
Setelah mendaki selama sejam, mereka beristirahat sejenak. Menikmati hamparan bunga berwarna ungu dari kejauhan. Godaan untuk terus berjalan menyusuri lukisan Tuhan itu semakin bergelora. Mereka bertiga mulai bimbang, apakah akan melanjutkan pendakian atau kembali ke bawah?
Tinggal beberapa jengkal lagi, puncak para dewa akan segera mereka taklukan. Sayang rasanya jika tak melanjutkan petualangan itu. Awan dan Raka menghendikkan bahu melihat ekspresi murung Nino.
"Bagaimana kalau kita lanjut saja?" tanya Awan dengan bersemangat.
"Tapi ...." Nino menengadahkan wajah, menatap gumpalan awan-awan yang seakan menyapa kehadiran mereka.
Raka menepuk bahu bos mudanya itu. "Kita lanjut saja, Pak. Saya yakin pasti Yeri juga akan senang, jika kita bisa mencapai puncak. Nanti kita tulis saja nama-nama mereka yang tertinggal lalu kita foto sebagai kenang-kenangan di puncak sana, bagaimana, Pak?"
Dahi Nino berkerut, menimbang apa yang akan dipilihnya. Pria itu memijat-mijat area wajah di antara alisnya. "Baik, kita lanjutkan!"
Sontak kedua sahabatnya itu terbelalak kaget, apa benar yang di hadapan mereka itu Pak Nino? Biasanya tak mudah untuk menggoyahkan keputusannya. Namun, kali ini semudah membalikan telapak tangan.
"Ayo, jangan bengong!"
Ketiga pria maskulin itu bergerak perlahan tapi pasti menuju Oro-oro Ombo. Derap langkah mereka beriringan dengan deru napas, peluh yang bercucuran pun tak lagi dihiraukan. Tujuan mereka kini semakin mantap, mencicipi puncak Mahameru.
"Masih jauh enggak nih?" tanya Raka sembari mengusap peluh di kening.
"Sebentar lagi sampai. Kita istirahat saja dulu di Oro-oro Ombo."
Sebagai seorang ketua, Nino terus berjalan lurus pantang mundur. Membawa nama timnya untuk mencapai puncak tertinggi. Mantan kekasih Aluna itu tersenyum dan menoleh ke arah Raka dan Awan.
"Lihat betapa indahnya lukisan alam ini!" pekik Nino seperti bukan dirinya.
Padang yang luas di mana berisikan rumput, pepohonan dan juga salah satu tanaman yang cantik namun mematikan, Verbena brasiliensis. Warna ungunya yang menarik membuat banyak orang mengira dirinya adalah lavender.
Ada dua jalur untuk melewati Oro-oro Ombo, yaitu dengan langsung turun dan bertemu Verbena di bawah atau memutarinya dan menikmati pemandangan Verbena dari atas. Kali ini rombongan Nino memlilih untuk menikmatinya dari bawah dan memasuki wilayah Cemoro Kandang.
Usai beristirahat sejenak mereka melanjutkan kembali pendakian menuju Jambangan. Jika sebelumnya mereka sudah melewati jalur padang rumput, sekarang berlalu lagi melewati jalur yang kiri dan kanannya ditumbuhi pepohonan tinggi dan lebat.
"Apakah ada yang merasa kurang enak badan?" tanya Nino kepada kedua sahabatnya.
"Tidak!" Mereka menjawab serempak.
Nino tersenyum lebar. "Bagus. Persiapkan fisik kalian karena jalur berikutnya akan terus menanjak."
Raka mengangguk setuju, dirinya dan Nino pernah pergi untuk mendaki Semeru. Harus diakui kondisi fisik putra Bu Hilma itu luar biasa, bahkan ia sanggup bertahan untuk tidak minum demi memberikan asupan air untuk anggota lainnya dulu. Mungkin pengalamannya dalam mendaki bisa disetarakan dengan seorang Porter.
"Ingat! Bonus hanya ada di bagian akhir Jambangan," turur Nino lagi.
Entah untuk keberapa kalinya Nino mewanti-wanti kedua anggotanya itu. Sesampainya di Jambangan mereka tidak berhenti seperti yang lain, melainkan terus mendaki. Sebisa mungkin tiba di Kalimati sebelum gelap.
