My Edelweiss

My Edelweiss
Prahara



Keesokan harinya ....


Seorang wanita berusia hampir setengah abad melenggang dari dapur. Tampak sebuah celemek masak masih tergantung di dadanya. Manik netra tua itu terbelalak mendapati sang majikan yang tampak tertidur pulas di ruang tamu. Dengan hati-hati salah satu asisten kepercayaan Nino membangunkan tuannya.


"Tuan, bangun. Ini sudah jam enam pagi, Tuan." Bi Atin mengguncang-guncang tubuh


Nino dengan sangat hati-hati.


Berharap sang majikan terbangun karena mentari sudah menampakkan sinarnya sedari tadi. Nino menggeliat, meregangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku. Tentu saja, karena ia tidur dengan posisi duduk selama kurang lebih tiga jam.


"Hmm, terimakasih, Bi." Itulah kalimat pertama yang ia ucapkan saat melihat Bi Atin.


"Sama-sama, Tuan. Mau saya bawakan sarapan ke mari?"


Nino menggeleng pelan sembari tersenyum, mempertontonkan deretan gigi putih yang berjajar rapi. Ia meremas kening, berusaha untuk memfokuskan penglihatannya yang masih buram. Setelah dirinya merasa sudah lebih baik, Nino bergegas menuju ruang tidur.


Pintu ruangan pribadinya terbuka lebar, tampak Rere masih tertidur lelap. Benar-benar wanita yang ceroboh, bahkan ia tidak menutup pintu semalaman.Nino mengembuskan napas kasar, mengendap-endap untuk mandi dan bersiap pergi ke kantor. Biasanya Bi Atin sudah menyiapkan kemeja dan jasnya di gantungan, kenapa kli ini tak ada? Mungkin asisten itu lupa karena banyak tugas yang harus diselesaikannya.


"Baiklah, aku akan memilih sendiri pakaianku hari ini." Nino melirik Rere, ia berusaha untuk tidak membuat suara agar tak membangunkan wanita itu.


Bisa-bisa Rere akan mengganggu pekerjaan Nino, jangan sampai ia terbangun! Pria itu membuka pintu almari perlahan-lahan. Namun, seberapa besar usahanya untuk tidak menimbulkan bunyi itu mustahil. Almari berbahan kayu jati itu berderit keras, Nino menahan napas, melirik gadis yang masih tergeletak.


Aman, wanita itu masih tertidur pulas. Nino mengambil setelan jasnya dengan tergesa-gesa dan segera beranjak pergi. Namun, ia tak memperhatikan langkah, kakinya terantuk nakas dan getaran itu menyebabkan sebuah penutup gelas berbahan stainless steel terjatuh.


Aduh! Sial sekali nasibku!


Rere menggeliat, suara keras itu memaksanya untuk membuka kedua kelopak mata yang masih terasa berat. Pusing efek mabuk semalam masih dirasakannya, tetapi ia masih melihat dengan jelas sosok yang berada di hadapnya.


"Pagi, Honey," sapa Rere yang menyandarkan tubuh di kepala ranjang.


Namun, Nino tak menjawab sapaan itu. Ia malah asik memilih celana dan dasi yang akan dipakainya. Bahkan menoleh pun tidak, atau mungkin itu memang disengaja.


Melihat pria pujaannya bergeming, Rere turun dari zona ternyaman kaum rebahan itu. "Mengapa kamu sombong sekali? Mau kerja, ya?"


"Iya."


"Kalau begitu aku ikut," ucap Rere sembari melingkarkan tangan di pinggang Nino.


"Lepaskan! Jangan sentuh aku lagi!"


Manik mata Nino berkilat merah, ia sudah cukup tersiksa dengan pergolakan batin semalam. Tak ingin terjatuh dua kali dalam lubang yang sama. Pria itu kembali meninggalkan Rere yang menampakkan muka masam.


"Kenapa, sih Nino tidak tergoda denganku? Aku semakin ingin tahu bagaimana rupa gadis yang gelah merebut hati pria idamanku? Akan kuberi pelajaran dia!" ancam Rere dengan sengit, tanpa ada satu orang pun mendengar itu.


