My Edelweiss

My Edelweiss
Pingsan



Aluna menatap pria itu lekat-lekat. Andaikan saja energinya tidak terkuras saat terjadi pertengkaran dengan Rere. Ia bisa saja membanting pria itu dengan sekali libasan. Namun, bukan Aluna jika ia patah arang. Ia masih saja berusaha agar pria itu segera enyah dari hadapnya.


"Saya sudah tidak mau berurusan dengan dia. Jadi tolong lepaskan saya! Atau saya akan berteriak maling," cicit Aluna tanpa rasa takut.


Mata pria itu berkilat merah, masih memandang Aluna tajam. "Kamu!" Perlahan ia melepaskan cengkeramannya. "Aku pegang kata-katamu! Awas saja, jika kamu berani merusak rencanaku!"


Pak Sailendra menoleh ke kanan dan kiri setelah itu tergesa-gesa meninggalkan Aluna. Heran sebenarnya apa yang lelaki itu lakukan di sini, bukannya menyemangati Bu Hilma malah keluyuran tidak jelas. Bahkan Nino pun mungkin tidak tahu kedatangan ayah tirinya itu.


Kenapa Pak Sailendra keluar dari ruangan T. U? Aneh, tapi sudahlah bukan urusanku juga. lagipula ini juga perusahaan milik istrinya.


Aluna memaksakan diri untuk menuju parkiran motor, pandangannya mulai berkunang-kunang. Mungkin ini juga efek karena ia tidak tidur semalam. Tubuhnya terasa sangat ringan bagaikan kapas. Semakin ia memaksakan diri untuk melangkah, semakin pening pula kepalanya. Penglihatannya kian buram dan perlahan-lahan menjadi gelap.


"Kak, lihat di sana ada orang tergeletak. Ayo kita tolong dia!" pekik seseorang dari arah yang bersebrangan dengan tempat Aluna pingsan.


Kakak dan adik itu bergegas menghampiri tubuh Aluna yang tidak berdaya. Membopong gadis itu ke tempat yang lebih teduh, menyandarkan kepalanya lebih tinggi dari posisi kaki. Kini tubuh Aluna duduk bersandar di sebuah pilar besar yang terletak di dekat parkiran sepeda motor.


"Di-dia Aluna! Ya, dia gadis yang baru saja aku kenal. Kenapa bisa begini? Padahal tadi pagi sepertinya baik-baik saja."


"Al, tunggu apa lagi! Cepat ambilkan dia minyak kayu putih di dashboard mobil!" perintah sang kakak.


Al berlari menuju mobilnya dan mengambil sebotol minyak kayu putih. Kemudian bergegas membuka penutup botol dan menyodorkan benda itu di bawah hidung Aluna.


Tak begitu lama, gadis itu menggerakkan sedikit kepala, tampaknya aroma yang kuat itu benar-benar ampuh untuk menyadarkan seseorang yang pingsan. Aluna mengerjapkan netra, lamat-lamat ia melihat bayangan dua orang pria yang berjongkok di hadapannya.


"Hmm, kalian siapa?" tanyanya lirih, nyaris tak terdengar.


Pria berparas cantik bak seorang gadis itu mendekat, memiringkan kepala agar Aluna dapat melihatnya dengan jelas. "Kamu lupa denganku?"


Mantan kekasih Nino itu mengedip-kedipkan kelopak mata, berusaha untuk mempertajam penglihatannya. "Al?"


Pria itu mengangguk, kemudian membantu Aluna untuk berdiri. "Kamu naik motor? Bagaimana jika aku antar saja?"


Aluna menggeleng ringan, ia tak ingin merepotkan orang yang baru saja dikenalnya. Apalagi gadis itu tidak tahu bagaimana watak asli Al. Takut jika sesuatu yang buruk akan terjadi, lebih baik ia menolak itikad baik itu.


"Begini saja, aku akan mengantarkanmu dengan sepeda motormu sendiri. Kakaku akan mengikuti kita di belakang, bagaimana? Bukankah tubuhmu masih terasa lemah?"


Gadis itu mengangguk lemah, entah kenapa hal ini bisa terjadi. Mungkin karena tekanan batin juga, sehingga tenaga dan pikirannya menghabiskan energi. Akhirnya Aluna menyetujui usulan Al, bagaimanapun ia juga membutuhkan bantuan dalam keadaan yang seperti itu.


"Ayo, yang mana motormu?" tanya Al sembari menggaruk tengkuk.


"Itu yang warna putih, di baris nomor tiga."


"Oh, yang ada stikernya unyil itu ya?" tanya Al lagi, kali ini dengan terkekeh geli.


Aluna mengangguk dan tersipu malu. Ia sendiri tak ingat sejak kapan stiker licu itu menempel di bumper motornya. Pasti ini ulah salah satu keponakannya yang usil. Namanya juga anak kecil, mungkin bagi mereka itu luar biasa. Jadi Aluna sengaja tidak melepas tanda cinta itu di motor kesayangannya.