Medan yang mereka lewati sekarang bisa dibilang cukup menyenangkan. Jalur perlahan-lahan menurun, cukup untuk merilekskan otot kaki yang kaku. Mereka berjalan terus sampai bertemu dengan Shelter Porter, dan berniat untuk membangun tenda di dekat Shelter tersebut.
"Raka, kamu membawa tenda 'kan?" tanya Nino kepada pria bertubuh besar.
"Tidak masalah, itu sudah cukup untuk kita bertiga, walaupun harus berdesak-desakan nanti."
Awan yang sedari tadi hanya terdiam itu mulai angkat bicara. "Raka yang paling besar, Pak. Seharusnya dia jaga gawang saja!"
Candaan Awan hanya ditanggapi dengkusan oleh Raka. Nino bersama kedua anggotanya itu bersiap untuk membangun tenda dan mencari air sebagai persediaan.
"Pak, saya yang mengambil air ya?" tawar Raka sembari menenteng beberapa wadah.
Bos muda itu mengerutkan dahi. "Berani sendiri?"
"Beranilah, Pak!"
"Oke, tapi tetap berhati-hati dan kembalilah sebelum gelap."
"Siap, Komandan!" Raka segera melangkahkan kakinya dengan ringan.
Tidak sama seperti di Ranu Kumbolo, di Kalimati ini sumber air sedikit lebih jauh. Jika di Ranu Kumbolo hanya perlu berjalan kurang lebih dua menit. Di Kalimati ini Raka harus berjalan 30 menit untuk sampai ke Sumber Mani. Jadi Raka sengaja membawa wadah tertutup agak banyak agar ia tak perlu bolak-balik lagi.
Sedangkan di bawah, Aluna mulai gusar. Sang cakrawala mulai menampakkan semburat jingga. Namun, Nino dan kedua anggota lainnya tak juga menampakkan batang hidungnya. Wanita itu berjalan Mondar-mandir sembari menggelengkan kepala ringan.
"Pak Suhandi, mengapa mereka belum kembali juga?"
Akhirnya Aluna memutuskan untuk bertanya pada manajernya. Sedikit merasa malu, tetapi hal itu tetap dilakukannya demi menjawab rasa penasaran. Bagaimanapun masih tersisa rasa cinta di hatinya untuk Nino, apalagi lelaki itu sedang dalam misi membuktikan kesungguhannya.
"Aku akan mencoba mencari informasi. Seharusnya mereka sudah tiba, jika hanya mendaki tanjakan cinta. Semoga tidak terjadi hal buruk." Pak Suhandi melangkahkan kakinya menuju arah yang berlawanan.
Seketika detak jantung Aluna berhenti berdetak mendengar kata-kata sang manajer. Rasanya mendadak sesak, sulit sekali untuk bernapas. Tidak! Aluna yakin mereka baik-baik saja. Ia akan tetap menunggu, wanita itu kenal betul watak Nino. Sekalinya berjanji, ia tidak akan mengingkarinya.
Rona wajah putri semata wayang Bu Asmi itu berubah sumringah melihat kedatangan Pak Suhandi, setelah pria itu menghilang beberapa menit yang lalu. Ia bergegas menghampiri lelaki tambuh itu bagaikan pengantin baru. "Bagaimana, Pak? Apa informasi yang Anda dapatkan?"
"Mereka baik-baik saja. Tenanglah, Lun!"
Pria berkepala plontos itu menggaruk tengkuknya yang terasa gatal. Kemudian, kembali melanjutkan kalimatnya. "Tapi, mereka mungkin tidak akan kembali ke sini dalam waktu dekat."
"Maksud Pak Suhandi apa?" tanya Aluna dengan mata terbelalak.
Sang Manajer mengembuskan napas kasar. "Mereka sekarang berada di Kalimati dan akan melanjutkan pendakian hingga puncak."
"Apa? Bukankah mereka hanya membawa sedikit amunisi? Bagaimana jika nanti mereka kehabisan energi di sana? Nino benar-benar sudah tidak waras!" cecar Aluna sembari menatap Pak Suhandi lurus.
Lelaki beranak tiga itu menelan salivanya sendiri. "Sa-saya juga tidak mengerti, kenapa Pak Nino mendadak berubah haluan? Mungkin ia ingin agar tim kita tidak sia-sia ke mari."
"Tapi, Pak bukan begini caranya!" Aluna mengacak surai panjangnya yang sengaja dikuncir kuda.
"Mereka bahkan tidak membawa sleeping bag! Nino, kamu benar-benar ceroboh!"