
"Ehem, apakah ini drama romantis?" Seseorang tiba-tiba berdehem.
Aluna dan Nino menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Seketika mereka melepas pelukan dan berusaha menyembunyikan wajah yang bersemu merah.
"Maaf, sepertinya mama datang di waktu yang salah. Hmm, jadi mengganggu kalian."
Bu Hilma tersenyum di ambang pintu lengkap dengan asisten setianya --Bi Inah-- yang mendorong kursi roda. Mereka bergerak menghampiri dua sejoli yang di mabuk cinta itu.
"Ma-maaf, Bu--" Baru saja Aluna akan mengucapkan permohonan maaf, ibu kandung Nino itu menempelkan jari telunjuk di bibirnya. "Jangan panggil, Bu! Mama saja ya."
Mama? Aluna memanggil pemilik perusahaan di mana ia bekerja dengan sebutan itu. Manik mata Aluna terbelalak, apa itu sopan? Ya, walaupun Nino memang kekasihnya.
"Ah, tapi saya hanya buruh yang bekerja di kantor Anda. Tidak etis rasanya saya memanggil Anda begitu."
Bu Hilma mendekati Aluna, beliau mendongakkan wajah. "Siapa bilang kamu hanya pekerja? Sebentar lagi Aluna akan jadi anak mama juga."
"Hah, maksudnya?" tanya Aluna dengan alis mengernyit.
"Aluna akan segera menikah dengan putraku, itu artinya kamu juga jadi anak mama. Bukankah begitu, Nino?"
Baru kali ini Nino tersenyum di hadapan sang ibu. Ia mengangguk setuju, kemudian mengalihkan pandangan ke arah Aluna yang terpaku.
"Hari ini kita akan pergi ke rumahmu, Aluna. Mama akan meminta restu dari ibumu. Boleh?"
"Hah? Hari ini? Ba-bagaimana jika ibu saya saja yang datang kemari?" tawar Aluna.
Karena gadis itu tahu bahwa kondisi fisik Bu Hilma tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Aluna menatap kekasihnya dengan wajah memelas.
"Boleh ya?" pinta Aluna lagi.
Nino mengacak surai hitam Aluna. "Boleh, tapi aku yang akan menjemput beliau."
Selepas kepergiaan Nino, Aluna hanya diam terpaku. Dia merasa sangat canggung saat itu, betapa bodoh dirinya. Kenapa tidak ikut saja menjemput sang ibu? Malah memilih untuk tetap di kediaman megah itu.
Selang beberapa menit Nino tiba, Aluna dapat melihat dengan jelas raut wajah ibunya yang begitu ceria.
Wanita berusia paruh baya itu memeluk calom besan dan juga asistennya. Meskipun mereka baru pertama bertemu. Seperti ada sebuah chemistery di antara mereka berdua.
"Lun," sapa Bu Asmi dengan manik mata berkaca-kaca.
Wanita itu memeluk erat putrinya, lantas menangis sesenggukan. "Sebentar lagi kamu akan meninggalkan ibu sendiri. Tidak terasa kamu sudah akan menjadi seorang istri."
Tampaknya Nino sudah memberitahu tentang itikad baiknya kepada Bu Asmi. Bu Hilma mempersilakan calon besannya untuk duduk, ia meminta Bi Inah untuk menyediakan minuman dan camilan untuk tamu kehormatannya.
"Mohon maaf, Bu. Lamaran ini hanya sederhana, karena kami ingin mereka segera dinikahkan saja. Tidak perlu menunda-nunda lagi," ucap Bu Hilma sembari melirik Nino.
Bu Asmi terkekeh dan menyeruput segelas teh yang telah disuguhkan. "Tidak apa-apa, Bu. Begini saja sudah luar biasa, saya merasa sangat tersanjung."
"Kalau begitu, kapan kita akan melangsungkan pernikahan mereka? Bulan depan?" tanya Bu Hilma antusias.
