
Setelah kejadian yang menyisakan air mata dan goresan mendalam bagi Aluna. Ia berusaha untuk mengubur semua. Banyaknya kenangan yang tak akan terlupakan, masa-masa indah bersama Nino. Membuat perasaan Aluna kacau balau, belum tuntas ia menenangkan dirinya. Pagi ini ia menyaksikan mantan kekasihnya membawa wanita lain.
Aluna mencoba melepaskan semua yang telah berlalu, mencoba untuk memadamkan api cintanya yang mendalam. Namun, tanpa Nino sanggupkah Aluna menjalani hari-harinya? Waktu terus bergulir, tapi wanita itu masih tidak bisa menerima berakhirnya hubungan itu.
"Aluna, apa kamu baik-baik saja?" tanya Pak Suhandi yang mungkin tahu perasaan Aluna.
"Ah, I-iya pak. Saya baik-baik saja. Mari kita lanjutkan sampai di mana tadi?"
Pak Suhandi tersenyum simpul. "Kembalilah ke ruanganmu dulu! Kita bisa bicarakan ini nanti."
Aluna mengangguk patuh, benar ia membutuhkan waktu untuk sendiri. Beruntungnnya sang manajer memaklumi keadaan psikisnya yang belum pulih total. Wanita itu menekan-nekan bagian tengah keningnya seraya memejamkan mata.
"Pantas saja jika Nino memilih wanita itu dibandingkan dirinya. Kami bagaikan mutiara dan kerikil." Aluna berargumen sendiri sembari menatap monitornya.
Bulir-bulir bening perlahan menetes begitu saja. Membasahi pipi yang merona alami tanpa sapuan blush on itu. Bagaimana Aluna akan menyimpan segala harapannya terdahulu? Kali ini jalannya tak bertepi, ia tak mampu lagi melangkah jauh. Hati Nino sudah menjauh darinya dan berlabuh di tempat lain.
"Hey, kamu kenapa? Aku perhatikan melamun dari tadi." tanya seorang sahabat dekat Aluna.
Gadis itu hanya tersenyum simpul. Baginya semua kata tak ada yang bermakna, hatinya terlanjur mati. Kelam dan suram menghiasi palung jiwa. Namun, ia tetap berupaya menutupi kesedihan. Secepat kilat Aluna menyeka air mata. "Aku hanya kurang enak badan, Vi."
"Hmm, kalau perlu sesuatu panggil saja aku, ya." Sahabat Aluna yang biasa dipanggil Vivi itu menawarkan bantuan.
"Tentu. Terimakasih, ya."
Vivi menepuk pelan bahu Aluna, ia yakin sahabatnya sedang tidak baik-baik saja. Itu semua tergambar jelas di rona wajah Aluna yang murung. Tidak biasanya gadis ceria itu diam saja. Namun, Vivi tak ingin ikut campur terlalu jauh sebelum Aluna sendiri yang menceritakan duduk perkara.
"Aku akan membeli minuman dingin dulu, pagi ini sangat panas," pamit Aluna pada salah satu rekan kerjanya yang berada di depan Aluna.
"Iya, aku titip satu air mineral. Boleh 'kan?"
Aluna mengangguk dan melangkahkan kakinya gontai. Bayangan wajah Nino masih terus menghantuinya, tidak ada senyum yang membuatnya selalu bersemangat. Tidak ada lagi canda tawa di antara mereka. Sungguh semua ini terasa berat bagi Aluna.
Gadis itu memesan segelas jus jeruk dan sebotol air mineral, ia menanti pesanannya di sudut ruangan. Pandangannya nanar menembus kaca penyekat kantin. Kosong dan tanpa nyawa, kekuatannya sirnah bersama cintanya yang kandas. Aluna memejamkan mata sembari menarik napas dalam.
"Boleh aku duduk di sini." Seseorang meminta izin pada Aluna.
Suara yang berat itu memaksa Aluna membuka mata, tampak seorang pria tersenyum ke arahnya. Lelaki tampan dengan tinggi dan sedikit kurus. Kulitnya yang pucat bercahaya di bawah sorotan sinar mentari yang menyusup melalui kaca penyekat.
"Eh-, bo-boleh saja. Silakan!"
"Apakah Anda karyawan baru?" tanya Aluna sok akrab.
