
Raut wajah Nino tampak muram, beberapa kali ia menghela napas panjang. Dokumen-dokumen kontrak kerja yang seharusnya ia tanda tangani pun, dibiarkan berserakan di atas mejanya. Di sudut ruangan itu, tampak seorang pria separuh baya berdiri tegap dengan tatapan tajam memperhatikan gerak-gerik Nino.
"Bagaimana? Kamu mau melihat kondisi mamamu semakin memburuk? Pergi atau tidak itu terserah kamu."
Pria itu menatap lurus putra tirinya, ia merasa telah memiliki kartu AS. Pagi ini ia rela datang ke kantor Nino memaksa putranya untuk menemui Rere. Sedikit permainan, lelaki itu berdusta bahwa selepas kepergian Nino. Bu Hilma menangis meraung-raung dan terus memanggil namanya. Meminta agar putranya itu menyelamatkan aset keluarga. Dramanya sedikit berhasil menggoyahkan tembok pertahanan Nino.
"Baik, aku akan pergi," ucap Nino sembari menghela napas untuk yang kesekian kalinya.
Pria itu menyeringai, tersenyum licik, dan segera berlalu meninggalkan Nino tanpa sepatah kata pun. Selangkah lagi, piala kemenangan akan diraihnya. Harta dan kekayaan keluarga Sasongko akan menjadi miliknya seorang. Sehingga ia tak perlu repot-repot meminta tanda tangan sang istri jika ingin membeli barang mewah.
"Persetan dengan semua! Shit!" teriak Nino sekencang-kencangnya.
Pemuda itu mengobrak-abrik tumpukan kertas di depannya tanpa pandang bulu. Tak peduli berkas itu penting atau tidak. Saat ini, yang terlintas dalam benak Nino hanyalah wajah Aluna. Bagaimana jadinya kalau dia mendengar kabar ini? Nino tertunduk lesu dan menitikan air mata. "Lun ... maafkan aku."
Tiba-tiba ponselnya bergetar, ia menatap layar dengan manik mata terbelalak. Sebuah pesan singkat dari sang kekasih. Nino melirik kembali tulisan yang tertera di layar ponselnya. Ia segera membuka pesan itu dan terdiam sesaat.
📱From: Aluna
Nino, hari ini kamu jadi 'kan main ke rumah? Jangan lupa ini hari ulangtahun ibu! Kemarin aku sudah memaafkanmu yang lupa mengantarkanku membeli kado. Sebagai gantinya hari ini kamu harus datang!
Nino mengepalkan tangan, mengumpulkan keberanianya, Lalu membalas pesan itu.
📱Maaf, sepertinya aku belum bisa mampir. Ini ada meeting mendadak. Sampaikan salamku untuk ibu.
Aluna
-*
Aluna bersemangat dan langsung menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja.
Seketika raut wajahnya berubah muram. Manik mata almond itu berkaca-kaca, ia tak lagi membalas pesan Nino. Kekecewaan membuncah dalam sanubarinya, tetapi Aluna berusaha berpikiran positif. Dengan bergegas disambarnya ponsel hitam metalik miliknya dan berlari menuju lift. Beruntungnya saat itu jam istirahat, sehingga ia bisa bebas pergi ke manapun.
Aku harus menemui Nino, tampaknya ada yang tidak beres!
Aluna menekan nomor '5' dalam lift. Lift itu segera meluncur ke lantai dimana kantor Nino berada. Dari sisi ruangan yang dikelilingi kaca itu, tampak sosok Nino sedang duduk gelisah. Ia sedang melamunkan nasibnya kelak.
"Boleh aku masuk?" tanya suara dari luar.
Nino tersentak, seketika lamunannya buyar. Pemuda itu tahu yang berdiri dibalik pintu saat ini, adalah orang yang paling ia takutkan. Suara khas itu pasti Aluna!
