My Edelweiss

My Edelweiss
Pembalasan



Usai mengambil kembali jejak Alfaro dari bibir Aluna, Nino melepas pelukannya. Alibi lelaki satu ini memang patut diacungi jempol, dia selalu banyak bertindak dari pada bicara. Ya, kalian para pembaca pasti tahulah apa yang dimaksud menghapus tadi.


Sayang rasanya Nino melepas dekapan, aroma tubuh Aluna begitu menggoda hasrat. Beruntungnya lelaki itu masih sanggup berpikir dengan jernih. "Besok kita izin kerja saja, aku akan mengurusnya."


"Kenapa?" tanya Aluna sembari menguncir rambut.


"Bukankah seharusnya hari ini kita mencoba gaunmu di rumah mama? Pagi-pagi sekali kita akan ke sana."


Astaga, bagaimana bisa Aluna melupakan janji dengan mama mertuanya. Jelas itu semua karena insiden gila. Ia hanya mengangguk setuju dan beralih posisi ke atas kasur.


"Aku mengantuk, bisa kamu keluar, Nino."


Nino membuka mulutnya lebar. "Hey, kamu mengusirku?"


Aluna menggeleng ringan. "Bukan, aku hanya ingin tidur."


"Kamu membuatku tidak bisa tidur, Nino. Cepat pergi!"


Nino mengerutkan dahi. "Kucing kecilku sudah menjadi macan betina sekarang, ya. Sejak kapan kamu berani padaku?"


Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke arah Aluna, menatap lekat pantulan dirinya di iris pekat sang kekasih. "Jangan membangunkan singa dalam diriku, paham?"


"Ah, iya! Maaf, Nino yang baik hati. Tolong pergilah, aku sangat lelah!" Aluna menelan salivanya sendiri mendengar gertakan Nino.


"Baiklah, mimpi indah." Nino mengecup kening Aluna.


Lelaki itu membalikkan badan dan tersenyum. Ia menutup pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara gaduh. Akhirnya hari ini berlalu, apa yang ia khawatirkan sudah terjawab. Namun, ia akan tetap memberi ketiga duri dalam hubungannya itu pelajaran yang pantas.


Putra Bu Hilma itu merogoh saku celana, meraih ponsel yang selalu setia menemani. Ia memainkan perangkat pintar itu, menggulir ke bagian kontak telepon. Sebuah nomor telepon berinisial BR ditekan.


Tak gendong kemana-mana, tak gendong kemana-mana. Enak to ....


Nyanyian nada sambung pribadi itu begitu anti mainstream. Hampir setengah jam Nino mendengar penggalan lagu itu. Ingin rasanya mengumpat, tapi ia masih harus bersabar untuk mewujudkan strategi dadakan yang ia susun sewaktu berada di ruangan bersama Rere.


"Hallo, Badrun. Temui aku sekarang di basecamp. Aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku." Nino menutup kembali panggilan singkatnya.


Tak lama kemudian, seorang lelaki berperawakan besar menanti kehadiran Nino. Ia tersenyum simpul tatkala orang yang ditunggu menampakkan batang hidung.


"Bos, lama tak jumpa! Bagaimana kabarmu?" sapa lelaki yang biasa dipanggil Badrun itu.


Nino membalas dengan tepukan di bahu. "Baik, aku punya tugas bagus buatmu. Ada siapa saja di dalam?"


"Hanya aku dengan Rengga. Sisanya kencan kali. Ayo kita bicara di dalam, Bos biar berasa lebih intim!" kelakar Badrun.


Nino hanya menaikkan satu alis ketika mendengar gurauan garing Badrun, rasanya aneh jika mengingat nada sambung lelaki bertubuh penuh tato itu. Mungkin dibalik tampangnya yang garang ada sisi humoris, atau dia dahulu seorang komedian!


"Ada apa, sih? Sepertinya serius sekali, Bos."


Badrun mengambil posisi duduk di atas sebuah kaleng bekas cat dinding. Begitu pula dengan Nino, ya karena di sana memang tidak ada perabotan yang tampak berkelas. Mungkin lain waktu, Nino akan membeli beberapa barang yang layak untuk diletakkan di basecamp.


