My Edelweiss

My Edelweiss
Sandiwara



"Oh, tidak. Aku merasa pusing, Nino."


Rere berjalan terhuyung menghampiri Nino, pandangannya mulai kabur. Sebelumnya wanita itu menghabiskan empat sloki whiskey dalam satu waktu. Entah memang karena suka atau depresi sehingga ia bisa menegak habis minuman keras itu.


Nino yang tidak dalam keadaan mabuk memapah tubuh Rere yang ambruk ke arahnya. Wanita bertubuh sexy itu mulai merancau tak karu-karuan. Dengan susah payah, Nino membawa Rere masuk ke dalam mobil.


"Hmm, kita mau ke mana? Aku masih belum puas minum!" bentak Rere sembari menarik-narik seat belt yang dipasangkan Nino di tubuhnya.


Nino menoleh ke samping kiri, menggelengkan kepala ringan. "Cukup! Kamu sudah minum terlalu banyak! Kita pulang sekarang."


"Aku belum mau pulang! Turunkan aku!" Gadis berhidung mancung itu memberontak, memukul-mukul kaca jendela mobil.


Namun, Nino tak menggubris tingkah calon istrinya yang seperti anak kecil, karena ia sadar gadis itu bertindak di bawah alam sadarnya. Pria itu hanya sesekali membuang napas kasar dengan pandangan yang masih lurus ke depan.


"Diamlah! Atau aku akan meninggalkanmu di persimpamgan jalan!" sentak Nino yang telah habis kesabarannya.


Rere terdiam, ia mengangguk patuh. Perlahan ia terlelap masih dengan kepala yang bersandar di kaca jendela. Rere tampak manis ketika ia tertidur, bagaikan seorang gadis polos yang belum terjamah. Pada kenyataannya gadis itu memiliki perangai yang bisa dibilang tidak sesuai dengan etika.


"Cih, malah tertidur! Apa aku bangunkan saja, ya?" gumam Nino sembari memberhentikan mobil di depan kediamannya.


Merasa tak tega untuk membangunkan, Nino perlahan-lahan membuka pintu mobil. Dengan sigap ia membopong tubuh Rere untuk masuk ke dalam rumah. Beruntungnya gadis itu tertidur, jika tidak mungkin dirinya akan diberi beribu kecupan. Membayangkannya saja begitu mengerikan!


"Bi, tolong bantu aku!" perintah Nino pada salah satu asisten yang membukakan pintu.


"Baik, Tuan. Biar saya dan Mang Asep aja yang membawa Nona ke kamar," ujar Bi Atin sembari menunduk hormat.


Nino mengangguk dan memijat keningnya. Baru saja sehari bersama gadis itu hidupnya bagaikan neraka. Ia melangkahkan kaki menuju ruang tidur, tetapi tiba-tiba asisten rumah tangganya menjerit, menghentikan langkah pria itu dan memutar balik.


"Tu-tuan! Tolong, Non Rere terbangun dan melempar saya dengan vas bunga," jerit Bi Atin sembari memegangi keningnya yang tampak mengeluarkan darah.


Nino mengernyitkan alis, ia merasa sangat heran. Bagiamana bisa Rere melakukan hal itu? Apa wanita itu seorang psikopat? Ia bergegas masuk ke kamar untuk mengecek keadaan calon istrinya itu.


"Re, apa yang kamu lakukan? Tenanglah!"


Gadis itu menatap Nino tajam kemudian berubah menjadi teduh. Ia mendekat, mengalungkan kedua tangan ke leher Nino. "Kamu ke mana? Aku tidak mau di sini. Bawa aku ke denganmu!"


"Tidak! Kita bahkan belum menikah. Sadarlah! Kamu mabuk, Re."


"Hmm, aku tak peduli. Bawa aku bersamamu! Cepat!" Rere membentak dengan mata yang berkilat merah.


"Tidak!"


Bukannya menenangkan gadis itu, Nino malah membalikkan tubuh. Ia mempercepat langkah untuk keluar dari ruangan itu. Sudah cukup baginya mengikuti apa kemauan Rere. Hari itu sungguh hari yang melelahkan, penuh dengan intrik dan hal-hal lain yang mempermainkan hatinya. Masalah dengan Aluna baru saja selesai, Rere datanh membuat masalah baru. Ingin rasanya ia berlari ke puncak gunung dan berteriak sekencang-kencangnya.