Pria itu masih tersenyum manis, Aluna dapat melihat gigi ginsul yang menyembul keluar di sisi kiri bibir tipis lelaki itu. "Bukan, aku ke mari hanya mengikuti kakakku. Karena bosan aku berjalan-jalan di sekitar sini dan aku menemukanmu sendiri."
Aluna mengernyitkan alis. Mungkin pria ini salah satu adik dari relasi mereka, jika tidak mana mungkin ia bisa bebas berkeliaran di area kantor. Ada baiknya ia berbincang-bincang sebentar, melepaskan penat karena memikirkan cintanya yang pupus.
Aluna terkejut mendengar pertanyaan yang tanpa embel-embel lagi. Pria yang jujur dan sangat blak-blakan. "Aku Aluna."
"Wah, nama kita mirip. Apa jangan-jangan kita ...." Pria itu memutuskan kalimat, karena Aluna melambaikan tangan ke arah penjaga kantin yang celingukkan sembari membawa pesanan jus jeruk.
"Ah, maaf. Lain waktu kita sambung, aku harus segera kembali kerja." Aluna melambaikan tangannya dan pergi berlalu.
Hmm, sepertinya dia wanita yang menarik.
Pria itu bersiul-siul sembari melanjutkan niatnya untuk berkeliling. Cup kopi yang dipegangnya masih terlihat mengepulkan asap. Namun, Al mencengkeram benda itu tanpa merasa kepanasan.
"Yang benar saja kenapa kakak mau aku bekerja di tempat seperti ini?" rutuk Al yang kemudian menyeruput sedikit kopi susu favoritnya.
Al berjalan menyusuri tiap jengkal ruangan di bangunan itu. Tiba-tiba seseorang memanggil namanya dengan lantang. "Al! Ke mari!"
"Cih, benar-benar merepotkan."
Lelaki berusia sebaya dengan Aluna itu menghampiri pria yang memanggilnya. "Apa lagi? Urusanmu sudah selesai?"
"Ya, mulai besok kamu akan bekerja di sini sebagai akunting," jawab lawan bicara Al sembari merebut minuman di tangannya.
Alis tebal milik Al mengernyit bak ulat bulu yang berjajar. "Akunting? Aku tidak salah dengar?"
"Tidak. Tenang saja nanti akan ada senior yang mengajarimu. Kamu harus mandiri, sampai kapan kamu bergantung pada kakak," tutur misterius itu.
"Ya, ya. Aku akan mencobanya."
"Bagus." Kakak Al mengacak-acak rambut lurus sang adik.
Sedangkan di ruangan lain, Aluna diceramahi sahabatnya yang terkenal ceriwis karena ia terlalu lama membelikan pesanan air mineral. Aluna hanya pasrah mendengarkan radio rusak yang terus mendengung itu.
"Kamu beli di Irak? Aku sampai dehidrasi tahu, kalau misalnya itu terjadi bagaimana? Aku bisa mati di sini dan aku enggak mau itu terjadi sebelum aku menikah. Kamu tahu sendiri 'kan orangtuaku sangat ingin melihatku menikah. Jadi lain waktu cepatlah sedikit membelikanku minuman," cerocos gadis berkacamata tebal itu dengan gambalang.
Aluna merasa paginya benar sial, ia harus mendengar ocehan tak penting dan juga melihat mantan kekasihnya bersama gadis lain dalam waktu semalam! Gila, baru kemaein mereka berpisah.
Apa mungkin Nino sengaja? Ingin menunjukkan bahwa gadis itu lebih baik dariku? Ya, aku yakin pasti begitu!
"Kamu dengar enggak, Lun? Kok diem aja, dijawab dong," tanya gadis bernametag Retno yang merasa terabaikan.
"Ah, i-iya aku dengar kok. Janji deh besok-besok kilat belinya, enggak pakai lama!"
Retno menyentil hidung Aluna dengan gemas. "Gitu dong, aku lanjut kerjain laporan dulu ya. Kamu juga cepet kelarin itu SKB. Enek banget aku lihat tulisan sama angka begitu banyak."
Aluna tersenyum kecut, kalau memang tidak suka melihat tugas miliknya. Kenapa masih dilihat? Memang benar-benar wanita aneh, pantas saja seluruh kantor menjuluki Retno si ceriwis. Jika sudah berbicara setengah jam. pun belum kelar.