Tak butuh waktu lama Nino sudah berpakaian formal dan rapi. Demikian dengan Rere, gadis itu juga telah berdandan manis bahkan bisa dibilang cukup terbuka hanya untuk pergi ke kantor. Busana berwarna navy berbentuk mini dress itu melekat di tubuh Rere, memperlihatkan lekukan tubuh langsingnya. Bagian lengan lebih tertutup, dengan aksen tiga per empat berbahan brokat tipis. Membuat lelaki manapun yang menatap akan menelan saliva.


"Tuan, sarapannya," tawar Bi Atin sembari tersenyum.


"Tidak, hari ini aku tidak nafsu makan. Habiskan saja dengan yang lain, Bi."


Bi Atin mengangguk patuh, Rere merasa sangat kesal dengan tingkah Nino. Sebenarnya perutnya sangat lapar karena ia belum memakan apapun sejak menapakkan kaki di rumah Nino. Hanya sepotong roti isi di cafe yang mengganjal perutnya. Ia memandang Nino yang bersikap acuh dan mulai pergi meninggalkannya lagi.


"Nino, aku ikut!" rengek Rere manja.


"Cepat!" sentak Nino tanpa memandang lawan bicaranya.


Tiga luluh menit berlalu, mereka tiba di kantor tempat Nino bekerja. Sebenarnya itu adalah kantor milik keluarga Sasongko yang berarti itu adalah kantor dari pabrik yang di kelola ibunya.


Seluruh mata memandang ke arah Nino dan Rere yang baru saja tiba di lobby. Beberapa di antaranya bergosip tentang Aluna. Mungkin saja Bu Hilma tidak merestui hubungan mereka, jika dilihat dari silsilah keluarga Aluna yang bukan dari kalangan elit. Sedangkan di samping Nino saat ini berdiri seorang wanita cantik yang tampak elegan. Bisa dipastikan semua barang yang melekat di tubuhnya pasti merk ternama.


Rere memutar bola matanya malas, saat ia melihat kelakukan para karyawan yang menurutnya norak. "Ayo, Honey."


Nino memalingkan wajah ke arah berlawanan dengan posisi Rere berdiri, menjadi pusat perhatian saja sudah membuatnya risih. Apalagi kali ini ia harus membawa patung pancoran itu ke dalam. Betapa merananya hidup Nino.


"Lepas tanganmu!" perintah Nino dengan berbisik.


"Enggak mau! Biar mereka tahu kamu milikku."


Pasangan itu memasuki ruang utama, Nino memalingkan wajah ke arah utara. Hal itu yang biasa ia lakukan jika melewati ruang kerja Aluna. Memang temapt Aluna duduk berada tepat di sebelah jendela, sehingga siapapun bisa menyapa wanita itu dari luar. Akan tetapi orang yang dicarinya tidak ada di sana. Entah mengapa hati Nino sedikit kecewa, padahal mereka sudah bukan sepasang kekasih.


"Aku yang tekan lift, nomor lima kan?" tanya Rere antusias, tetap dengan satu tangannya yang bergelayut manja di lengan Nino.


"Ya."


Ketika pintu lift terbuka sebuah kejutan menanti. Manik mata Nino membulat sempurna, di dalam ruangan persegi itu Aluna dan Pak Suhandi tampak sedang mendiskusikan sesuatu. Pria itu sontak mengibas-kibaskan tangan Rere.


"Kamu ...." Rere mengerutkan dahinya ketika ia melihat Nino bersama gadis asing.


Tampak sangat jelas di wajah ayunya, wanita itu pasti menangis semalaman. Manik mata berbentuk almond yang sangat disukai Nino itu tampak sembab dan masih memerah. Aluna segera membuang muka dan berlagak sok sibuk dengan Pak Suhandi. Mereka tak lagi bertegur sapa, meskipun masih ada getaran cinta di antara keduanya.


"Selamat pagi, Pak Nino." Pria tambun di samping Aluna menyapa dengan penuh semangat.


"Pagi, tampaknya Anda sangat sibuk pagi ini," jawab Nino dengan basa-basi.


Pak Suhandi hanya mengangguk, ekor matanya terus melirik, memberi kode pada Nino. Seakan mempertanyakan wanita yang bersama dirinya itu. Namun, Nino tak mempedulikan itu, ia bergegas masuk ke dalam lift. Tidak sanggup rasanya jika ia harus berlama-lama memandang Aluna.