"Apa yang kamu lakukan? Berdiri!"


Nino menatap Rere tajam, apa yang harus ia perbuat dengan wanita itu? Akhirnya karena kesal dan tak ingin membangunkan yang lain. Ia membiarkan Rere tidur sekamar dengannya. "Baiklah, tapi ingat cepat tidur."


"Iya," jawab Rere yang bergegas berdiri dan mengatur keseimbangan tubuhnya.


Beberapa kali gadis itu limbung dan terjatuh lagi. Nino yang merasa jengah akhirnya membantu Rere bangkit, memapahnya menuju ruang pribadinya. Saat itu mereka melewati ruang tamu, memori Nino mengulang kembali momen mesra dengan Aluna.


Namun, bedanya kali ini ia tak lagi membopong Aluna. Hati Nino kembali pilu, sesak dan pedih datang bersamaan. Membuatnya susah untuk bernapas lega, rasa bersalah terus menghantui dirinya. Bagaimana kabar Aluna? Apakah ia baik-baik saja? Pikiran Nino terus berkelana mengiringi langkahnya menuju ruang tidur.


"Tidurlah!" Nino meletakkan tubuh Rere dan segera mengalihkan pandangan.


"Hmm, kamu tak mau tidur denganku?" tanya Rere tanpa rasa malu.


"Tidak! Ak-" Belum sempat Nino menuntaskan kalimat, Rere menarik tubuh pria itu ke dalam pelukannya.


Dekapan itu begitu erat hingga tubuh bagian atas Rere menekan kuat, seakan-akan menembus tulang rusuk Nino. Lelaki itu berusaha melepaskan cengkeraman Rere, tetapi wanita itu malah semakin beringas. Tanpa sungkan, ia memberi tanda leher Nino dengan sangat buas.


"Hmm," gumam Nino tanpa sadar.


Bagaimanapun Nino adalah seorang lelaki dewasa yang juga mempunyai hasrat. Entah itu malaikat atau apa yang pasti tiba-tiba Nino tersentak, kesadarannya kembali pulih. Wajah Aluna terbesit di benaknya, ia mendorong tubuh Rere, kali ini lebih keras. Tanpa mengucap kata apapun, pria itu pergi keluar meninggalkan Rere yang terperangah.


"Cih! Breng*ek, padahal aku sudah berusaha mati-matian untuk menata adegan ini!"


Rere mengepalkan tangan, ternyata ia tak benar-benar mabuk. Wanita itu menarik selimut dan memejamkan mata. Tak peduli rencananya gagal, ia yakin akan mendapatkan perhatian Nino suatu hari nanti. Sekarang dirinya harus tidur, mengistirahatkan tubuh yang lelah berakting seharian.


-**


Di sisi lain, Nino melangkahkan kai dengan cepat menuju ruang tamu. Bagaimanapu. ia harus berusaha menahan emosi yang bercampur aduk.


"Arrgh!" Nino membanting bantal sofa dengan kasar.


Benda empuk itu terpental di lantai keramik yang tampak sangat mengkilap. Nino mendaratkan bokong di atas sofa bercorak polkadot, pria itu mendongakkan wajah. Menatap langit-langit ruangan yang dihiasi lampu gantung.


"Bodoh! Kamu sangat bodoh, Nino!" rutuk Nino pada dirinya sendiri.


Bagaikan cacing kepanasan, Nino bolak-balik mengubah posisi duduknya. Kali ini ia mengacak rambut, mengepalkan tangan kanannya kemudian memukulkan bagian tubuh itu ke atas meja berulang kali. Ia duduk merenungi apa yang baru saja ia lakukan dengan Rere. Hampir saja ia berubah menjadi binatang yang tak mempunyai malu. Bagiamana bisa ia hampir bercumbu dengan gadis lain, sedangkan dirinya baru saja memutuskan cinta? Mungkin itu karena pikirannya sangat kalut.


"Terimakasih, Tuhan. Engkau masih memberiku kesempatan," ucap Nino sembari mengatupkan kedua tangan dan memejamkan mata sejenak.


Akhirnya waktu terus bergulir, netra Nino sudah tak mampu menahan kantuk. Pria itu tertidur di sofa masih dengan posisi duduk. Bahkan ia belum melepas sepatu yang dikenakan. Hari itu begitu berat, badai tengah menerpa kehidupannya. Akankah ada pelangi setelah ini? Mungkin iya, mungkin juga tidak.