My Edelweiss

My Edelweiss
Extra Part



Waktu demi waktu pun bergulir, tak terasa dua bulan berlalu. Setelah keluarga besae Rere menerima paket foto syur putri mereka. Tiba-tiba muncul video permohonan maaf Rere yang diunggah di setiap sosmednya.


Nino dan Aluna kembali membina rumah tangga mereka dengan tenang.


Ada desas-desus yang mengatakan bahwa Rere menjadi depresi dan gila. Karena video itu, ia dijauhi oleh rekan-rekan sejawatnya. Berita selanjutnya yang beredar, wanita berkacamata itu menjalani perawatan di salah satu Rumah Sakit Jiwa. Sungguh ironis nasibnya yang notabene seorang anak konglomerat.


Oke, kita lupakan kisah pilu Rere. Mari kembali ke Aluna dan Nino. Kita lihat apa yang mereka lakukan?


--***--


Sentuhan hangat sang surya menjamah tubuh Aluna, cahaya menyilaukan dari balik gorden jendela, memaksanya untuk membuka mata. Wanita itu menggeliat, meregangkan tubuh untuk mengumpulkan tenaga. Ia menoleh ke arah samping kanan kasur yang tampak kosong. Mungkin suaminya sudah turun ke ruang tengah. Aroma lavender menyebar di antara embusan sang bayu. Menenangkan pikiran setiap insan. Ya, kehidupan rumah tangga mereka, kembali damai dan romantis tanpa kehadiran pengacau.


Namun, Aluna beberapa hari ini merasa kurang enak badan. Suhu tubuhnya tinggi, bagian-bagian tertentu terasa sakit jika disentuh. Sangat berat baginya untuk meninggalkan kasur, terkadang ia merasa sedikit pusing.


Beruntungnya Nino tak mempermasalahkan sikap sang istri, yang mulai bermalas-malasan. Dua sejoli itu sepakat hari ini akan memeriksa keadaan Aluna, mereka takut jika terjangkit virus corona.


Aluna menyandarkan bahu di kepala ranjang, enggan rasanya bergerak lebih jauh lagi. Derap langkah kaki terdengar mendekat, aroma manis dan gurih menyusup perlahan-lahan. Refleks wanita itu menajamkan indra penciumannya.


Hmmm, ini seperti aroma ....


Pintu kamar terbuka, tampak sosok pria yang paling dicintainya membawa nampan kecil. Senyum lebar mengembang dari bibir sensual Nino. Entah mengapa selepas pulang dari kediaman sang ibu, suaminya menjadi makin perhatian dan sangat memanjakan Aluna. Mungkin karena keadaan sudah kondusif. Pria itu menghampiri istrinya, menyodorkan nampan yang berisi sepiring churros, semangkuk kecil saus cokelat-keju, dan segelas susu cokelat.


"Selamat pagi, Tuan putri. Silakan dimakan! Menu pagi ini favoritmu, loh. Sang suami mengedipkan satu matanya.


"Terimakasih, Sayang. Tapi, aku mau mandi dulu, bukankah kita hari ini sudah membuat janji dengan dokter Andy?" tanya Aluna.


"Hmmm, iya sih. Tapi, kamu harus tetap sarapan dulu! Aku letakkan di meja ya sarapannya," ujar Nino yang di anggukan oleh sang istri.


Guyuran air membuat Aluna sedikit merasa segar, hanya butuh 15 menit ia telah duduk manis dan berpakaian rapi. Sekarang saatnya menyantap chuross kesukaannya. Entah mengapa, camilan berbahan dasar terigu itu terasa sangat lezat hari itu. Apalagi jika dicelupkan ke dalam sausnya.


Tanpa sadar, wanita itu telah menghabiskan 5 batang churros dalam waktu tak sampai 5 menit. Nino hanya memandang sang istri dengan tatapan lembut, memperhatikan wanitanya melahap habis makanan itu.


"Sudah selesai?" tanya Nino lirih.


"Hmmm-huum." Aluna menjawab dengan mulut penuh, kemudian meneguk segelas susu cokelat dengan cepat.


"Sudah, Sayang. Aku siap pergi sekarang!" ujar Aluna bersemangat.


"Wow, jangan-jangan kamu tadi hanya kelaparan? Aku memperhatikan caramu mengeksekusi makanan tak berdosa itu dengan rakus. Hahahaha," ucap Nino lepas.


"Mulai deh! Entahlah, roti itu terasa sangat enak. Sepertinya aku masih sanggup melahap 10 buah lagi."


"Hah?" Nino keheranan melihat nafsu makan istrinya yang bertambah. Biasanya wanita itu hanya mampu menghabiskan 2-3 potong roti sekali makan. Namun, hari ini 5 potong roti masih belum cukup. Tak ingin membuang waktu, mereka segera pergi ke klinik Dr. Andy.


kedatangan mereka di sambut dengan senyuman hangat. Dokter muda yang berusia sekitar 35 tahun itu adalah dokter keluarga Sasongko. Sehingga mereka sudah saling mengenal. Dua sejoli itu memasuki ruangan dengan bau obat-obatan yang menusuk, kemudian Nino duduk di kursi bagian samping.


