
Terkadang kehidupan membuat sebuah fatamorgana
Memberi pengharapan dan impian yang luar biasa
Ketika cinta dan benci ditempatkan benang merah di antara keduanya
Perbedaan rasa hanya setebal lembaran kertas
Namun, saat hati memilih cinta
Persiapkan dirimu 'tuk merana dan tersakiti. Mengapa?
Karena bertahan itu, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan
Kecewa, hampa, dan merasa tiada berdaya adalah harga mati yang harus dibayar
Sebelum berlabuh pada sebuah kisah yang berakhir manis.
Kediri, 22 Juli 2020
💕💕
Derap langkah Aluna dan sang kekasih membahana di koridor ruangan yang menuju meja kerjanya. Belum terlihat seorang pun di sana, tetapi ada sesuatu yang aneh. Sebuah kotak hijau kecil berpita putih tergeletak di samping monitor.
Nino mengernyitkan dahi, tatapan mereka saling beradu. "Milik siapa ini?"
Aluna menghendikkan bahu, pertanda ia juga tak mengerti si empunya. Wanita itu mendorong pelan tubuh Nino. "Pergilah ke ruanganmu, mungkin ini milik salah satu karyawan yang tertinggal. Aku akan membuat pengumuman nanti, ketika mereka sudah berkumpul."
"Baiklah, simpan saja dulu. Kalau ada yang tidak beres, cepat hubungi aku," tutur Nino sembari menatap kekasihnya tajam.
Aluna mengangguk dan tersenyum simpul.
Selepas Nino pergi, wanita itu dengan ragu menarik pita yang bertengger manis di permukaan. Entah mengapa ia yakin itu untuk dirinya, seperti ada sangkut pautnya dengan paket yang ia terima di rumah.
"Hah?" Aluna menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Sebuah kalung berwarna perak berkilauan, dihiasi dengan liontin berbentuk daun yang membingkai sebuah mutiara putih. Mungkin itu mutiara air tawar.
Aluna mengambil benda bersinar itu perlahan, tampak secarik kertas yang terlipat menjadi alasnya dan setangkai bunga mawar kecil. Aroma bunga itu begitu menyengat, ia segera meletakkan kembali lambang cinta itu dan membaca tulisan di kertas.
"I--ini da--dari ...."
Seseorang menyahut kalimat Aluna dengan cepat. "Iya, itu dariku. Apa kamu menyukainya?"
Alfaro berdiri di ambang pintu, entah sejak kapan lelaki itu berdiri di sana. Ada yang berbeda dari penampilannya, hari ini ia memakai kemeja berlengan panjang. Atasan itu membuatnya terlihat lebih dewasa dan parlente.
"Bagaimana? Kenapa kamu diam?"
Aluna mengembuskan napas kasar. "Terima kasih, tapi aku tidak bisa menerima ini."
"Kenapa?" tanya Alfaro yang semakin mendekat.
"Aku sungguh-sungguh mencintaimu, tinggalkan Nino. Menikahlah denganku, aku bisa memberikanmu lebih dari yang dia berikan."
Plaak!
Telapak tangan Aluna meninggalkan bekas merah di pipi Alfaro. Namun, pria itu tidak membalas atau pun mengucapkan sesuatu sebagai pembelaan diri.
"Berhenti! Tetap di situ dan jangan mendekat! Apa kamu tidak paham bahwa aku akan menikah?" Aluna bergerak mundur perlahan-lahan.
"Paham, tetapi cinta seseorang tidak bisa diukur dari itu. Banyak yang sudah menikah lalu bercerai. Lantas, kenapa aku harus mundur? Bahkan kamu saja belum resmi menjadi istri orang lain."
Calon istri Nino itu menelan salivanya, benar sebelum janur kuning melengkung. Dirinya masih milik sang ibu, tetapi bagaimanapun ia tidak ingin menimbulkan salah paham.
"Tolonglah, Al berhenti mengejarku! Masih banyak wanita lain di luar sana yang lebih cantik dariku, bahkan lebih terpandang dan seksi."
Alfaro mencengkeram pergelangan tangan Aluna dan menciumnya. "Banyak, bahkan sangat banyak, tetapi tidak ada yang menarik sepertimu."
Manik mata Almond milik Aluna membulat sempurna. "Menjauh! Kamu masokis, enyah dari hadapanku."
