mulai menggegogoti hatinya, ingin rasanya ia berlari menjauh dari kenyataan.
Sedangkan Alfaro tersenyum simpul dan melangkah keluar, dari kediaman Aluna tanpa mengucapkan kata perpisahan. Setidaknya ia merasa lega telah mengungkapkan isi hati, meskipun ia tahu kemungkinan untuk memiliki hati Aluna hanyalah 30% saja.
Cinta yang dirasakan Aluna dan Nino bagaikan sebuah labirin. Penuh dengan lika-liku dan jalan buntu. Sekalinya mereka salah melangkah, harus kembali mencari dan mencari lagi pintu keluar. Hati manusia siapa yang tahu, dalamnya lautan tak sedalam sanubari.
"Sepertinya Al sudah pulang, aku akan menutup pintu." Aluna keluar dari ruang tidurnya dan memeriksa kembali keadaan.
Wanita itu menutup daun pintu dengan hati-hati. Ia tak ingin mengganggu tidur nyeyak sang ibu, meskipun mungkin wanita paruh baya itu tak mendengar suara ricuh karena letak ruang tidurnya berada di belakang.
Kening Aluna berkerut, sebuah kotak besar berwarna putih menyita perhatiannya. Dengan rasa penasaran Aluna menghampiri benda itu dan membuka isinya.
Tangan Aluna refleks menutup mulut, ada perasaan bersalah bergelayut di hatinya. Ternyata mantan kekasihnya masih mengingat hari kelahirannya.