"Bagaimana jika setelah idul fitri?"
"Boleh, itu ide yang bagus. Kira-kira dua bulan lagi ya?" tanya Bu Hilma lagi.
Bu Hilma mengangguk-angguk. "Oke, sudah diputuskan kalian akan menikah dua bulan lagi. Jadi, harap bersabar!"
Nino mengernyitkan alis. "Maksud mama apa?"
"Jangan kredit anak dulu!" jawab Bu Asmi dan Bu Hilma bersamaan.
Gurauan ibu dan calon mertuanya itu membuat pipi Aluna merona. Gadis itu tertunduk, memandang pantulan dirinya di atas meja tamu yang mengkilap. Ia tersenyum sangat bahagia, penantian panjang ini akhirnya berujung juga.
"Nino, jika kamu sudah menikah nanti jagalah Aluna dengan baik."
"Tentu, tanpa mama ingatkan pun aku akan menjaganya dengan segenap jiwaku."
Aluna mengerling manja, ah gombalan Nino semakin hari semakin luwes. Tampaknya ilmu yang ia pelajarai dari internet tidak sia-sia. Benar kata Raka, wanita di hadapannya itu mampu mengubah karakternya yang dingin.
Bahkan Nino mampu membangun hubungan yang baik dengan ibunya. Walaupun hubungan mereka masih ada yang menentang, baginya mendapat restu dari Bu Hilma sudah lebih dari cukup.
"Aluna mau konsep pernikahan seperti apa?" tanya Bu Hilma tiba-tiba.
Kekasih Nino itu mengerjapkan mata. "Terserah saja, saya belum memikirkan itu."
"Model eropa? Nanti kamu akan memakai gaun seperti cinderella. Cocok sekali dengan lekuk tubuhmu. Bagaimana?"
Aluna memandang ke arah sang ibu yang mengangguk, kemudian ia pun mengangguk ke arah calon mertuanya. "Boleh, Bu."
"Hey, sudah mama bilang. Panggil mama, coba Aluna panggil begitu?"
Layaknya anak kecil yang baru saja belajar berbicara, Aluna mengucapkan kata itu dengan terbata-bata. Mungkin ia merasa gugup. "Ma-ma-mama."
"Bagus, terus seperti itu ya."
Nino cekikikan melihat tampang Aluna yang begitu tegang. Terlihat lucu dan menggemaskan bagi Nino. Kalau saja kedua orang tua mereka tidak ada di sana. Ia ingin segera menggendong aluna dan merebut ciuman wanita itu.
"Jangan melihatku seperti itu!" Aluna menutupi netra Nino dengan telapak tangan.
Mendapat perlakukan macam itu, Nino segera mendekatkan bibirnya ke daun telingan Aluna. "Aku sudah tidak tahan ingin memangsamu."
Mendengar ucapan ambigu dari calon suaminya membuat wajah Aluna memerah seketika. Hah! Apa yang akan dilakukan lelaki mesum itu? Dasar manusia es serut!
"Nyonya, maaf menyela. Ini sudah waktunya Anda meminum obat." Bi Inah mengingatkan sang majikan dengan pelan.
Bu Hilma tersentak. "Aduh, aku lupa membawa obat, Inah. Ya sudah kalau begitu kita pamit pulang saja."
"Nino, mama pulang dulu ya. Maaf, meninggalkan kalian di saat bahagia seperti ini. Aluna, kemari!"
Sang calon menantu itu mendekat perlahan. "Ada apa, Ma?"
"Besok, kan hari minggu. Kamu datang ke rumah mama ya? Ada sesuatu yang ingin mama berikan padamu," bisik Bu Hilma.
"Ba-baik, Ma."
Kening Nino berkerut, apa yang dibicarakan Aluna dam ibunya? Mengapa harus berbisik-bisik? Ah, mungkin itu urusan sesama wanita. Lelaki itu memutar bola matanya malas.