"Memang, kamu harus melakukan ini hati-hati. Aku kirim beberapa foto padamu, tapi jangan kamu sebarkan! Tolong cetak foto-foto itu dengan ukuran dua belas R. Selanjutnya antarkan foto itu ke alamat yang akan kuberi. Ingat, jangan sampai terlihat oleh siapa pun!"


"Haha, tugas yang sangat mudah. Itu saja, Bos?" tanya Badrun sembari menyulut cerutunya.


Badrun mengacungkan jempolnya. "Baik, Bos bisa diatur."


"Kukirim via whatsapp atau E-mail?" tanya Nino sembari mengutak-atik ponselnya.


"Mail saja, Bos. Biar lebih aman. Sekarang?"


"Nunggu tanggal tiga puluh lima Desember!" sentak Nino dengan nada kesal.


"Ma--maaf, Bos. Aku hanya bercanda. Jangan marah nanti ubanan!"


Bawahannya yang merupakan preman kelas kakap itu sebenarnya adalah salah satu backingan keluarga Sasongko. Sehingga mereka bisa sangat akrab, bahkan seperti keluarga. Mau bagaimana lagi keluarga Badrun pun sudah turun-temurun mengabdi pada keluarga Nino.


Suara dentingan terdengar dari ponsel Badrun, tanda bahwa dokumen yang dikirm Nino telah sampai. Lelaki itu dengan cepat menyambar perangkat pintarnya.


"Waow, mantap! Foto siapa ini, Bos? Boleh kujadikan wallpaper?"


"Jangan banyak tanya! Terserah, asalkan enggak tersebar luas," ucap Nino sembari mengangkat satu alisnya.


Badrun memandang beberapa foto yang baru saja dikirimkan majikannya. Sepertinya ia pernah melihat wanita dalam foto itu, tetapi di mana. Entahlah, biarkan saja. Toh, dia sudah dapat bonus bisa menyimpan foto yang lumayan seksi itu. Dasar hidung belang! Melihat yang bening sedikit saja sudah lupa daratan.


"Bos, bagaimana jika kita kirim via pos saja, 'kan tidak terlihat. Untuk alamatnya kita palsukan saja," usul Badrun tiba-tiba.


"Wah, pintar juga kamu! Jadi orang kita juga tidak akan terdeteksi," Nino menepuk bahu Badrun dengan sangat kencang.


"Iya, dong! Badrun gitu, bay the way wajah wanita ini tidak asing. Aku seperti pernah melihatnya, tapi di mana ya, Bos?"


Kekasih Aluna mendengkus kesal, entah karena celotehan Badrun yang tidak ada habisnya atau karena malas membahas foto tadi.


"Wanita itu pernah bersamaku. Memangnya kenapa?" tanya Nini sembari mencomot kacang goreng yang sedari tadi menggoda imannya.


"Hah? Jadi dia kekasihmu, Bos?"


"Bukan!" hardik Nino cepat.


Badrun memutar bola mata. Ada benarnya juga, kalau itu kekasih sang majikan. Mana mungkin lelaki itu memperbolehkan dirinya untuk menyimpan bahkan memakai foto itu sebagai latar belakang layar.


"Oke deh, kuhubungi kawan yang bekerja di percetakan foto dulu."


"Memangnya kamu punya koneksi tukang cetak foto?" tanya Nino heran.


Badrun menatap Nino lurus. "Punyalah, dia kalau siang preman pasar. Kalau malam begini tukang cetak foto, Bos. Biasa kerja sambilan buat makan."


Nino mengangguk-angguk sembari mengerucutkan bibir. Ternyata di dunia preman ada juga kerja sambilan. Syukurlah kalau mereka bisa mencari kerja yang halal. Sebenarnya mereka pun mungkin tidak ingin hanya mengandalkan kekuatan.


"Kalau kamu apa kerja sambilanmu, Drun?" Nino berusaha mengunyah kacang yang sedikit keras itu.


"Aku? Jualan nasi goreng 'kan, Bos. Lihat itu perlengkapan dapurku lengkap tidak kalah dengan emak-emak!"


Pemilik netra kecokelatan itu mengikuti arah telunjuk Badrun. Astaga, di sana berjajar rapi penggorengan, panci, serta spatula. Lengkap dengan bumbu masakan instan yang di gantungkan. Benar-benar seperti sebuah kedai kecil.


"Haha, mengapa ini jadi seperti sinema preman insyaf," gumam Nino sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.