"Kalau iya kenapa? Dengan begini aku terlihat lebih gagah 'kan dari dia?" Alfaro menarik tubuh Aluna hingga wanita itu terhuyung ke depan.
Dengan cepat Aluna menggigit tangan Alfaro dan berlari, ia heran kemana yang lain. Mengapa dari tadi sepi dan tidak ada yang datang lagi.Wanita itu terus berlari menuju lift, sampai ia tidak memperhatikan langkah.
Hak sepatu kanannya patah, tentu saja karena sepatu fantofel tidak bisa digunakan untuk berlari. Aluna merasakan ngilu di bagian tumit, efek dari sentakkan heel yang patah. Wanita itu melepas kedua alas kakinya dan memasuki lift.
Deru napasnya memburu, Aluna menekan-nekan angka lima berulang kali. Entah, memang karena gugup atau ada kesalahan teknis. Lampu indikator lift tidak menyala. Beruntungnya ia sudah tiba di lantai yang dituju.
"Nino, tolong aku!" pekik Aluna sembari berlari.
Namun, tidak ada yang menjawab. Keheningan menyegrap tengkuk Aluna, seketika bulu kuduknya meremang. Lorong panjang yang berada di depannya masih tampak gelap. Bukankah Nino tadi sudah kemari? Dimana lelaki itu?
"Mau kemana kamu, Manis?" Alfaro membuka kerah kemeja yang ia kenakan.
"Pergi! Jangan mendekat atau aku akan berteriak dengan kencang!"
Alfaro terkekeh, pandangan yang ia tujukan ke Aluna bukan lagi tatapan biasa. Tersirat hawa napsu yang menggebu. "Teriak saja, Rere dan ayah mertuamu sudah mengatur semua agar hari ini mereka libur. Tidak akan ada yang menolongmu!"
Ayah mertua? Apakah itu artinya Pak Sailendra? Mengapa mereka melakukan ini semua? Berbagai pertanyaan memenuhi benak Aluna. Ia berjalan mundur, sampai di ujung koridor, tempat lift yang ia tumpangi tadi.
"Pergi! Alfaro, kelakuanmu seperti iblis! Jangan mendekat!" teriak Aluna histeris.
Lelaki itu tidak menuruti permintaan Aluna, ia malah menyeringai dan menyingsingkan lengan kemejanya. "Ayo, teruslah memekik! Aku sangat menikmatinya. Lakukan apa yang aku perintah atau kamu akan melihat Nino mati!"
"Nino, dimana dia? Cepat katakan padaku!"
Putra bungsu Pak Dewangga itu membuang salivanya sembarangan, ia bergerak mendekati Aluna yang kian terpojok. "Aku sangat tidak menyukai wanitaku menyebut nama lelaki lain, jadilah penurut! Maka kekasihmu yang naif itu akan selamat."
"Kamu Gila! Jangan sakiti Nino!"
"Ayolah, Aluna bermain sebentar denganku. Bukankah kamu bilang aku pria yang baik? Aku hanya ingin mencicipi sedikit saja, tidak lebih." Lelaki itu mencengkeram kedua tangan Aluna dan menghimpitnya di dinding.
Tubuh Aluna semakin melemah, ia ingin melawan pria itu. Namun, tenaganya belum pulih sempurna pasca mendaki. Ditambah dengan masa periode, semakin membuatnya lemah.
"Sadarlah, Al. Kita tidak mungkin bersama, jodohmu berada di tempat lain. Bukan aku," ucap Aluna dengan berlinang air nestapa.
Lelaki itu mencecap air mata Aluna dengan bibirnya. "Mengapa dia selalu unggul dariku? Di kampus pun dia selalu mendapatkan apa yang ia mau. Aku rela, tapi kali ini tak akan kubiarkan lelaki itu memilikimu."
"Aroma tubuhmu membuatku candu," bisik Alfaro sembari menghirup dalam-dalam wangi parfum Aluna.
Wanita itu tidak dapat melakukan apa-apa. Pandangannya perlahan kabur, pilar-pilar tinggi yang berdiri tergak di tengah aula itu seperti akan jatuh menimpanya. Kepalanya terasa amat sakit, perlahan semuanya berputar. Alfaro pun tampak berbayang-bayang dan semua menjadi gelap.
"Akhirnya efek serbuk di bunga itu bekerja. Sekarang permainan bagus akan di mulai," ucap Alfaro sembari membopong tubuh Aluna.