"Di mana alamat rumahmu?"


"Jl. Hayam wuruk no. 46," jawab Aluna singkat.


Beruntungnya Aluna mendapati sahabat baru yang baik, bahkan mau mengantarkannya pulang. Dengan sangat hati-hati pria itu mengemudikan kendaraan. Ia tak ingin penumpang pertamanya itu merasa tidak nyaman, ya Al bersikap seolah-olah dia adalah driver ojol.


"Yang mana rumahnya, Lun?"


"Masih ke barat sedikit, yang warna hijau."


"Oke!" jawab Al bersemangat.


Ojek online dadakan itu menghentikan Aluna tepat di depan rumahnya. Pria itu mematikan mesin dan menuntun kendaraan tempur Aluna ke arah halaman rumah. Kemudian ia memarkirkan motor imut itu dengan hati-hati.


"Nih kuncinya, aku pamit langsung ya soalnya masih ada yang harus kukerjakan," ucap Al sembari menyodorkan gantungan kunci berbentuk tweety itu pada Aluna.


"Kamu enggak mau mampir dulu? Yakin?".


"Enggak, lain waktu aja. Aku pamit ya, sampai jumpa besok!" Al mengedipkan netra kanannya dengan genit.


"Ah, iya hati-hati dan terimakasih bantuannya."


Gadis berkulit pucat itu bingung dengan salam perpisahan mereka. Sampai jumpa besok? Apakah Al akan menemuinya lagi? Tidak! Pasti bukan itu maksud Al, mungkin itu hanya sebuah basa-basi. Hal yang biasa dilakukan seorang pria muda.


"Loh, di mana kunci rumah ya?" gumam Aluna sembari mengubek-ubek isi dalam tasnya.


"Ah, ini dia! Kukira kamu hilang. Bisa-bisa aku jadi patung pancoran kalau harus menunggu ibu pulang." Aluna mengoceh sendiri sembari memijit kepalanya yang masih terasa sakit.


Ia melangkahkan kedua kakinya dengan perlahan, berusaha menjaga keseimbangan tubuh. Setelah berhasil membuka pintu, Aluna berbaring di sofa sejenak. Meluruskan kakinya yang di angkat ke sofa, rasanya sekujur tubuh wanita itu sakit semua.


Namun, sakitnya raga tak sebanding dengan nurani. Meskipun Aluna berusaha membohongi diri bahwa semua akan baik-baik saja. Nyatanya cinta tak sesederhana itu, berapa kali pun ia mencoba melupakan. Bayangan Nino kembali hadir, lagi dan lagi.


Dia merasa sangat kehilangan dan hampa, terpisahkan oleh ruang dan waktu dengan orang yang sangat dicintainya. Aluna berjalan menuju meja rias, memandang pantulan bayangnya di cermin.


"Percayakah kamu pada cinta pandangan pertama? Jika itu memang ada tunjukkan padaku! Dia cinta pertamaku, tapi ternyata itu hanya sebuah ilusi!" Aluna merutuk bayangannya di cermin dengan pandangan nanar.


Jemari lentik miliknya mencengkeram erat vas bunga, lalu membanting benda itu ke lantai. Dentingan pecahan kaca memenuhi ruang tidurnya, bulir nestapa kembali meluruh. Membasahi pipi Aluna, penyesalan dan kenangan indah datang bersamaan.


"Mengapa aku tidak dapat melupakannya, Tuhan? Hapus saja semua memoriku, buatlah aku tak mengingat apapun tentang dirinya!" pekik Aluna sembari menengadah, memandang langit-langit kamar yang tampak seperti ingin jatuh menimpanya.


Waktu terus bergulir, matahari mulai menyembunyikan dirinya. Semburat jingga menghiasi cakrawala. Gadis itu tertidur di atas meja rias, masih dengan posisi terduduk. Satu tangannya menjadi bantalan kepala, tampaknya ia benar-benar lelah.


"Lun, kamu di mana, Nak?" tanya Bu Asmi lantang.


Wanita paruh baya itu baru saja pulang dari depot dan mendapati pintu rumahnya terbuka lebar. Bahkan sepeda motor Aluna masih terparkir di halaman depan. Ia terus menyusuri tiap jengkal bagian di rumah tersebut, sampai akhirnya Bu Asmi menemukan Aluna yang tertidur.


"Ada apa ini? Kenapa berantakan sekali?"


Bu Asmi menggeleng pelan dan meraih selimut. Beliau menyelimuti tubuh Aluna yang tergeletak pulas. Tak tega rasanya jika harus membangunkan anak semata wayangnya itu. Akhirnya ia memilih untuk membiarkan saja, lalu wanita itu memungut satu per satu pecahan vas bunga dan membawanya pergi keluar.