My Edelweiss

My Edelweiss
Malam Minggu



Perbincangan dua sejoli itu terhenti karena bibi Ike telah datang, kedua keponakan Aluna segera turun dari mobil dan berlari memeluk Aluna. Manik mata kecil Echa memandangnya tajam, lalu beralih ke arah Nino.


"Cieee, pacaran nih ye. Mama-mama lihat tuh Mbak Luna pacaran!" Gadis kecil itu berlari menarik tangan ibunya yang sedang memarkir mobil.


Bibi Ike memasuki ruang tamu, ia mencuri pandang, memperhatikan kedua sejoli yang tampak canggung itu.


"Hmmm, Luna ...." Bibi Ike menatap Aluna dengan mata menelisik.


"A-anu, Bi. Ini enggak seperti yang Echa bilang, kita enggak pacaran. Iya kan, Mas?" Aluna terbata-bata mencari alasan.


"Bukannya kamu bilang tadi kita jadian," jawab Nino santai, lalu melenggang pergi, meninggalkan Aluna yang syok dengan jawabannya.


Bibi ike tersenyum tipis melihat kejadian itu, ia menggiring anak-anaknya untuk duduk di hadapan Aluna.


"Sudah-sudah, ayo Luna ajarin ponakanmu! Jangan melamun terus, ya," goda Bibi Ike menyenggol Aluna dengan mengedipkan matanya.


Wajah Aluna memerah, menahan rasa malu dan kesal bersamaan. Ia hanya mampu menunduk dan mengangguk di depan bibi dan kedua keponakannya. Waktu terus berjalan dan tak terasa sudah larut. Aluna memohon izin untuk pulang setelah mengajari Echa dan Deny.


Ia melangkahkan kakinya dengan malas, memandang hamparan aspal yang mulai sepi pejalan kaki. Aluna menendang kerikil kecil yang menghalangi jalannya dan mengoceh tak karuan.


"Arrrghh! Sial! Kenapa si Nino itu enggak bisa diajak kompromi dikit? Gimana jadinya kalau Bibi ngadu ke ibu?"


Setibanya di rumah, Aluna segera memasuki kamar tanpa menyapa ibunya. Sang ibu hanya menggeleng keheranan karena biasanya Aluna selalu memberi salam dahulu.


"Hmm, tumben diam aja. Mungkin dia lelah." Wanita paruh baya itu berlalu pergi menuju dapur.


Aluna menghempaskan tubuh di atas kasur. Ia meraih boneka kesayangannya, membolak-balikkan badan ke kanan dan ke kiri. Membayangkan kejadian beberapa jam yang lalu.


"Ya Tuhan gimana ini? Kenapa juga tadi aku bilang jadian? Masalahnya jadi rumit kan, kalau sewaktu-waktu ibu tanya, apa yang harus kujawab? Arghh! Lun, kamu kok **** banget sih!" rutuknya sembari mengacak-acak rambut.


"Tapi biasanya gitu, kok. Adegan di FTV, kalau cowok ngasih cokelat atau kado di hari valentine. Artinya dia suka, terus jadian." Aluna berusaha mengingat-ingat rentetan adegan dalam film favoritnya dengan niat menghibur diri.


Aduh, meskipun itu bener di film, kalau Ibu marah  gimana? Aku siap-siap dieksekusi mati! Hiks hiks.


Gadis itu menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut, memikirkan beribu alasan yang tepat. Ia sudah membayangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi, tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya.


"Aha, Aku ada ide cemerlang!" pekik Aluna tanpa sadar.


"Lun, udah malam. Cepetan tidur! Jangan lupa besok hari sabtu, waktunya kamu antarin nasi kotak pesanan, Pak Bambang!" perintah ibunya dari luar.


"Eh, iya, Bu! Luna tidur dulu ya, selamat malam." Gadis itu cekikikan di bawah selimutnya. Ia merasa lebih tenang setelah mendapatkan alasan yang menurutnya tepat.


*


Hari ini langit tampak mendung, desiran angin yang membelai terasa sangat dingin. Namun, bagi Aluna cuaca apapun sama saja. Tak ada yang istimewa, bahkan di hari Sabtu begini. Ia baru saja pulang mengantar pesanan nasi kotak Pak Bambang, lurah desanya. Manik matanya melirik jam dinding yang bergelayut manja di tembok.


"Wah, sudah jam enam petang! Aku mandi dulu deh, terus lanjutin ritual di malam minggu jomblo yaitu nonton. Nonton di rumah maksudnya. Yeeay!" Gadis itu menari-nari tak jelas menuju kamar mandi.


Selesai mandi Aluna segera mengambil notebook kesayangan, ia mengubek-ubek isi dalam drivenya. Memilih-milih drama Korea apa yang akan ditontonnya malam itu.


Oke, Full House ini aja, deh. Meskipun drama lama aku suka banget! Wuuu, asik neh.


Baru saja Aluna menekan tombol play pada monitor laptop, seseorang mengetuk pintu dari luar. Gadis itu tak menghiraukan, dia berpikir mungkin itu tamu tetangganya. Namun, ketukan itu semakin kencang. Bukti bahwa itu tamu yang berkunjung ke rumahnya.


Kening Aluna berkerut, tidak mungkin jika itu ibunya karena sekarang masih pukul 19.00 WIB.


Aluna bergegas membuka pintu tanpa melihat dulu dari jendela siapa yang datang dan seseorang memakai setelan kaos putih strip hitam dengan celana jeans tampak di depannya.


"Hah, kamu?" pekik Aluna bergegas menutup kembali pintunya.


Jantunganya berdebar hebat, bukan karena ia mendapat harta karun firaun yang berlimpah, tetapi di balik pintu itu Nino. Ya, manusia es itu datang ke rumah Aluna. Pintu itu diketuk kembali dengan kencang, kali ini kaca jendela pun ikut diketuk.  Aluna memberanikan diri untuk membuka pintu itu lagi.


"Assalamu'alaikum." Nino mengucapkan salam sembari memasuki ruang tamu tanpa dipersilakan oleh Aluna. Ia duduk di salah satu sofa panjang yang menghadap ke barat.


"Wa'alaikumsalam. Emm, a-anu Mas Nino ngapain ke sini?" tanya Aluna kebingungan sembari membalikkan tubuh, menghadap lawan bicaranya.


"Katamu kemarin kita jadian, malam minggu kan waktunya orang pacaran apel," ujar Nino dengan tatapan datarnya, seakan tidak terjadi apapun ketika mengatakan hal yang sangat memalukan itu kepada Aluna.


Aluna tercengang kaget, mulutnya terbuka lebar. "Hah, ta--tapi kemarin itu aku hanya bercanda." Aluna terkekeh, meski suara tawanya terdengar sumbang.


"Tapi aku terlanjur serius."


"Apa ini caramu menerima tamu? Enggak dibuatin minum?" sambung Nino menyeringai.


"Eh, iy--iya. Aku buatkan teh dulu. Tu--tunggu di sini," ujar Aluna terbata-bata.


Ia tampak sangat gugup, sepanjang hidupnya baru kali ini ia di datangi seorang lelaki di malam minggu.


Nino menggulum senyum nakal, memandang punggung Aluna yang berlalu di depannya, lelaki itu merasa puas melihat tingkah kikuk Aluna.


Makanya, jangan main-main sama singa jantan! Salah sendiri kamu bikin aku salting kemarin. Hahaha