Pria yang sedang dilanda dilema itu tersenyum pada Aluna, berusaha menyembunyikan perasaan sesungguhnya. Aluna menghampiri Nino, sorot matanya tajam seperti ingin melahap Nino bulat-bulat. Pria itu segera berdiri untuk memberikan sebuah pelukan hangat pada kekasihnya itu. Namun, dengan cepat sang kekasih menepis tangannya. Nino menehuk salivanya dan kembali duduk.
"Tumben kamu mau datang ke mari?" tanyanya memulai pembicaraan.
"Ya, kalau bukan karena janji palsumu. Aku tidak akan ke mari!" sahut Aluna ketus.
Pemuda itu beranjak dari tempat duduk, mendekat ke arah wanitanya yang tampak sangat kesal. Nino membelai rambut Aluna. "Ada banyak hal yang harus kita bicarakan."
Aluna membalikkan tubuh, tangisnya pun pecah. Dalam dekapan Nino, ia terisak-isak meluapkan rasa kecewanya. Hari ini ulang tahun ibunya, bahkan mereka merencanakan sebuah pesta kecil sudah sejak seminggu yang lalu. Bagaimana bisa Nino membatalkannya begitu saja?
"Apa lagi? Kemarin aku sudah memberimu kelonggaran. Sekarang apa lagi alasanmu, hah?" Aluna bergerak mundur, melepaskan dekapan sang kekasih.
Namun, Nino kembali memeluknya erat, seraya memejamkan mata. Ia tak sanggup melihat wanitanya menangis sesengukkan. Hatinya pedih bagai diiris sembilu, apalagi penyebab semua ini adalah dirinya. Ya, rencana itu sudah mereka susun jauh hari dengan matang. Namun masalah lain datang, dan menghentikan langkah mereka.
"Lihatlah aku!" perintah Nino lembut.
Aluna mendongakkan kepala dengan mata sembab, ia menyeka sisa-sisa air mata.
"Hari ini Papa datang menemuiku, lalu ia memintaku untuk menemui client di luar kota," ujar Nino menjelaskan duduk perkara yang menyebabkan gagalnya rencana mereka.
"Tumben. Sampai kapan?" tanya Aluna keheranan.
"Itu ...." Nino menghela nafas panjang. "Mungkin dua atau tiga hari," ucap Nino dengan tertunduk lesu.
"Kenapa tidak kakakmu? Biasanya dia kan yang pergi mengurus semua itu?"
Nino memejamkan mata, kemudian menatap dalam Aluna. "Kak Andim saat ini menggantikan posisi mama untuk mengawasi perusahaan, sehingga ia tak mungkin meninggalkan kota ini. Mau tak mau aku yang harus pergi. Ini permintaan mama, Sayang."
Pria itu memberi alasan multak, ia tak ingin lebih jauh berbohong dan menyakiti hati Aluna lebih dalam, bagaimanapun kekuatan cinta membuatnya salah jalan. Entah apa yang akan terjadi nanti. Saat ini Nino bagaikan memakan buah simalakama, apa yang harus dipilihnya? Cinta yang dia perjuangkan atau perusahaan peninggalan ayah biologisnya?
Aluna menarik napas dalam dan tersenyum simpul. "Baiklah, ini semua demi almarhum ayahmu. Lakukan yang terbaik!"
"Terimakasih." Nino mendekap erat tubuh sintal Aluna, seakan tak akan ada waktu lagi bagi mereka untuk melakukan hal ini.
Lagi-lagi Aluna mendorong tubuh Nino. "Cukup! Sebagai hukumannya aku mau kamu membuat sebuah video ucapan ulang tahun untuk ibu. Jadi, meskipun hari ini kamu enggak ikut merayakan, tapi ibu tetap bahagia. Mau 'kan?"
Nino mengangguk patuh, dia membuat sebuah rekaman video singkat berdurasi dua menit. Aluna beberapa kali terkekeh melihat ekspresi kekasihnya yang tampak kaku. Di balik kemesraan mereka, hati Nino merasa hancur, entah mengapa? Sanggupkah dirinya menjalani takdir yang berlawanan?