
"Kenapa wanita itu tidak memberitahuku apa yang terjadi? Sial! Sial!" rutuk Nino sembari menghempaskan tubuh di atas kasurnya.
Pria itu baru saja tiba dari surabaya. Ia masih terus memikirkan ucapan Rere. Diraihnya ponsel hitam yang tergeletak di samping kirinya. Kemudian Nino mengisi daya baterai benda itu, entah berapa banyak pesan yang akan masuk nanti.
Netra kecokelatan itu memandang sekeliling ruangan yang menjadi tempat melampiaskan segala emosinya dengan nanar. Tak ada sesuatu yang spesial di sana, kecuali sebuah bingkai foto yang terpasang di dinding. Nino bangkit, meraba potret dirinya bersama Aluna. Foto itu di ambil ketika mereka berada di wisata air terjun, sepasang kekasih itu sering menghabiskan waktu bersama di tempat wisata alam. Hijau, asri, dan sejuk selalu berhasil membuat pikiran mereka lebih rileks.
"Aku--" Nino memutus kalimatnya, ia segera menyambar ponsel yang masih terpasang dengan kabel itu dengan cepat.
Pria itu menekan tombol untuk mengaktifkan ponsel, setelah menunggu beberapa detik. Berpuluh-puluh pesan masuk, termasuk dari sang kekasih --Aluna-- tiga puluh delapan pesan diterimanya, delapan belas pesan adalah dari Aluna. Bisa-bisanya ia melupakan kekasihnya, karena mungkin tempo hari pikirannya benar-benar kalut.
"Hallo, Sayang," ucap Nino sembari menggenggam erat ponselnya.
"Hallo, bagaimana kabarmu? Kenapa ponselmu mati dua hari ini? Aku cemas sekali, Nino. Kamu baik-baik saja 'kan?"
"Maaf, aku baik-baik saja. Aku hanya lupa membawa charger, jadi di sana aku kehabisan baterai."
"Hmm, baiklah. Kamu kumaafkan, apakah besok kamu sudah masuk kerja lagi?"
"Tentu, aku sangat merindukanmu!"
"Gombal! Sekarang istrirahatlah. Sampai jumpa besok manusia es. Muahc"
"Muahc." Nino menutup panggilannya, ada perasaan lega menyelimuti hatinya.
Hanya Aluna yang mampu meredam segala gejolak di hatinya, tapi tiba-tiba wajahnya mendadak pias. Ketakutan merajai hatinya, bagaimana jika Aluna tahu bahwa ia berbohong? Apakah perhatian gadis itu akan tetap sama? Gelisah kembali membayangi sanubari. Rasanya langit-langit runtuh menimpa tubuhnya.
"Tampaknya aku benar-benar lelah. Sebaiknya aku tidur dulu, semoga mimpi buruk ini segera berakhir! Tuhan, bantulah hambamu kali ini," gumam Nino sembari melepas kancing kemejanya.
Tangan kekar itu melepas satu per satu kancing kemeja, kemudian melemparkan kain pembungkus tubuhnya seenak jidat. Andai saja kemeja itu bisa berbicara, mungkin Nino akan dirutuk habis-habisan.
-**
"Selamat pagi," sapa Aluna ketika Nino datang ke kantor.
"Pagi."
Nino menjawab sapaan itu sangat singkat, tak seperti biasanya. Nampaknya pria itu benar-benar merasa canggung untuk bertemu kekasihnya lagi. Kemarin ia tak dapat memejamkan mata, pikirannya terus berkelana mengingat apa yang telah terjadi di antara dirinya dengan Rere. Ia terus berjalan lurus menuku lift, tanpa menyadari seseorang membuntutinya.
"Kamu kenapa?" Seseorang mengagetkan Nino yang tengah melamun.
"Se--sejak kapan kamu di sini?"
"Enggak apa-apa."
"Nino! Tunggu aku!" pekik Aluna, ketika pintu lift terbuka dan pria itu mempercepat langkahnya.
Wanita itu terus mengikuti kekasihnya sampai tiba di ruamh kerja Nino. "Terimakasih kamu membuatku senam pagi ini!"
Kekasihnya bergeming, tak menjawab umpatan Aluna. Bahkan untuk melihat ke arahnya saja tidak. Gadis itu bergegas menghampiri Nino. "Kamu ke-na-pa? Katanya kangen, tapi malah diam aja!"
"Aku--" Nino menatap Aluna lekat, penampilan gadisnya hari ini sedikit berbeda.
Surai panjang yang biasa dikuncir kuda itu dibiarkan tergerai. Sehingga Nino dapat mencium aroma shampoo Aluna. Perasaan ini sama seperti beberapa tahun yang lalu. Ketika mereka masih ABG dan memulai cinta monyet.
"Kamu kesambet apaan, sih?" tanya Aluna kesal karena Nino tak menjawab pertanyaannya.
Pria itu mendekat, melingkarkan satu tangan di pinggang Aluna. Sungguh pas digenggaman pria berbadan kekar itu. Gadis itu memejamkan mata, rindu selama dua hari tak bertemu membuat mereka ingin saling menyentuh.
Nino menelan salivanya, deru napas Aluna membangkitkan hasrat pria dewasa itu. Ia mendekat, ingin mencecap sedikit bibir ranum sang kekasih. Namun, tiba-tiba Nino melepaskan tangannya. Aluna tersentak dan hampir terjembab.
"Maaf, ini di kantor. Pergilah sudah waktunya bekerja!"
"Kamu!" Aluna mendengkus kesal dan pergi meninggalkan ruangan itu tanpa berpamitan lagi.
Bayangan wajah dan ucapan Rere terus menghantui Nino, bahkan saat ia bermesraan dengan Aluna. Ia merasa sudah tak pantas lagi menjamah bibir kekasihnya, karena sudah bermain dengan gadis lain. Perasaan bersalah dan kesal memenuhi hatinya, tak tahu harus bagaimana lagi. Nino memaksa untuk membuka dokumen-dokumen yang tertumpuk di meja. Manik matanya membulat sempurna.
"Gila! Kenapa profit bisa turun sedrastis ini dalam kurun waktu sebulan?" gumamnya sembari membolak-balik map yang dipeganggnya, tersirat ketidakpercayaan akan keakuratan dokumen itu.
Namun, berapa kali pun ia mengecek hasilnya tetaplah sama. Profit perusahaan turun 35% dari bulan lalu. Jika itu digambarkan dalam diagram, sudah berada di ambang batas garis hijau dan merah.
Tak sanggup Nino membayangkan bagaimana reaksi ibunya nanti? Anehnya ia tak pernah melihat kakak tirinya--Andim-- mengunjungi kantor itu. Memamg direksi perusahaan manufakture milik ayah biologisnya adalah Andim, karena Nino menolak untuk menerima jabatan itu. Sebelum ia memasuki kantor dimana Aluna bekerja, Nino telah memiliki sebuah restoran warisan dari sang kakek. Bahkan masih dikelolanya hingga saat ini.
Pria tampan itu mengacak rambut, menutup kembali map yang membuat hatinya semakin kalut. "Mengapa jadi seperti ini? Aku harus tetap mempertahankan milik ayah! Harus!"
"Permisi, Pak. Ini laporan keluar-masuknya barang yang harus Pak Nino tandatangani," ucap seorang karyawan sembari menyodorkan selembar kertas.
"Bukankah ini tugas Aluna, dimana dia?"
"Di--di toilet, Pak. Aluna menitipkan ini kepada saya," jawab karyawan itu penuh keraguan.