"Selamat pagi, silakan duduk! Apa yang Anda keluhkan akhir-akhir ini, Bu?" tanya Dr.Andy memulai pembicaraan. Aluna segera beranjak dari posisi dan duduk di hadapan sang dokter.


Dokter muda itu hanya mengangguk, menyentuh pergelangan tangan pasiennya dan meraba nadi Aluna. kemudian ia mengeluarkan alat pengukur tekanan darah dari laci meja.


"Permisi, saya tensi dulu ya." Dokter Andy meminta izin yang dijawab dengan anggukan oleh Aluna. Dengan sangat hati-hati ia mengamati alat medisnya itu.


"Oke, 100/75. Cukup baik, tetapi masih tergolong rendah. Sekarang, silakan Anda berbaring di sana!" Dr.Andy memerintah sembari menunjuk ranjang besi di sudut ruangan. Wanita itu menuruti perintah sang dokter, lalu pria berpakaian serba putih itu memeriksa detak jantung Aluna.


"Sudah, silakan Anda kembali duduk!" perintah Dr. Andy. Kemudian ia melambaikan tangan pada seorang perawat yang sedari tadi memperhatikan mereka.


"Silvia, tolong ambilkan tespack!" Perawat itu berlalu pergi dan selang beberapa menit dia kembali, menyodorkan bungkusan yang di minta oleh Dr. Andy. Kemudian dokter muda itu memberi aba-aba asistennya untuk membawa Aluna ke toilet. Perawat manis itu menggandeng Aluna, menggiringnya memasuki toilet sembari membawa sebuah wadah kecil.


"Bu, tolong diusahakan untuk buang air kecil, ya! Setelah itu, tampung air seninya di wadah ini, sedikit saja!" ujar gadis bernama Silvia itu detail.


Tak butuh waktu lama, Aluna keluar dari toilet dan membawa wadah yang berisi sample urinnya. Silvia dengan sigap meraih wadah itu dan menyerahkan ke Dr.Andy. Sedangkan Aluna kembali ke posisi semula, duduk di hadapan sang dokter.


Dokter berkumis tipis itu memasukkan alat kecil berwarna biru-putih ke dalam sample urin Aluna, menahannya beberapa detik dalam genangan. Kemudian senyum merekah tersungging di sudut bibirnya. Ia meletakkan alat itu di atas selembar tissu.


"Selamat, kalian akan segera menjadi orangtua!" seru Dr.Andy tiba-tiba.


Aluna dan Nino bertukar pandang, mereka masih belum memahami ucapan dokter itu. Apa maksudnya menjadi orangtua? Nino bergerak menghampiri sang istri dan mengambil posisi duduk di sampingnya.


"Maaf, Dok. Maksudnya bagaimana?" tanya Nino.


"Iya, selamat kalian akan menjadi ayah dan ibu. Nino, istrimu sekarang sedang mengandung. Untuk lebih jelasnya, kamu bisa memeriksakan ke dokter spesialis kandungan."


"Sungguh?" tanya Nino seperti sekali lagi untuk meyakinkan diri.


Sang dokter hanya menganggukan kepala sembari menunjukkan dua garis merah yang terpampang di tespack. Nino tampak sangat girang, ia mengecup kening sang istri yang masih takjub menerima kenyataan itu.


"A-aku hamil, Dok? Tetapi kenapa aku tidak merasakan mual?" tanya Aluna seperti belum dapat mempercayai ucapan sang dokter.


"Tidak semua wanita hamil merasakan mual di awal. Hal itu dipengaruhi juga oleh banyaknya hormon yang terbentuk. Mungkin saja Anda akan mengalami morning sickness bulan depan." Sang dokter memberi penjelasan dengan tersenyum.


"Nino, segera bawa istrimu USG, ya! Untuk menghilangakan rasa pusing, saya akan meresepkan vitamin penambah darah. Ini bisa dikonsumsi sehari 1x sehari dan aman untuk ibu hamil." Dr. Andy menuliskan sesuatu di atas secarik kertas putih, menyodorkan ke Nino.


"Baik, setelah ini saya langsung membawa Aluna ke dokter spesialis kandungan untuk lebih jelasnya. Terimakasih, Dok!" Nino meraih kertas resep itu dan menggiring istrinya keluar ruangan dengan rona kebahagiaan.


Di parkiran mobil, Nino menggendong Aluna dan berputar. Beberapa orang yamg memperhatikan mereka hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.


Aluna berteriak, meminta suaminya untuk berhenti. Namun, tak dihiraukan sama sekali. Setelah puas mengungkapkan kebahagiaan, pria itu menurunkan Aluna ke dalam mobil dengan hati-hati.


Ia segera memerintahkan sang supir untuk meluncur ke dokter spesialis kandungan terdekat. Tak sabar rasanya ingin melihat perkembangan calon buah hatinya di dalam sana. Dengan lembut, Nino mengusap perut Aluna, mendaratkan ciuman beberapa kali dengan gemas. Wanita itu merasa geli, perasaan bahagia berkecambuk dalam sanubari. Ini adalah kado terindah bagi mereka.


Aluna mengusap rambut Nino yang tertidur di pangkuannya. Menatap lembut ke wajah yang sedang tertidur damai itu, seperti seorang bayi. Tanpa dosa dan tanpa beban, ya lelaki itu pantas mendapatkan apa yang ia peroleh saat ini karena perjuangan besarnya.